Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Mei 2023, Warga Desa Kawasi Pulau Obi Bisa Mulai Tempati Rumah Baru

Kompas.com, 10 April 2023, 07:00 WIB
Hilda B Alexander

Penulis

HALMAHERA SELATAN, KOMPAS.com - PT Trimegah Bangun Persada atau Harita Nickel menjanjikan warga Desa Kawasi, di Pulau Obi, Kabupaten Halmahera Selatan, Provinsi Maluku Utara, bisa menempati rumah baru mulai Mei 2023.

Project Manager Kawasan Permukiman Baru Desa Kawasi Belly Martin mengatakan, saat ini progres konstruksi sudah mencapai 79,8 persen.

"Konstruksi fisik dimulai pada Juli 2020, dan akan kami selesaikan Mei 2023, supaya bisa segera ditempati warga," ujar Belly, di Pulau Obi, Minggu (9/4/2023).

Harita mengembangkan Kawasan Permukiman Baru Desa Kawasi ini di atas lahan seluas 102 hektar. Mencakup 259 rumah dengan 4 tipe yakni 54, 72, 108, dan 360 meter persegi dengan luas tanah bervariasi mulai 360 hingga 442 meter persegi.

Baca juga: Dukung Transisi Energi, Harita Akan Bangun PLTS 300 MegaWatt

Utilitas dan fasilitas penunjang yang melengkapinya meliputi akses listrik dan air bersih 24 jam, pusat ekonomi, mini market, rumah ibadah (masjid, mushola, dan gereja), sentra pertanian terpadu, pengembangan dan pelatihan komoditas pertanian bernilai tinggi.

Sementara fasilitas pelayanan publik mencakup kantor desa, kantor BUMDES, puskesmas pembantu rawat inap, hibualamo (aula), tempat bermain anak-anak, fasilitas pendidikan (PAUD, Madrasah, SD, SMP, dan SMA), pusat olahraga, lapangan sepakbola, dan lapangan voli.

Fasilitas pendidikan di Kawasan Permukiman Baru Desa Kawasi, Pulau Obi, Kabupaten Halmahera Selatan, Provinsi Maluku Utara, yang menggunakan batako berbahan baku slag nikel.KOMPAS.com/Hilda B Alexander Fasilitas pendidikan di Kawasan Permukiman Baru Desa Kawasi, Pulau Obi, Kabupaten Halmahera Selatan, Provinsi Maluku Utara, yang menggunakan batako berbahan baku slag nikel.
Kemudian pemakaman umum seluas satu hektar, pelabuhan umum, jalan beton dengan right of way (ROW) 7 meter dan 5 meter, serta pengelolaan sampah terpadu.

Adapun material yang digunakan untuk membangun proyek ini merupakan batako berbahan baku slag nikel pada dinding, jalan utama, dan jalan lingkungan.

Menurut Department Head of Community Affairs and Land Management Harita Nickel Latif Supriyadi, dibangunnya Permukiman Baru Desa Kawasi ini karena permukiman lama tidak layak huni, terlalu dekat dengan pantai atau hanya 2 meter, dan terletak pada ketinggian 0-2 meter di atas permukaan laut.

"Sementara Kawasan Permukiman Baru Desa Kawasi jauh lebih aman, karena jarak dari pantai satu kilometer.  Terletak pada ketinggian 16 meter di atas permukaan laut, dan jarak dari perkebunan hanya 600 meter," imbuh Latif.

Baca juga: Dukung Transisi Energi, Harita Akan Bangun PLTS 300 MegaWatt

Pembangunan Kawasan Permukiman Baru Desa Kawasi ini merupakan bagian dari Program Pemberdayaan Masyarakat (PPM) guna memenuhi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (TPB) atau Sustainable Development Goals (SDGs) Nomor 6 Air Bersih dan Sanitasi layak, dan Nomor 11 Kota dan Permukiman Berkelanjutan.

Oleh karena itu, lanjut Latif, warga yang bersedia direlokasi tidak akan dipungut biaya sepeser pun untuk dapat menempati hunian ini.

"Kecuali untuk pengelolaan yang menyangkut kebersihan, keamanan, penggunaan air, dan listrik itu ada iurannya. Rencananya akan dikelola oleh BUMDES atau perangkat kepala desa. Kami sedang mendiskusikan hal ini," ungkap Latif.

Rumah contoh yang menggunakan batako berbahan baku slag nikel di Kawasan Permukiman Baru Desa Kawasi, Minggu (9/4/2023).KOMPAS.com/Hilda B Alexander Rumah contoh yang menggunakan batako berbahan baku slag nikel di Kawasan Permukiman Baru Desa Kawasi, Minggu (9/4/2023).
Harita Nickel sendiri merupakan perusahaan pertambangan dan hilirisasi terintegrasi yang beroperasi di Pulau Obi, Kabupaten Halmahera Selatan, Provinsi Maluku Utara.

Selain Izin Usaha Pertambangan (IUP), Harita telah memiliki pabrik peleburan (smelter) nikel saprolit sejak 2016, dan pada 2021 juga memiliki fasilitas pengolahan dan pemurnian (refinery) nikel limonit di wilayah operasional yang sama.

Kedua fasilitas tersebut hadir untuk mendukung amanat hilirisasi dari Pemerintah dengan memanfaatkan hasil tambang nikel dari PT Trimegah Bangun Persada (TBP) dan PT Gane Permai Sentosa (GPS).

Melalui Halmahera Persada Lygend (HPAL), Harita Nickel menjadi yang pertama di Indonesia dalam pengolahan dan pemurnian nikel limonit (kadar rendah) dengan teknologi high pressure acid lead.

Teknologi ini mampu mengolah nikel limonit yang selama ini tidak dimanfaatkan menjadi produk bernilai strategis, yaitu mixed hydroxide precipitate (MHP).

Dengan tahap proses berikutnya yang juga sedang dikembangkan oleh Harita Nickel, MHP akan diolah lebih lanjut menjadi Nikel Sulfat (NiSO4) dan Kobalt Sulfat (CoSO4) yang merupakan bahan baku baterai kendaraan listrik.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Tanpa Dukungan Kebijakan, Eliminasi Kanker Serviks Tertinggal dari Penanganan Stunting
Tanpa Dukungan Kebijakan, Eliminasi Kanker Serviks Tertinggal dari Penanganan Stunting
LSM/Figur
PBB Pastikan Kerja Sama Global Berlanjut meski AS Tarik Diri
PBB Pastikan Kerja Sama Global Berlanjut meski AS Tarik Diri
Pemerintah
Pertama Kalinya, KNMP di Bulukumba Sulsel Ekspor Hampir 1 Ton Ikan ke Timur Tengah
Pertama Kalinya, KNMP di Bulukumba Sulsel Ekspor Hampir 1 Ton Ikan ke Timur Tengah
Pemerintah
Menanti 100 Tahun Pulihnya Populasi Hiu Paus, Ikan Terbesar Penghuni Nusantara
Menanti 100 Tahun Pulihnya Populasi Hiu Paus, Ikan Terbesar Penghuni Nusantara
Swasta
Belajar Mendengar Tanpa Telinga dari Segelas Kopi
Belajar Mendengar Tanpa Telinga dari Segelas Kopi
Swasta
Respons Laporan ESDM soal Capaian Bauran EBT, IESR: Hanya Bertambah 1,3 GW
Respons Laporan ESDM soal Capaian Bauran EBT, IESR: Hanya Bertambah 1,3 GW
LSM/Figur
Studi: Mayoritas Percaya Perubahan Iklim Hanya Berdampak pada Orang Lain
Studi: Mayoritas Percaya Perubahan Iklim Hanya Berdampak pada Orang Lain
Pemerintah
Studi Temukan Posisi Knalpot Pengaruhi Jumlah Polusi Udara yang Kita Hirup
Studi Temukan Posisi Knalpot Pengaruhi Jumlah Polusi Udara yang Kita Hirup
Pemerintah
Bauran EBT Sektor Listrik Lampaui Target, Kapasitasnya Bertambah 15.630 MW
Bauran EBT Sektor Listrik Lampaui Target, Kapasitasnya Bertambah 15.630 MW
Pemerintah
Kemenhut Bersihkan 1.272 Meter Gelondongan Kayu Pasca Banjir Sumatera
Kemenhut Bersihkan 1.272 Meter Gelondongan Kayu Pasca Banjir Sumatera
Pemerintah
AS Bidik Minyak Venezuela, Importir Terbesar Justru Fokus Transisi Energi
AS Bidik Minyak Venezuela, Importir Terbesar Justru Fokus Transisi Energi
Pemerintah
Kawasan Keanekaragaman Hayati Dunia Terancam, 85 Persen Vegetasi Asli Hilang
Kawasan Keanekaragaman Hayati Dunia Terancam, 85 Persen Vegetasi Asli Hilang
LSM/Figur
Hiper-Regulasi dan Lemahnya Riset Hambat Pengembangan Energi di Indonesia
Hiper-Regulasi dan Lemahnya Riset Hambat Pengembangan Energi di Indonesia
Pemerintah
B50 Dinilai Punya Risiko Ekonomi, IESR Soroti Beban Subsidi
B50 Dinilai Punya Risiko Ekonomi, IESR Soroti Beban Subsidi
LSM/Figur
Studi Ungkap Dampak Pemanasan Global pada Pohon, Tumbuh Lebih Lambat
Studi Ungkap Dampak Pemanasan Global pada Pohon, Tumbuh Lebih Lambat
LSM/Figur
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp 5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau