Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

WWF Indonesia Buka Lowongan Kerja untuk Berbagai Jurusan, Ini Syaratnya

Kompas.com, 2 Maret 2026, 15:21 WIB
Zintan Prihatini,
Ni Nyoman Wira Widyanti

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Yayasan WWF Indonesia kembali membuka lowongan kerja untuk berbagai posisi dari beberapa jurusan dengan penempatan di Jakarta.

Posisi yang dibutuhkan yakni Marine Communication Officer untuk mendukung perencanaan dan pelaksanaan program kerja melalui pengelolaan komunikasi.

Selanjutnya ada pula dokumentasi lapangan, produksi materi komunikasi, serta penyusunan laporan program yang berkualitas dan tepat waktu.

Baca juga:

Lowongan kerja WWF Indonesia

Syarat posisi Marine Communication Officer

Dikutip dari laman resmi WWF Indonesia, persyaratannya antara lain:

  • Pendidikan minimal sarjana jurusan komunikasi, kelautan dan perikanan, atau yang terkait.
  • Memiliki pengetahuan yang kuat tentang isu kelautan dan perikanan, termasuk konservasi laut, kawasan konservasi perairan (MPA/OECM), keanekaragaman hayati laut, perikanan berkelanjutan, dan ekonomi biru.
  • Memahami konteks kebijakan dan tata kelola kelautan di Indonesia, termasuk peran pemerintah, masyarakat pesisir, serta organisasi non-pemerintah.
  • Memiliki pengalaman kerja minimal dua sampai tiga tahun di bidang komunikasi, advokasi, atau publikasi, khususnya pada isu lingkungan, kelautan, atau pembangunan berkelanjutan.
  • Memiliki pengalaman dalam menulis tulisan populer berbasis sains sebagai alat dokumentasi untuk merekam kejadian atau capaian penting dari seluruh lokasi kerja WWF.
  • Berpengalaman dalam mendukung komunikasi program/proyek konservasi, termasuk campaign, media engagement, storytelling lapangan, dan komunikasi berbasis bukti (data dan hasil ilmiah).
  • Memiliki pemahaman yang baik tentang pendekatan komunikasi untuk perubahan perilaku, kampanye publik, dan komunikasi pemangku kepentingan multipihak.
  • Pengalaman bekerja dengan organisasi internasional/NGO, proyek donor, atau program pemerintah menjadi nilai tambah.

Pelamar yang berminat harus mengajukan lamaran selambat-lambatnya awal Maret 2026, tepatnya Minggu (8/3/2026).

Baca juga:

Syarat posisi Marine Spatial Planning Officer

WWF Indonesia membuka loker bagi lulusan S1 dari berbagai jurusan untuk menempati beberapa posisi. Simak syaratnya.DOK. pexels/fauxels. WWF Indonesia membuka loker bagi lulusan S1 dari berbagai jurusan untuk menempati beberapa posisi. Simak syaratnya.

Posisi lain yang dibutuhkan yaitu Marine Spatial Planning Officer, dengan kualifikasi:

  • Minimal S1 jurusan geografi, ilmu kelautan, perikanan, biologi, konservasi laut, pengelolaan sumber daya pesisir atau bidang terkait.
  • Minimal dua-tiga tahun pengalaman kerja di bidang Marine Spatial Planning, SIG, atau perencanaan ruang laut.
  • Pengalaman bekerja dengan pemerintah, pemangku kepentingan multipihak dan masyarakat, termasuk dalam proses perencanaan, konsultasi publik, dan/atau pemetaan partisipatif.
  • Menguasai bahasa Inggris baik lisan maupun tulisan dan kemampuan komunikasi publik yang baik.
  • Mampu bekerja sama dalam tim, dengan supervisi terbatas dan memiliki ketertarikan untuk pekerjaan di lapangan dengan masyarakat.
  • Berkomitmen tinggi untuk upaya-upaya pengelolaan sumber daya kelautan dan perikanan yang berkelanjutan.

"Pelamar yang berminat harus mengajukan lamaran selambat-lambatnya tanggal 7 Maret 2026," tulis WWF.

Sebagai informasi, WWF merupakan organisasi masyarakat madani berbadan hukum Indonesia yang bergerak di bidang konservasi alam dan pembangunan berkelanjutan.

Baca juga:

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
RI Tetapkan RPPEM Nasional 2026-2055 Jadi Peta Jalan Perlindungan Mangrove
RI Tetapkan RPPEM Nasional 2026-2055 Jadi Peta Jalan Perlindungan Mangrove
LSM/Figur
Pertama Kali, Tesla Tetapkan Target Bebas Emisi pada 2040
Pertama Kali, Tesla Tetapkan Target Bebas Emisi pada 2040
Swasta
Ketika Menjaga Hutan Mampu Membuka Jalan Petani ke Pasar Global...
Ketika Menjaga Hutan Mampu Membuka Jalan Petani ke Pasar Global...
Swasta
Di Balik Pemulihan Pascabencana Sumatera, Ada Upaya Pertamina Membangun Ketangguhan Masyarakat
Di Balik Pemulihan Pascabencana Sumatera, Ada Upaya Pertamina Membangun Ketangguhan Masyarakat
BrandzView
Dampak Perubahan Iklim, Kekeringan di Eropa Diprediksi Kian Parah
Dampak Perubahan Iklim, Kekeringan di Eropa Diprediksi Kian Parah
LSM/Figur
Tantangan Sistem Pendingin Pusat Data: Kenaikan Suhu dan Kelembapan Udara
Tantangan Sistem Pendingin Pusat Data: Kenaikan Suhu dan Kelembapan Udara
Pemerintah
Saat Tambak Tak Lagi Harus Meluas demi Kejar Produksi...
Saat Tambak Tak Lagi Harus Meluas demi Kejar Produksi...
Swasta
EY: Perusahaan di Indonesia Mulai Beralih ke Standar Pelaporan Keberlanjutan IFRS
EY: Perusahaan di Indonesia Mulai Beralih ke Standar Pelaporan Keberlanjutan IFRS
Swasta
Pilihan Makanan Berdasarkan Usia Bisa Pengaruhi Emisi Global, Kok Bisa?
Pilihan Makanan Berdasarkan Usia Bisa Pengaruhi Emisi Global, Kok Bisa?
Pemerintah
Pulau Tropis Diintai Risiko Panas Lembap Berbahaya
Pulau Tropis Diintai Risiko Panas Lembap Berbahaya
Pemerintah
CEO KG: Jurnalisme Solusi dan Isu Keberlanjutan Jadi Peluang Baru di Tengah Tren 'News Avoidance'
CEO KG: Jurnalisme Solusi dan Isu Keberlanjutan Jadi Peluang Baru di Tengah Tren "News Avoidance"
LSM/Figur
BRIN Kembangkan Katalis Baru untuk Tingkatkan Efisiensi Produksi Bioavtur
BRIN Kembangkan Katalis Baru untuk Tingkatkan Efisiensi Produksi Bioavtur
LSM/Figur
Permintaan Listrik Dunia Naik, IEA Proyeksikan Emisi Karbon Naik 1 Persen pada 2026
Permintaan Listrik Dunia Naik, IEA Proyeksikan Emisi Karbon Naik 1 Persen pada 2026
Pemerintah
Survei: 92 Persen CFO Hadapi Tekanan untuk Buktikan Nilai Ekonomis AI
Survei: 92 Persen CFO Hadapi Tekanan untuk Buktikan Nilai Ekonomis AI
Pemerintah
Peta Global Ungkap Beban Berat Hutan dan Biodiversitas Akibat Tambang
Peta Global Ungkap Beban Berat Hutan dan Biodiversitas Akibat Tambang
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau