JAKARTA, KOMPAS.com - Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Tito Karnavian menyebutkan bahwa Indonesia berada pada urutan kelima sebagai negara penghasil sampah terbanyak di dunia, berdasarkan data tahun 2024.
Sementara urutan pertama diduduki China lantaran memiliki penduduk terbanyak lalu disusul Amerika Serikat, India, dan Brasil. Indonesia juga menempati urutan ketiga dengan sampah laut tertinggi.
"India nomor satu, China nomor dua, Indonesia nomor tiga. Padahal Amerika nomor dua penghasil sampah total, tetapi untuk sampah plastik di laut Amerika berada di urutan ke-24, artinya kita jauh melampaui Amerika dalam hal membuang sampah plastik ke laut," kata Tito dalam Rapat Koordinasi Nasional Pengelolaan Sampah di Jakarta Selatan, Rabu (25/2/2026).
Baca juga: KLH Sepakati Fatwa MUI Haramkan Buang Sampah ke Sungai dan Laut
Ia turut menyoroti penumpukan sampah di taman nasional, salah satunya Taman Nasional Komodo, Nusa Tenggara Timur, Bunaken, Sulawesi Utara, dan Raja Ampat, Papua Barat Daya. Tito mengakui pemerintah daerah dan pemerintah pusat kerap kali saling lempar tanggung jawab terkait permasalahan sampah laut di lokasi konservasi tersebut.
"Di laut Bunaken, sampahnya banyak datang dari Manado lewat arus, sampah plastik ini terlihat seperti ubur-ubur bagi penyu dan ikan sehingga mereka memakannya dan mati. Sampah juga menutupi terumbu karang yang akhirnya mati, jika terumbu karang mati, ikan hilang, turis pun tidak mau datang lagi," jelas Tito.
"Walikota dan gubernur harus serius mengelola sampah di kota agar tidak berakhir di taman nasional," imbuh dia.
Berdasarkan data Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional (SIPSN) timbulan sampah nasional tahun 2025 mencapai 24,8 juta ton.
Menurut Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), 20 juta ton sampah masuk ke perairan di Indonesia setiap tahunnya. Sekitar 16 juta ton limbah berasal dari lautan dan sisanya yakni 4 juta ton dari aktivitas laut sekitarnya.
Baca juga: TPST Bantargebang Tak Bisa Diperluas Lagi, Sampah Jakarta Dibawa ke Mana?
Pemerintah sendiri menargetkan pengelolaan sampah 100 persen pada 2029. Oleh sebab itu, kata Tito, pemerintah berencana membangun fasilitas Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL) atau Waste to Energ=gy (WtE) di 34 kota/kabupaten.
Mendagri Tito Karnavian menjelaskan permasalahan sampah, Rabu (25/2/2026). "Sekarang ada teknologi mengubah sampah menjadi energi, China sangat maju dalam hal ini. Kota-kota di China yang dulu kotor sekarang bersih seperti Beijing, Shanghai karena mereka membakar sampah menggunakan insinerator untuk menggerakkan turbin listrik," papar Tito.
Danantara Indonesia selaku pengelola menargetkan 1.000 ton sampah terkelola di fasilitas PSEL kota-kota besar.
Empat wilayah aglomerasi yang siap memulai pembangunan PSEL pada Maret 2026 antara lain Denpasar Raya, Yogyakarta Raya, Bogor Raya, dan Bekasi Raya. Di samping itu, masyarakat juga perlu memilah sampah dari rumah menggunakan prinsip reduce, reuse, dan recycle (3R).
"Banyak daerah yang sudah melakukan ini, saya apresiasi Banyuwangi, Sumedang, Kebumen, dan salah satu desa di Sumbawa yang sudah (kelola sampah) berbasis hulu. Masyarakat memisahkan sampah organik dan non organik," ungkap dia.
Baca juga: 2026, Tak Ada Daerah yang Raih Adipura Kencana, Ratusan Lainnya Berstatus Kotor
Sampah non organik, lanjut Tito, dapat dimanfaatkan kembali untuk mendulang rezeki. Sementara sampah sisa makanan bisa dibudidayakan menjadi maggot untuk pakan ternak.
"Tahun ini saya mengalokasikan hampir Rp 1 triliun untuk Dana Insentif Daerah bagi daerah yang berprestasi dalam berbagai kategori termasuk penanganan stunting dan kebersihan. Daerah terbaik bisa mendapat Rp 2,5 hingga Rp 5 miliar," ujar Tito.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya