Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

"Green Jobs", Bidang Pekerjaan Layak yang Menjawab Masalah Lingkungan

Kompas.com, 16 Agustus 2023, 16:00 WIB
Hilda B Alexander

Penulis

KOMPAS.com - Pekerjaan yang layak dan ramah lingkungan atau green jobs telah menjadi lambang perekonomian dan masyarakat yang lebih berkelanjutan.

Ia juga dianggap mampu melestarikan lingkungan untuk generasi sekarang dan masa mendatang secara lebih layak dan inklusif bagi semua orang di semua negara.

Ide di balik pertumbuhan hijau dan pembangunan bersih yang sebagian besar disajikan dalam situasi yang menguntungkan bagi lingkungan hidup dan pertumbuhan ekonomi.

Namun dalam pelaksanaannya, hanya sedikit perhatian yang diberikan pada dimensi sosial dari pembangunan berkelanjutan, terutama implikasinya terhadap tenaga kerja dan pekerjaan layak.

Baca juga: Indonesia-Korsel Sepakat Mendukung Investasi Ramah Lingkungan

Penurunan mutu lingkungan, termasuk kemerosotan dan berkurangnya sumber daya alam merupakan ancaman yang paling serius terhadap perekonomian dan pembangunan yang lebih luas dan berkelanjutan.

Pada masa mendatang, persoalan ini menjadi lebih memburuk akibat dampak perubahan iklim, yang sudah mulai dirasakan di berbagai negara berkembang.

Untuk jangka menengah dan panjang, masalah perubahan iklim ini dapat menimbulkan gangguan serius terhadap kegiatan sosial ekonomi di berbagai sektor di dunia.

Adaptasi serta upaya untuk mencegah perubahan iklim itu sendiri dengan mengurangi emisi memiliki implikasi yang sangat luas terhadap pembangunan sosial ekonomi, pola produksi dan konsumsi serta terhadap pekerjaan, pendapatan dan upaya pengurangan kemiskinan.

Implikasi ini memiliki risiko sekaligus peluang besar bagi masyarakat pekerja di dunia.

Berdasarkan laporan yang disusun Program Lingkungan Hidup PBB sesuai Prakarsa Green Jobs bersama dengan Organisasi Perburuhan Internasional (ILO), semakin banyak green jobs yang akan diciptakan sebagai upaya untuk menciptakan perekonomian rendah karbon dan lebih berkelanjutan.

Baca juga: Indonesia-Korsel Sepakat Mendukung Investasi Ramah Lingkungan

Setiap negara memiliki peluang untuk menciptakan lebih banyak green jobs yaitu pekerjaan bermutu yang dapat membantu menciptakan perekonomian yang ramah lingkungan dan rendah karbon.

Peluang-peluang ini perlu dinilai secara tepat dan dieksploitasikan sepenuhnya melalui pelaksanaan perekonomian hijau yang tepat.

Green jobs dimaksudkan untuk mengurangi dampak lingkungan yang diakibatkan oleh perusahaan dan sektor ekonomi, hingga ke tingkat yang mampu melestarikan lingkungan hidup.

Secara khusus, hal ini mencakup pekerjaan ?yang dapat membantu melindungi ekosistem dan biodiversitas; mengurangi energi, materi, dan konsumsi air melalui strategi yang memiliki tingkat efisiensi tinggi; dekarbonisasi perekonomian; serta mengurangi atau mencegah pembuatan segala bentuk limbah dan polusi.

Green jobs di negara berkembang dan sedang berkembang mencakup lapangan pekerjaan bagi para manajer, ilmuwan dan teknisi dan berbagai pihak dapat memperoleh manfaat dari mereka seperti kalangan remaja, petani, penduduk desa dan pen- duduk perkampungan miskin.

Namun ada banyak jenis pekerjaan yang pada prinsipnya hijau namun pada praktiknya tidak. Hal ini dikarenakan kerusakan lingkungan akibat terjadinya praktik-praktik yang salah.

Baca juga: Mahasiswa UI Diajak Peduli Keberlanjutan Sosial dan Lingkungan

Di samping itu, bukti menunjukkan bahwa green jobs tidak secara otomatis merupakan pekerjaan layak. Banyak pekerjaan yang berhubungan dengan lingkungan merupakan pekerjaan yang kotor, berbahaya dan sulit.

Pekerjaan di sektor industri seperti daur ulang dan pengolahan limbah, energi biomass dan konstruksi cenderung bersifat berbahaya dan berupah kecil.

Oleh karena itu, kebijakan tentang green jobs perlu difokuskan pada upaya untuk mengalihkan pekerjaan-pekerjaan ini menjadi pekerjaan yang hijau dan bermutu serta mampu melestarikan lingkungan hidup.

Apabila green jobs dijadikan jembatan untuk menciptakan masa depan yang benar-benar berkelanjutan, maka perubahan perlu dilakukan.

Oleh karena itu, green jobs harus berupa pekerjaan yang layak. Pekerjaan yang layak dan ramah lingkungan secara efektif berhubungan dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan pertama (pengurangan kemiskinan) dan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan delapan (pekerjaan layak dan pertumbuhan ekonomi) yang saling melengkapi dan bukan bertentangan satu sama lain.

Prakarsa Green Jobs

Prakarsa Green Jobs adalah kemitraan yang dibentuk tahun 2007 antara ILO, Program Lingkungan PBB atau United Nations Environment Programme dan Konfederasi Serikat Pekerja Internasional (International Trade Union Confederation).

Organisasi Pengusaha Internasional (International Organization of Employers) bergabung dengan prakarsa ini tahun 2008.?

Baca juga: Isu Lingkungan dari Aktivitas Perusahaan Diminati dan Dirasakan Pembaca

Prakarsa ini diluncurkan untuk menggalang pemerintah, pengusaha dan pekerja agar terlibat langsung dalam dialog tentang kebijakan terkait dan program-program efektif yang mampu menciptakan perekonomian yang hijau melalui green jobs dan pekerjaan layak untuk semua.

Bidang-bidang pekerjaan yang berpotensi menjawab masalah perubahan iklim serta masalah-masalah lingkungan lain antara lain:

  • Memulihkan stok dan konstruksi hijau yang ada
  • Pengolahan limbah dan daur ulang
  • Transportasi umum
  • Pertanian dan produksi pangan yang berkelanjutan
  • Kehutanan yang berkelanjutan (bersertifikasi) dan mencegah deforestasi
  • Pengelolaan manufaktur dan rantai pasokan
  • Suplai dan efisiensi energi
  • Pelestarian biodiversitas dan ekosistem

Contoh Green Jobs di Kawasan Asia Pasifik

  • Profesional yang bergerak di bidang jasa pemulihan bangunan
  • Para penanam bakau dalam program adaptasi iklim
  • Teknisi sistem energi matahari
  • Spesialis eksplorasi panas bumi
  • Petani organik
  • Pendaur ulang limbah dengan kondisi kerja yang layak di koperasi yang terorganisasi dengan baik
  • Pemandu wisata ekoturisme lokal
  • Pekerja di bidang prasarana umum di daerah pesisir pantai
  • Pekerja restorasi lahan basah
  • Auditor energi di industri pengolahan udang 
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
 50 Persen Populasi Hewan yang Bermigrasi di Dunia Turun Drastis
50 Persen Populasi Hewan yang Bermigrasi di Dunia Turun Drastis
Pemerintah
KPAI: Pembatasan Akun Medsos Anak di Bawah 16 Tahun Cegah Pornografi hingga Cyberbullying
KPAI: Pembatasan Akun Medsos Anak di Bawah 16 Tahun Cegah Pornografi hingga Cyberbullying
Pemerintah
Bumi Memanas Dua Kali Lipat Lebih Cepat dari Dekade Sebelumnya
Bumi Memanas Dua Kali Lipat Lebih Cepat dari Dekade Sebelumnya
Pemerintah
Cuaca Ekstrem Masih Berlanjut, BMKG Pantau Tiga Bibit Siklon Tropis di Selatan RI
Cuaca Ekstrem Masih Berlanjut, BMKG Pantau Tiga Bibit Siklon Tropis di Selatan RI
Pemerintah
Gelombang Panas Makin Sering, Risiko Kekeringan Mendadak Ikut Meningkat
Gelombang Panas Makin Sering, Risiko Kekeringan Mendadak Ikut Meningkat
LSM/Figur
Peneliti Temukan Mikroplastik pada Kedalaman 2.450 Meter di Laut Indonesia
Peneliti Temukan Mikroplastik pada Kedalaman 2.450 Meter di Laut Indonesia
Pemerintah
Perang dan Krisis Iklim: Dampak Ekologis Eskalasi Konflik Timur Tengah
Perang dan Krisis Iklim: Dampak Ekologis Eskalasi Konflik Timur Tengah
Pemerintah
Krisis Iklim Ubah Jalur Migrasi Penyu Tempayan, Gap Rasio Jenis Kelamin Ancam Keberlanjutan Populasi
Krisis Iklim Ubah Jalur Migrasi Penyu Tempayan, Gap Rasio Jenis Kelamin Ancam Keberlanjutan Populasi
LSM/Figur
Peran Serangga dan Laba-Laba di Negara Maju Diabaikan
Peran Serangga dan Laba-Laba di Negara Maju Diabaikan
LSM/Figur
Perjanjian Dagang dengan AS Bikin RI Bergantung Minyak dari 'Paman Sam'
Perjanjian Dagang dengan AS Bikin RI Bergantung Minyak dari "Paman Sam"
LSM/Figur
Soal Tambang Martabe, NGO Desak Pemerintah Fokus Pemulihan Lingkungan ketimbang Pengambilalihan
Soal Tambang Martabe, NGO Desak Pemerintah Fokus Pemulihan Lingkungan ketimbang Pengambilalihan
LSM/Figur
Orang Kaya Dubai Kabur Naik Jet Pribadi Saat Konflik AS-Israel Vs Iran, Bikin Emisi Naik
Orang Kaya Dubai Kabur Naik Jet Pribadi Saat Konflik AS-Israel Vs Iran, Bikin Emisi Naik
LSM/Figur
3 Mega Tren Dunia Versi Schneider Electric, Transisi Energi hingga AI
3 Mega Tren Dunia Versi Schneider Electric, Transisi Energi hingga AI
Swasta
Bahan Kimia Abadi PFAS Bisa Percepat Penuaan
Bahan Kimia Abadi PFAS Bisa Percepat Penuaan
LSM/Figur
Jepara Siap Gelar JIFBW 2026, Pembeli Diajak Kunjungi Perajin Furnitur
Jepara Siap Gelar JIFBW 2026, Pembeli Diajak Kunjungi Perajin Furnitur
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau