Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Kompas.com, 24 Agustus 2023, 20:00 WIB
Add on Google
Hilda B Alexander

Penulis

JAKARTA, KOMPAS.com - Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan Barat (Kalbar) mengalami peningkatan pada bulan Juli 2023 seluas 6.681,95 hektar.

Rinciannya, karhutla di lahan gambut seluas 1.261,29 hektar, dan di lahan mineral seluas 5.420,66 hektar. Karhutla Kalbar paling luas terjadi di Kabupaten Sambas, Kapuas Hulu, Sintang, dan Sanggau.

Untuk mengatasi karhutla yang menyebabkan Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) meningkat ini, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) membentuk sinergi dan koordinasi dengan sejumlah pemangku kepentingan.

Baca juga: Ada 6 Titik Rawan Karhutla di Tol Trans-Sumatera, Ini Upaya HK

Bahkan, Direktur Pengendalian Kebakaran Hutan dan Lahan KLHK Thomas Nifinluri melakukan pemantauan langsung dan koordinasi pengendalian karhutla.

Untuk memperkuat sinergitas para pihak dalam pengendalian karhutla juga dilaksanakan Rapat Koordinasi Pengendalian Karhutla di Kantor Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan Provinsi Kalimantan Barat, Selasa (22/8/2023).

Thomas mengungkapkan, saat ini organisasi Manggala Agni, Satgas Darat dan Satgas Udara Provinsi Kalbar masih melakukan pemadaman di beberapa titik.

“Saat ini kita sedang berjuang menghadapi karhutla sebagai dampak El Nino yang menyebabkan curah hujan semakin rendah hingga memicu mudahnya terjadi karhutla serta dampak kekeringan lainnya. Kami mengharapkan kerjasama dari pemerintah daerah dan semua pihak untuk mengatasi kejadian karhutla,” tutur Thomas.

Koordinasi ini dilaksanakan untuk meningkatkan upaya pengendalian dan mengantisipasi karhutla. Partisipasi dan kolaborasi dengan masyarakat sangat penting untuk pengendalian karhutla.

Untuk itu, dalam rangka pemberdayaan masyarakat, pihaknya mendorong program perhutanan sosial dan Masyarakat Peduli Api dalam rangka mendukung program pemerintah provinsi yaitu Indeks Desa Mandiri.

Baca juga: El Nino Berpotensi Sebabkan Karhutla Lebih Besar

Selain pengerahan Manggala Agni untuk pemadaman, KLHK juga telah melakukan water bombing dan Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC).

Sampai Selasa (22/8/2023) water bombing telah dilakukan sebanyak 19 sortie dengan total 1,25 juta liter air untuk pemadaman.

Selain itu, TMC juga telah dilaksanakan sebanyak 40 sortie dengan total garam yang disemai sebanyak 38,3 ton. TMC Tahap III akan dimulai pada 23 Agustus-2 September 2023.

“Kami sangat mengharapkan mobilisasi anggota Tim Satgas lebih banyak dan konsisten di lapangan selama masa krisis karhutla di Kalimantan Barat. Kami mengatisipasi kemungkinan potensi terjadimya asap lintas batas,” harap Thomas.

Untuk diketahui, Provinsi Kalbar telah menetapkan Status Siaga Darurat Bencana Asap melalui Keputusan Gubernur Kalimantan Barat No. 355/BPBD/2023 tentang Status Siaga Darurat Penanganan Bencana Asap Akibat Karhutla di Kalimantan Barat Tahun 2023.

Berbagai upaya penanggulangan telah dilakukan baik melalui operasi pemadaman darat maupun udara. Koordinasi antar instansi dan lembaga, TNI/Polri, Organisasi Kemasyarakatan, Lembaga Adat dan Relawan sudah dilaksanakan dan langsung melakukan upaya pemadaman di lapangan.

Pemerintah Kota Pontianak dan Pemerintah Kabupaten Kubu Raya telah mengambil kebijakan pembelajaran online dari rumah bagi siswa TK/PAUD, SD dan SMP. Kebijakan ini muncul sebagai respon atas kualitas udara yang semakin memburuk akibat terpaan kabut asap.

 

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Sering Tak Disadari Penyelam, Kebiasaan Ini Bisa Rusak Terumbu Karang
Sering Tak Disadari Penyelam, Kebiasaan Ini Bisa Rusak Terumbu Karang
Pemerintah
BRIN Temukan 1.583 Spesies Baru Selama Hampir Enam Dekade Terakhir
BRIN Temukan 1.583 Spesies Baru Selama Hampir Enam Dekade Terakhir
Pemerintah
Boros Energi, Ahli Desak Konsumen Gunakan Pendingin Alternatif
Boros Energi, Ahli Desak Konsumen Gunakan Pendingin Alternatif
Pemerintah
Meriahkan Waisak 2026, DKI Jakarta Wujudkan Kota Inklusif lewat 'Illumination of Jakarta, Glow of Peace'
Meriahkan Waisak 2026, DKI Jakarta Wujudkan Kota Inklusif lewat "Illumination of Jakarta, Glow of Peace"
Pemerintah
Amazon, Google, Meta, dan Microsoft Kompak Investasi Teknologi Ramah Lingkungan
Amazon, Google, Meta, dan Microsoft Kompak Investasi Teknologi Ramah Lingkungan
Pemerintah
Batasi Medsos Dinilai Tak Efektif, PBB Desak Platform Lebih Aman untuk Anak
Batasi Medsos Dinilai Tak Efektif, PBB Desak Platform Lebih Aman untuk Anak
Pemerintah
Pagi Ini, Jakarta Masuk 10 Kota Paling Berpolusi di Dunia
Pagi Ini, Jakarta Masuk 10 Kota Paling Berpolusi di Dunia
Swasta
Perkuat Biodiversitas, Nuanu Creative City Tanam 1.000 Pohon Lokal
Perkuat Biodiversitas, Nuanu Creative City Tanam 1.000 Pohon Lokal
LSM/Figur
Bukit Asam Catat Lonjakan Emisi Operasional Batu Bara dalam 5 Tahun Terakhir
Bukit Asam Catat Lonjakan Emisi Operasional Batu Bara dalam 5 Tahun Terakhir
BUMN
Perempuan Lebih Rentan di Lingkungan Kerja 'Toxic'
Perempuan Lebih Rentan di Lingkungan Kerja "Toxic"
Swasta
Studi Sebut Swasembada Saja Tak Cukup Cegah Krisis Pangan Global
Studi Sebut Swasembada Saja Tak Cukup Cegah Krisis Pangan Global
Pemerintah
Suhu Bumi Diprediksi Naik 1,9 Derajat C pada Tahun 2030
Suhu Bumi Diprediksi Naik 1,9 Derajat C pada Tahun 2030
Pemerintah
Emiten Energi Fosil Raup Keuntungan Fantastis, Saatnya 'Windfall Tax' Diterapkan
Emiten Energi Fosil Raup Keuntungan Fantastis, Saatnya "Windfall Tax" Diterapkan
LSM/Figur
Pengamat: Lingkungan Kerja 'Toxic' karena Supervisor jadi 'Raja Kecil'
Pengamat: Lingkungan Kerja "Toxic" karena Supervisor jadi "Raja Kecil"
Swasta
Dana Iklim Negara Maju Melampaui Target, Capai Lebih Rp1.787 Triliun
Dana Iklim Negara Maju Melampaui Target, Capai Lebih Rp1.787 Triliun
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau