Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Kompas.com, 17 Oktober 2023, 08:00 WIB
Add on Google
Danur Lambang Pristiandaru

Penulis

KOMPAS.com - Pelaksanaan World Water Forum (WWF) ke-10 disebut menjadi momentum bagi Indonesia dan negara-negara kepulauan untuk meningkatkan akses ketersediaan air minum bagi masyarakat.

Hal tersebut disampaikan Juru Bicara Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Endra S Atmawidjaja di Jakarta, Senin (16/10/2023).

Dia menuturkan, melalui gelaran WWF ke-10, Indonesia berperan menjadi fasilitator sekaligus salah satu negara yang berkomitmen mencapai target 100 persen akses air minum 2030.

Baca juga: Peningkatan Emisi GRK Dapat Picu Krisis Air

Pernyataan tersebut disampaikan Endra dalam diskusi daring Forum Merdeka Barat 9 Kementerian Komunikasi dan Informatika yang bertajuk “Kolaborasi Global Antisipasi Krisis Air Dampak Perubahan Iklim”.

Menurut Endra, memberikan akses air minum kepada seluruh lapisan masyarakat merupakan salah satu tujuan dalam Sustainable Development Goals (SDGs).

Tujuan nomor enam dalam SDGs adalah air bersih dan sanitasi layak, yang menyatakan bahwa akses air minum adalah hak asasi manusia yang penting untuk kehidupan dan kesehatan manusia.

Air minum yang aman dan bersih diperlukan untuk minum, memasak, dan mandi. Sementara air yang tidak aman dapat menyebabkan berbagai penyakit seperti diare, kolera, dan disentri.

Baca juga: Empat Isu Air Penting Dibahas pada WWF 2024

“Namun beberapa negara masih belum on the line atas segala tantangan yang mereka dihadapi jadi perlu dalam event ini kita berperan menanamkan pentingnya kolaborasi untuk menjawab tantangan itu,” kata Endra, sebagaimana dilansir Antara.

Berdasarkan data dari Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB), pada 2022 ada sekitar 2,2 miliar orang di dunia tidak memiliki akses ke air minum yang aman.

Dari jumlah tersebut, sekitar 673 juta orang hidup di Asia Selatan dan 263 juta orang hidup di Afrika Sub-Sahara.

PBB memprediksi, jumlah masyarakat dunia yang tidak mendapatkan akses terhadap air minum berpotensi akan bertambah atas kondisi krisis air akibat perubahan iklim ekstrem yang berlangsung dewasa ini.

Baca juga: Smart Pumping, Upaya Konservasi Sumber Daya Air dalam Pemenuhan Standar Industri Hijau

Endra menyebutkan, dampak krisis air tersebut tidak menutup kemungkinan juga terjadi di Indonesia.

Sebagai tuan rumah pelaksanaan WWF ke-10, Indonesia mengundang pimpinan dan perwakilan dari sekitar sebanyak 172 negara peserta untuk membahas dan mencari solusi ancaman krisis air dalam acara yang sedianya berlangsung di Bali pada Mei 2024.

Untuk itu, pemerintah Indonesia telah meluncurkan berbagai program untuk meningkatkan akses air minum seperti program Pamsimas dan program Sanitasi Total Berbasis Masyarakat (STBM).

Program Pamsimas adalah program pemerintah untuk meningkatkan akses air minum dan sanitasi di pedesaan. Program ini dinilai berhasil meningkatkan akses air minum di 58.000 desa di Indonesia.

Baca juga: Petrokimia Gresik Dukung Pengembangan Energi Bersih Tanah Air

Sedangkan STBM adalah program pemerintah untuk meningkatkan akses sanitasi di seluruh Indonesia.

Program ini bertujuan untuk menghentikan praktik buang air besar sembarangan di tempat terbuka.

“Kita juga perlu melihat bagaimana inovasi dan kreatifitas negara lain mengatasi krisis air ini di negara mereka,” ucap Endra.

Baca juga: Pemerintah Perlu Galakkan Gerakan Hemat Air untuk Tangani Krisis

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Jerat Listrik Ancam Gajah Sumatera, Koridor Habitat Kian Terfragmentasi
Jerat Listrik Ancam Gajah Sumatera, Koridor Habitat Kian Terfragmentasi
LSM/Figur
Proyek PLTP Lahendong 15 MW Capai Kesepakatan Tarif, Siap Masuk Tahap Pengembangan
Proyek PLTP Lahendong 15 MW Capai Kesepakatan Tarif, Siap Masuk Tahap Pengembangan
Pemerintah
Perusahaan Harus Jadikan Keberlanjutan Nyawa Bisnis di Tengah Ketidakpastian
Perusahaan Harus Jadikan Keberlanjutan Nyawa Bisnis di Tengah Ketidakpastian
Swasta
BPDP Kemenkeu Buka Program Hibah Riset Bioenergi hingga Pengolahan Limbah
BPDP Kemenkeu Buka Program Hibah Riset Bioenergi hingga Pengolahan Limbah
Pemerintah
IEA: Perang AS-Israel VS Iran Akan Ubah Total Sistem Energi Global
IEA: Perang AS-Israel VS Iran Akan Ubah Total Sistem Energi Global
Pemerintah
India Targetkan Produksi Baja 400 Juta Ton Sambil Pangkas Emisi 25 Persen
India Targetkan Produksi Baja 400 Juta Ton Sambil Pangkas Emisi 25 Persen
Swasta
Perubahan Iklim Picu Gangguan Produktivitas Karyawan, Kok Bisa?
Perubahan Iklim Picu Gangguan Produktivitas Karyawan, Kok Bisa?
Pemerintah
50 Persen Emisi Gas Rumah Kaca dari Industri, Ancam Kesehatan dan Lingkungan
50 Persen Emisi Gas Rumah Kaca dari Industri, Ancam Kesehatan dan Lingkungan
LSM/Figur
Berawal dari Mati Lampu, Siswa MAN 19 Jakarta Sulap Minyak Jelantah Jadi Listrik
Berawal dari Mati Lampu, Siswa MAN 19 Jakarta Sulap Minyak Jelantah Jadi Listrik
LSM/Figur
Lonjakan EBT Bikin Ekspor China Bertahan Saat Pasokan Energi Terguncang
Lonjakan EBT Bikin Ekspor China Bertahan Saat Pasokan Energi Terguncang
Pemerintah
Saat Ibu Bekerja, Anak Perempuan Bisa Bermimpi Lebih Tinggi
Saat Ibu Bekerja, Anak Perempuan Bisa Bermimpi Lebih Tinggi
Swasta
Ecoton Temukan Mikroplastik Dalam Darah dan Sperma Manusia
Ecoton Temukan Mikroplastik Dalam Darah dan Sperma Manusia
LSM/Figur
Karbon Biru, Benteng Ekosistem Maritim Indonesia
Karbon Biru, Benteng Ekosistem Maritim Indonesia
Pemerintah
GHG Protocol: Emisi dari Sampah Pasca-Konsumsi Masuk Scope 3 Perusahaan
GHG Protocol: Emisi dari Sampah Pasca-Konsumsi Masuk Scope 3 Perusahaan
Swasta
Koalisi Soroti Kebijakan Perizinan Perikanan, Dinilai Masih Membebani Nelayan Kecil
Koalisi Soroti Kebijakan Perizinan Perikanan, Dinilai Masih Membebani Nelayan Kecil
LSM/Figur
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau