Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Munawar Khalil N
Aparatur Sipil Negara

Aparatur Sipil Negara

Urgensi Regulasi Tekan "Food Waste"

Kompas.com, 28 November 2023, 10:56 WIB

Artikel ini adalah kolom, seluruh isi dan opini merupakan pandangan pribadi penulis dan bukan cerminan sikap redaksi.

Anda bisa menjadi kolumnis !
Kriteria (salah satu): akademisi, pekerja profesional atau praktisi di bidangnya, pengamat atau pemerhati isu-isu strategis, ahli/pakar di bidang tertentu, budayawan/seniman, aktivis organisasi nonpemerintah, tokoh masyarakat, pekerja di institusi pemerintah maupun swasta, mahasiswa S2 dan S3. Cara daftar baca di sini

SUATU pagi, di restoran salah satu hotel berbintang, saya menemukan imbauan yang dipasang di antara jejeran makanan: "Berpikir sebelum membuang, begitu banyak makanan yang kita hasilkan menjadi sia-sia. Jadi, harap ambil makanan secukupnya dan hindari makanan yang kita ambil terbuang sia-sia."

Menurut saya, pesan ini berada di tempat yang tepat. Di tengah jejeran makanan enak telah menanti untuk disantap. Waktunya memenuhi keinginan naluriah sebagai manusia.

Namun terkadang kita menjadi lupa diri hingga deretan makanan yang nampaknya sangat cantik terlihat dan mengundang selera itu, membuat kita kalap dan mengambil makanan melebihi porsi yang biasanya dikonsumsi.

Pada akhirnya, yang tersisa di piring bukan saja sendok dan garpu, melainkan makanan yang tidak termakan. Ujungnya bisa ditebak, sisa makanan itu akan berakhir di tempat sampah alias food waste.

Darurat "food waste"

Sampah pangan atau food waste menjadi isu penting yang menarik dibahas karena kontribusinya terhadap timbulan sampah bisa mencapai 40 persen.

Menurut The Economist Intelligence Unit (IEU), Indonesia merupakan negara dengan tingkat food waste terbesar kedua di dunia setelah Arab Saudi.

Rata-rata food waste yang dihasilkan di negara kita mencapai 300 kg per orang per tahun. Sedangkan Saudi Arabia sebesar 427 kg per orang per tahun dan Amerika Serikat yang menempati urutan ketiga mencapai 277 kg per orang per tahun.

Hasil kajian Bappenas tahun 2021 juga menemukan dalam kurun waktu tahun 2000 hingga 2019, Indonesia menghasilkan 23-48 juta ton sampah makanan per tahun.

Jumlah sampah makanan tersebut sepatutnya dapat memberi makan 61-125 juta orang atau sama dengan 29-47 persen populasi rakyat Indonesia.

Sedangkan secara ekonomi, food loss dan food waste mengakibatkan kerugian sekitar Rp 551 triliun atau setara dengan 36,6 miliar dollar AS.

Sementara itu, dampak lingkungan yang dihasilkan dari sampah pangan diperkirakan sebesar 1.702,9 Mt CO2 ek, dengan rata-rata kontribusi per tahun setara dengan 7,29 persen emisi gas rumah kaca Indonesia yang memengaruhi pemanasan global.

Dari paparan data tersebut menunjukkan Indonesia harus memiliki upaya kuat dalam menekan food loss dan waste karena bukan saja berdampak pada aspek ketahanan pangan dan gizi, tetapi juga berdampak pada ekonomi dan lingkungan.

Food loss merupakan sampah pangan dari bahan pangan yang masih mentah, namun sudah tidak bisa diolah menjadi makanan dan akhirnya terbuang begitu saja. Food loss bisa terjadi pada saat pangan tersebut dipanen, di industri, hingga di rumah tangga.

Sementara food waste terjadi pada saat pangan tersebut telah siap dikonsumsi, tetapi terbuang begitu saja.

Gerakan tekan "food waste"

Pesan untuk tidak membuang-buang makanan atau tidak boros pangan sebetulnya sudah banyak dilakukan oleh berbagai lapisan masyarakat.

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Dampak Lingkungan AI Kian Besar, Haruskah Berhenti Menggunakannya?
Dampak Lingkungan AI Kian Besar, Haruskah Berhenti Menggunakannya?
Pemerintah
Fenomena 'Sticky Floor', Ketika Perempuan Sulit Naik Jabatan di Dunia Kerja
Fenomena "Sticky Floor", Ketika Perempuan Sulit Naik Jabatan di Dunia Kerja
Swasta
Bersiap untuk Kelangkaan Air, Korsel Kembangkan Industri Desalinasi
Bersiap untuk Kelangkaan Air, Korsel Kembangkan Industri Desalinasi
Pemerintah
Pendapatan Nelayan Pantura Menurun, Tekanan Lingkungan dan Biaya Melaut Meningkat
Pendapatan Nelayan Pantura Menurun, Tekanan Lingkungan dan Biaya Melaut Meningkat
Pemerintah
Australia Lebih Banyak Danai Kerusakan Alam Daripada untuk Konservasi
Australia Lebih Banyak Danai Kerusakan Alam Daripada untuk Konservasi
Pemerintah
Konflik AS-Israel Vs Iran Bukti Dunia Rentan Ketergantungan Energi Fosil
Konflik AS-Israel Vs Iran Bukti Dunia Rentan Ketergantungan Energi Fosil
Pemerintah
Populasi Salmon Chum di Jepang Menurun, Ada Apa?
Populasi Salmon Chum di Jepang Menurun, Ada Apa?
LSM/Figur
4,9 Juta Anak di Dunia Tewas akibat Mal Nutrisi hingga Penyakit Menular
4,9 Juta Anak di Dunia Tewas akibat Mal Nutrisi hingga Penyakit Menular
Pemerintah
Apa Saja Faktor Pemicu Perubahan Iklim di Asia? Ilmuwan Beri Penjelasan
Apa Saja Faktor Pemicu Perubahan Iklim di Asia? Ilmuwan Beri Penjelasan
LSM/Figur
Emisi Turun Tipis, Jerman Dinilai Kehilangan Momentum Capai Target Iklim
Emisi Turun Tipis, Jerman Dinilai Kehilangan Momentum Capai Target Iklim
Pemerintah
Bersiap Hadapi Dampak Konflik Timur Tengah, Korsel Pastikan Stabilnya Pasokan Energi Alternatif
Bersiap Hadapi Dampak Konflik Timur Tengah, Korsel Pastikan Stabilnya Pasokan Energi Alternatif
Pemerintah
Bahan Kimia Abadi PFAS Bisa Ganggu Pertumbuhan Tulang Anak
Bahan Kimia Abadi PFAS Bisa Ganggu Pertumbuhan Tulang Anak
LSM/Figur
Jepang Mulai Cari Energi Alternatif akibat Krisis Selat Hormuz
Jepang Mulai Cari Energi Alternatif akibat Krisis Selat Hormuz
Pemerintah
Misteri Ratusan Kura-kura Mati Massal di Kanada, akibat Krisis Iklim?
Misteri Ratusan Kura-kura Mati Massal di Kanada, akibat Krisis Iklim?
LSM/Figur
Pemerintah Jajaki Pendanaan dari Perdagangan Karbon untuk Biayai Taman Nasional
Pemerintah Jajaki Pendanaan dari Perdagangan Karbon untuk Biayai Taman Nasional
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau