Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Pulau Pari Terancam Hilang, Walhi-Dompet Dhuafa Serukan Penyelamatan

Kompas.com, 10 Juli 2024, 12:00 WIB
Faqihah Muharroroh Itsnaini,
Hilda B Alexander

Tim Redaksi

PULAU PARI, KOMPAS.com - Warga Pulau Pari di Kepulauan Seribu, Jakarta, merupakan salah satu dari masyarakat pulau kecil di pesisir yang menghadapi ancaman.

Ancaman tersebut datang dari krisis iklim yang menyebabkan abrasi dan berbagai bencana lain seperti banjir rob, hingga acaman dari perusahaan-perusahaan yang ingin mengambil alih kawasan. 

Direktur Eksekutif Nasional Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) Zenzi Suhadi mengatakan, perjuangan warga Pulau Pari melawan krisis iklim dan perusahaan selama 10 tahun terakhir telah menginspirasi banyak pihak. 

"Pulau Pari ini bagi Walhi adalah potret perjuangan masyarakat pesisir, masyarakat pulau kecil Indonesia, dan Indonesia ini adalah negara kepulauan. Masyarakat Pulau Pari menghadapi dua ancaman besar, dan mereka berkomitmen menghadapi ancaman itu," ujar Zenzi saat ditemui di Pantai Rengge, Pulau Pari, Senin (8/7/2024). 

Baca juga: Lawan Abrasi, Dompet Dhuafa-Walhi Tanam 1.000 Mangrove di Pulau Pari

Sejak lama, Pulau Pari telah terdampak oleh krisis iklim. Pulau ini semakin sering dihantam banjir rob, kenaikan air laut, cuaca ekstrem, serta gelombang tinggi.

Menurut catatan Walhi, luasan Pulau Pari telah hilang sebesar 11 persen. Dari luas sebesar 42 hektar, kini hanya tinggal 41,4 hektar yang tersisa.

Krisis iklim di Pulau Pari juga mengakibatkan hilangnya hasil tangkapan ikan secara drastis. Nelayan telah kehilangan tangkapan lebih dari 70 persen jika dibandingkan dengan sebelum terdampak krisis iklim.

"Dampak dari perubahan iklim, di mana setiap tahun, Pulau Pari berkurang luasnya karena proses abrasi dan mereka mempertahankan pulau ini dengan tidak henti-hentinya menanam mangrove," imbuhnya.

Perlu perhatian pemerintah

Ancaman lain yang masih dirasakan hingga saat ini, Zenzi mengungkapkan, adalah rencana dari perusahaan swasta untuk merampas pulau mereka.

Direktur Eksekutif Nasional Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) Zenzi Suhadi saat memberikan sambutan dalam penandatanganan kerjasama perlindungan dan pemulihan pesisir antara Walhi dengan Disaster Management Center (DMC) Dompet Dhuafa di Pulau Pari, Senin (8/7/2024).KOMPAS.com/FAQIHAH MUHARROROH ITSNAINI Direktur Eksekutif Nasional Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) Zenzi Suhadi saat memberikan sambutan dalam penandatanganan kerjasama perlindungan dan pemulihan pesisir antara Walhi dengan Disaster Management Center (DMC) Dompet Dhuafa di Pulau Pari, Senin (8/7/2024).
Sejak 2016, PT Bumi Pari Asri mengklaim kepemilikan pulau sebesar 90 persen dan melakukan beberapa intimidasi.

Mulai dari somasi kepada warga, larangan warga mendirikan/merenovasi rumah, memaksa warga menandatangani surat pernyataan, hingga menyurati warga untuk bekerja sama.

"Mereka sudah berjuang hampir 10 tahun, dan sampai saat ini mereka masih bertahan agar tempat tali pusar mereka dikubur di Pulau Pari ini tetap menjadi milik mereka," tegas Zenzi.  

Kendati telah berjuang dan melawan, selama ini belum ada perhatian lebih dari pemerintah untuk menyelesaikan intimidasi tersebut.

Padahal, menurutnya, warga Pulau Pari telah memberikan contoh yang baik dan berhasil dalam membangun perekonomian secara mandiri. Seharusnya, hal ini patut mendapatkan apresiasi dan perhatian dari pihak pemerintah. 

Baca juga: Warga Pulau Pari Kerap Diintimidasi, Dompet Dhuafa-Walhi Gelar Advokasi

"Pulau Pari masyarakatnya sekarang sudah mulai sejahtera dengan mereka membangun pariwisata yang dikelola oleh masyarakat," ujar Zenzi. 

"Seharusnya Menteri Pariwisata, Menteri Investasi, Menteri KKP, termasuk Presiden sendiri datang ke Pulau Pari ini, terutama juga Menteri ATR/BPN. Supaya mereka tahu bahwasanya ketika tanah, pantai, sumber daya, itu diserahkan kepada rakyat, rakyat itu bisa membangun kesejahteraan," papar Zenzi. 

Hal itu disampaikan Zenzi bertepatan dengan penandatanganan kerjasama perlindungan dan pemulihan pesisir antara Walhi dengan Disaster Management Center (DMC) Dompet Dhuafa di Pulau Pari, Senin (8/7/2024). 

Sementara, Deputi Direktur 1 Program Sosial Budaya Dompet Dhuafa Juperta Panji Utama mengatakan, Pari Pulau dekat dengan pusat mantan ibukota negara Indonesia, Jakarta, pusat segala kekuasaan dan kebijakan negara ini. 

“Jika kebijakan yang dekat dengan pusat kebijakan saja tidak berpihak pada kepentingan masyarakat, bisa dibayangkan mungkin ada hal-hal serupa di tempat yang lebih jauh lagi,” ujar Panji.

Warga Pesisir mampu berdaya

Suasana Pantai Perawan di Pulau Pari, Kepulauan Seribu, menjelang malam hari, pada Senin (8/7/2024). Wisatawan yang tadinya ramai, mulai meninggalkan pantai. KOMPAS.com/FAQIHAH MUHARROROH ITSNAINI Suasana Pantai Perawan di Pulau Pari, Kepulauan Seribu, menjelang malam hari, pada Senin (8/7/2024). Wisatawan yang tadinya ramai, mulai meninggalkan pantai.

Untuk menguatkan posisi masyarakat, salah satu solusi yang bisa ditawarkan adalah dengan membuat aplikasi khusus pariwisata Pulau Pari. 

"Kenapa ini penting kita lakukan? Untuk mengingatkan pemerintah, banyak pemerintah membangun pariwisata-pariwisata premium, tapi masyarakatnya terpinggirkan, yang kaya itu adalah investor," ujar Panji. 

Zenzi menjelaskan, Pulau Pari telah berhasil mengembangkan wisata tiga pantai yaitu Pantai Perawan, Pantai Bintang, dan Pantai Rengge, tanpa intervensi pemerintah daerah.

Bahkan, infrastruktur seperti jalanan di pulau tersebut dibangun masyarakat secara swadaya dengan hasil penyisihan keuntungan pariwisata. 

Baca juga: Penelitian Baru, Ada Pola Pergerakan Pari Manta Karang di Raja Ampat

"Sebenarnya semua destinasi wisata Indonesia itu bisa kita bangunkan tata kelola ekonominya, di mana pemegang sahamnya itu adalah rakyat. Kami mau memulainya di Pulau Pari karena masyarakat Pulau Pari sudah berhasil," tambah Zenzi. 

Lebih lanjut, penting untuk pemerintah memberikan perhatian, salah satunya dalam hal pemenuhan hak dasar seperti pemberian sertifikat tanah dan sertifikat rumah di Pulau Pari. Dengan kepastian, masyarakat diharapkan bisa semakin berdaya. 

"Mereka menginginkan rasa aman dalam usahanya, dan kalau masyarakat di sini diberikan rasa aman dalam usahanya, saya melihat potensi ekonominya akan sangat besar. Akan ada peluang banyak pihak untuk terlibat berkontribusi dalam bisnis masyarakat di sini," papar Zenzi. 

Senada, Panji mengatakan pihaknya berharap dapat bekerja sama dengan lebih banyak pihak lain, serta tentunya pemerintah dan masyarakat yang terdampak krisis iklim.

“Semua pihak harus terlibat, semua pihak harus menyatu dan melihat bahwa ini adalah musuh bersama kita,” pungkasnya.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Mereka Menyebutnya “Ojek Laut”...
Mereka Menyebutnya “Ojek Laut”...
LSM/Figur
Hadapi Disrupsi AI, Kepemimpinan Berkelanjutan Jadi Kunci Capai Target SDG
Hadapi Disrupsi AI, Kepemimpinan Berkelanjutan Jadi Kunci Capai Target SDG
Swasta
Peneliti UI dan Kyoto University Berkolaborasi untuk Ubah Limbah Cair Kelapa Sawit Jadi Energi
Peneliti UI dan Kyoto University Berkolaborasi untuk Ubah Limbah Cair Kelapa Sawit Jadi Energi
LSM/Figur
Kian Dekat dengan Alam, Bantu Bangun Kebiasaan Makan Lebih Sehat
Kian Dekat dengan Alam, Bantu Bangun Kebiasaan Makan Lebih Sehat
Pemerintah
Pemerintah Diminta Susun Mekanisme Penyelesaian Wilayah Masyarakat Adat dengan Area Konsesi
Pemerintah Diminta Susun Mekanisme Penyelesaian Wilayah Masyarakat Adat dengan Area Konsesi
Pemerintah
Hanya 10 dari 516 Masyarakat Adat yang Diakui di Kaltim, Ini Penyebabnya
Hanya 10 dari 516 Masyarakat Adat yang Diakui di Kaltim, Ini Penyebabnya
Pemerintah
Karier Perempuan Sering Terhambat, Khususnya pada Posisi Dewan Direksi
Karier Perempuan Sering Terhambat, Khususnya pada Posisi Dewan Direksi
Pemerintah
Target WHO 2030: Deteksi Wabah Baru Hanya dalam 24 Jam
Target WHO 2030: Deteksi Wabah Baru Hanya dalam 24 Jam
Pemerintah
Perubahan Iklim Ancam Kesehatan Kulit Negara Berpendapatan Rendah
Perubahan Iklim Ancam Kesehatan Kulit Negara Berpendapatan Rendah
Pemerintah
Kerugian Hunian Akibat Bencana Capai 228 Miliar Dolar AS Setiap Tahunnya
Kerugian Hunian Akibat Bencana Capai 228 Miliar Dolar AS Setiap Tahunnya
Pemerintah
Astra Boyong 37 Peserta Binaan ke Trade Expo Indonesia 2026
Astra Boyong 37 Peserta Binaan ke Trade Expo Indonesia 2026
Desa Sejahtera Astra
Dua Tahun 'Water for Banuan', Dampak Nyata Air Bersih Berkelanjutan di Pelosok NTT
Dua Tahun "Water for Banuan", Dampak Nyata Air Bersih Berkelanjutan di Pelosok NTT
LSM/Figur
Kepemimpinan 'Human-Centered' Jadi Kunci Ukur Kesejahteraan Karyawan
Kepemimpinan "Human-Centered" Jadi Kunci Ukur Kesejahteraan Karyawan
Swasta
Antisipasi Ancaman Penyakit Pes, RI Perlu Perkuat Pemantauan Tikus
Antisipasi Ancaman Penyakit Pes, RI Perlu Perkuat Pemantauan Tikus
LSM/Figur
Satelit Ungkap Kota Dunia Alami Penurunan Tanah: Medan dan Bandung Masuk Daftar
Satelit Ungkap Kota Dunia Alami Penurunan Tanah: Medan dan Bandung Masuk Daftar
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau