Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Sambut Ramadhan Lebih Ramah Lingkungan, Ini 7 Tip Kurangi Sampah Sisa Makanan

Kompas.com, 1 Maret 2025, 13:00 WIB
Add on Google
Danur Lambang Pristiandaru

Penulis

KOMPAS.com - Ramadhan menjadi bulan yang penuh keberkahan dan ditunggu-tunggu semua umat Muslim di seluruh dunia. 

Selain mendekatkan diri dengan Sang Pencipta melalui berbagai ibadah, momen Ramadhan juga perlu dimanfaatkan untuk berbuat baik kepada sesama manusia dan semesta. 

Di sisi lain, saat Ramadhan, konsumsi masyarakat cenderung mengalami peningkatan. 

Baca juga: Usai Ramadhan, Capaian Takwa dan Keberlanjutan Lebih Penting

Melonjaknya konsumsi tersebut bila tidak dibarengi tanggung jawab dapat menyebabkan kenaikan sampah sisa makanan.

Untuk mengurangi potensi sampah sisa makanan, kita bisa mendukung gerakan yang lebih ramah lingkungan agar Ramadhan menjadi lebih bermakna.

Dilansir dari panduan yang dirilis Greenpeace Indonesia dan sejumlah sumber, berikut tip mencegah sampah sisa makanan saat Ramadhan.

1. Tidak membeli makanan berlebihan 

Ramadhan bukan mengenai berapa banyak makanan yang dapat kita makan pada saat berbuka puasa. 

Oleh karena itu, jaga agar makanan kita tetap sederhana dan makan dengan sederhana. Dengan demikian, kita bisa mengurangi potensi sisa makanan.

Baca juga: Tip Makan Bertanggung Jawab untuk Jalani Ramadhan Hijau

2. Hati-hati teknik pemasaran 

Kita perlu berhati-hati dengan teknik pemasaran dan periklanan yang berujuan agar kita membeli lebih dari yang dibutuhkan. 

Komersialisasi menjelang Ramadhan dan Idulfitri saat ini menjadi hal yang biasa seperti pada hari raya keagamaan lain.

Membeli sesuatu yang benar-benar kita butuhkan menjadi penting untuk mencegah belanja yang berlebihan.

3. Sepertiga isi perut 

Kita bisa mengikuti anjuran Nabi Muhammad untuk tidak berlebihan saat makan dan mengatur asupan makanan di perut. 

Dalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad, Rasulullah menganjurkan mengisi perut dengan sepertiga makanan, sepertiga air, dan sepertiga udara. 

Baca juga: Bikin Ramadhan Lebih Nyaman, Nippon Sumbang 3.565 Liter Cat untuk 100 Masjid

4. Manfaatkan sisa makanan 

Apabila setelah berbuka puasa ada sisa makanan, kita bisa memanfaatkannya untuk santap sahur. 

Bila di hari lain makanan sahur kita sisa, kita bisa memanfaatkannya untuk berbuka puasa.

5. Belanja sesuai kebutuhan 

Rencanakanlah menu berbuka puasa dengan matang, dan usahakan membeli bahan makanan dengan jumlah yang sesuai. 

Bila perlu, siapkan daftar belanjaan sebelum pergi. Hindari berbelanja saat sedang lapar mata, karena cenderung membuatmu membeli lebih banyak daripada yang bisa dihabiskan. 

Baca juga: Kurangi Sampah Makanan saat Ramadhan, Kontribusi Lestarikan Bumi

6. Simpan makanan dengan benar 

Mengurangi sisa makanan bisa dimulai dengan menyimpan makanan yang tersisa dengan benar, dan gunakan kembali bahan yang masih bisa digunakan.  

Jika kamu lebih suka menyimpan bahan mentah dan produk segar sebelum memasak, kamu bisa menyimpan bahan makanan dengan benar. Misalnya, dengan wadah seperti apa, di kulkas atau freezer, dan lain-lain.  

7. Jangan lupa berbagi  

Di bulan Ramadhan, jika ingin memaksimalkan amal baik, berbagi dengan orang lain sangatlah dianjurkan. 

Selain itu, berbagi juga bisa menyelamatkan makanan agar tidak terbuang sia-sia. 

Jika sudah membeli dan memasak makanan lebih banyak dari yang dibutuhkan, kamu dapat memberikan kelebihannya kepada teman, tetangga, atau orang yang membutuhkan. 

Selain berpahala, kamu dapat menyelamatkan bumi dari mengurangi limbah makanan.  

Baca juga: Jalani Ramadhan Hijau, Ini Tips Kurangi Food Waste Selama Puasa

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Jerat Listrik Ancam Gajah Sumatera, Koridor Habitat Kian Terfragmentasi
Jerat Listrik Ancam Gajah Sumatera, Koridor Habitat Kian Terfragmentasi
LSM/Figur
Proyek PLTP Lahendong 15 MW Capai Kesepakatan Tarif, Siap Masuk Tahap Pengembangan
Proyek PLTP Lahendong 15 MW Capai Kesepakatan Tarif, Siap Masuk Tahap Pengembangan
Pemerintah
Perusahaan Harus Jadikan Keberlanjutan Nyawa Bisnis di Tengah Ketidakpastian
Perusahaan Harus Jadikan Keberlanjutan Nyawa Bisnis di Tengah Ketidakpastian
Swasta
BPDP Kemenkeu Buka Program Hibah Riset Bioenergi hingga Pengolahan Limbah
BPDP Kemenkeu Buka Program Hibah Riset Bioenergi hingga Pengolahan Limbah
Pemerintah
IEA: Perang AS-Israel VS Iran Akan Ubah Total Sistem Energi Global
IEA: Perang AS-Israel VS Iran Akan Ubah Total Sistem Energi Global
Pemerintah
India Targetkan Produksi Baja 400 Juta Ton Sambil Pangkas Emisi 25 Persen
India Targetkan Produksi Baja 400 Juta Ton Sambil Pangkas Emisi 25 Persen
Swasta
Perubahan Iklim Picu Gangguan Produktivitas Karyawan, Kok Bisa?
Perubahan Iklim Picu Gangguan Produktivitas Karyawan, Kok Bisa?
Pemerintah
50 Persen Emisi Gas Rumah Kaca dari Industri, Ancam Kesehatan dan Lingkungan
50 Persen Emisi Gas Rumah Kaca dari Industri, Ancam Kesehatan dan Lingkungan
LSM/Figur
Berawal dari Mati Lampu, Siswa MAN 19 Jakarta Sulap Minyak Jelantah Jadi Listrik
Berawal dari Mati Lampu, Siswa MAN 19 Jakarta Sulap Minyak Jelantah Jadi Listrik
LSM/Figur
Lonjakan EBT Bikin Ekspor China Bertahan Saat Pasokan Energi Terguncang
Lonjakan EBT Bikin Ekspor China Bertahan Saat Pasokan Energi Terguncang
Pemerintah
Saat Ibu Bekerja, Anak Perempuan Bisa Bermimpi Lebih Tinggi
Saat Ibu Bekerja, Anak Perempuan Bisa Bermimpi Lebih Tinggi
Swasta
Ecoton Temukan Mikroplastik Dalam Darah dan Sperma Manusia
Ecoton Temukan Mikroplastik Dalam Darah dan Sperma Manusia
LSM/Figur
Karbon Biru, Benteng Ekosistem Maritim Indonesia
Karbon Biru, Benteng Ekosistem Maritim Indonesia
Pemerintah
GHG Protocol: Emisi dari Sampah Pasca-Konsumsi Masuk Scope 3 Perusahaan
GHG Protocol: Emisi dari Sampah Pasca-Konsumsi Masuk Scope 3 Perusahaan
Swasta
Koalisi Soroti Kebijakan Perizinan Perikanan, Dinilai Masih Membebani Nelayan Kecil
Koalisi Soroti Kebijakan Perizinan Perikanan, Dinilai Masih Membebani Nelayan Kecil
LSM/Figur
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau