Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Usai Ramadhan, Capaian Takwa dan Keberlanjutan Lebih Penting

Kompas.com, 15 April 2024, 15:00 WIB
Faqihah Muharroroh Itsnaini,
Hilda B Alexander

Tim Redaksi

 MALANG, KOMPAS.com - Khatib Dr. H Tjahjo Suprajogo menyerukan umat Islam di Kecamatan Sukun, Kota Malang, Jawa Timur, pentingnya menjaga capaian takwa dan keberlanjutan usai Ramadhan berakhir.

"Takwa bukan semata tujuan akhir, tetapi juga proses. Takwa tentu bukan selama kita beribadah Ramadhan saja, melainkan takwa itu harus dibawa sampai 11 bulan ke depan," ujar Tjaho. 

Tjahjo Suprajogo menyampaikan hal tersebut saat menjadi khatib dalam Shalat Idul Fitri di Lapangan Walet, Sukun, yang dihadiri sekitar 500 umat Islam yang bertempat tinggal di Kota Malang. 

Baca juga: Kurangi Sampah Lebaran, Akademisi Ajak Shalat Id Tanpa Koran

Menurutnya, hasil positif dari capaian takwa adalah bagaimana seseorang dapat terus meningkatkan keimanan dalam berbagai sisi kehidupan.

Misalnya dari segi kehidupan sosial, politik, hingga bermasyarakat. Adapun salah satunya adalah juga bagaimana takwa menginspirasi untuk peduli terhadap lingkungan.

"Takwa harus selalu ada di tengah-tengah masyarakat, agar tidak membiasakan membuang sampah sembarangan dan justru menjaga kebersihan lingkungan," imbuhnya.

Pentingnya keberlanjutan usai ramadhan

Oleh karena takwa kepada Allah, di tengah-tengah masyarakat tumbuh dan berkembang sikap kepedulian sosial, saling menjaga, saling bekerjasama, dan tolong-menolong.

Dengan adanya ketakwaan, akan terus meningkat sikap dan perilaku saling menghargai, menghormati, dan menjaga keharmonisan di masyarakat.

Baca juga:

Lebih lanjut, ia menyebut sikap dan kebiasaan yang sangat baik dari Ramadhan harus terus dilanjutkan hingga 11 bulan ke depan. Kebiasaan positif harus terus-menerus dijaga dan dipertahankan, bahkan lebih baik lagi ditingkatkan.

"Tanpa konsistensi dan kesinambungan, istiqomah, maka usaha keras dan pengorbanan selama Ramadhan menjadi sia-sia karena tidak terjadi revolusi mental yang sesungguhnya," tutur Tjahjo.

Lingkungan dan Hari Raya Idul Fitri

Sebagaimana diketahui, Hari Raya Idul Fitri bagi sebagian besar orang di Tanah Air menjadi momen keberlimpahan atas banyak hal, termasuk makanan dan rezeki lainnya. 

Kondisi seperti banyaknya makanan yang disajikan, tingginya mobilitas masyarakat, hingga hampers Lebaran berdampak pada potensi menumpuknya sampah selepas hari raya.

Di satu sisi, hal ini menjadi ironi tersendiri mengingat masih banyak masyarakat di wilayah tertentu di Indonesia yang mengalami kesulitan pangan dan akses.

Oleh sebab itu, masyarakat harus mulai membiasakan Lebaran sebagai momen untuk berbagi, sekaligus mengurangi kemubaziran pangan, dan meminimalisir sampah untuk menjaga lingkungan. 

Sebagai informasi, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) sebelumnya memperkirakan saat periode mudik dan balik Lebaran 2024 terdapat potensi sampah meningkat hingga 58.000 ton.

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Tak Lagi Bebas Flu Burung H5, Australia Kini Darurat Satwa Liar
Tak Lagi Bebas Flu Burung H5, Australia Kini Darurat Satwa Liar
Pemerintah
Dianggap Boros Emisi, Perjalanan Udara Presiden FIFA di Piala Dunia Tuai Protes
Dianggap Boros Emisi, Perjalanan Udara Presiden FIFA di Piala Dunia Tuai Protes
Pemerintah
Ekonom IPB: Pembangunan Terlalu Fokus pada Angka, Abaikan Aspek Moral dan Tata Kelola
Ekonom IPB: Pembangunan Terlalu Fokus pada Angka, Abaikan Aspek Moral dan Tata Kelola
Pemerintah
Mayoritas Pemimpin Bisnis Cemas Transisi Iklim Berjalan Kacau
Mayoritas Pemimpin Bisnis Cemas Transisi Iklim Berjalan Kacau
Pemerintah
PBB Desak Raksasa Teknologi Transparan Soal Dampak Lingkungan dari AI
PBB Desak Raksasa Teknologi Transparan Soal Dampak Lingkungan dari AI
Pemerintah
Dari Gang Sempit di Jakarta, Seorang ASN Bangun Ekonomi Sirkular yang Turut Hidupi Warga
Dari Gang Sempit di Jakarta, Seorang ASN Bangun Ekonomi Sirkular yang Turut Hidupi Warga
LSM/Figur
Konsorsium Tiga Media di Asia Tenggara Kerja Sama untuk Perkuat ESG
Konsorsium Tiga Media di Asia Tenggara Kerja Sama untuk Perkuat ESG
Pemerintah
Menilik Upaya BNI dalam Mendorong Pemerataan Pendidikan di Tanah Air
Menilik Upaya BNI dalam Mendorong Pemerataan Pendidikan di Tanah Air
BUMN
Survei KPMG: 4 dari 5 Perusahaan Bingung Ukur Nilai Ekonomi Bisnis Berkelanjutan
Survei KPMG: 4 dari 5 Perusahaan Bingung Ukur Nilai Ekonomi Bisnis Berkelanjutan
Pemerintah
BNPB Catat Banjir-Kekeringan Landa Sejumlah Wilayah, Ribuan Orang Terdampak
BNPB Catat Banjir-Kekeringan Landa Sejumlah Wilayah, Ribuan Orang Terdampak
Pemerintah
Ilusi Lahan Baru di Tengah Deforestasi
Ilusi Lahan Baru di Tengah Deforestasi
Pemerintah
Regulasi ESG di Indonesia Belum Penuhi Aspek yang Dipersyaratkan Pasar Global
Regulasi ESG di Indonesia Belum Penuhi Aspek yang Dipersyaratkan Pasar Global
Pemerintah
Krisis Iklim Rusak Keanekaragaman Hayati Mikroba Sungai
Krisis Iklim Rusak Keanekaragaman Hayati Mikroba Sungai
Pemerintah
BRIN dan YKAN Uji Pembakaran Gambut Terkendali untuk Perbaiki Akurasi Data Emisi Nasional
BRIN dan YKAN Uji Pembakaran Gambut Terkendali untuk Perbaiki Akurasi Data Emisi Nasional
LSM/Figur
Paparan Suhu Panas Ekstrem Global Naik 22 Persen, Apa Dampaknya?
Paparan Suhu Panas Ekstrem Global Naik 22 Persen, Apa Dampaknya?
LSM/Figur
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau