Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Tanpa Aksi Iklim, Sepertiga PDB Global Terancam Turun

Kompas.com, 14 Maret 2025, 19:12 WIB
Monika Novena,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

Sumber Edie

KOMPAS.com - Produk Domestik Bruto (PDB) global berpotensi turun hingga 34 persen jika tindakan untuk mengatasi perubahan iklim tidak segera dilakukan.

Temuan tersebut berdasarkan laporan baru dari Boston Consulting Group (BCG), yang bekerja sama dengan Cambridge Judge Business School dan climaTraces Lab milik University of Cambridge.

Riset menggunakan estimasi dari skenario makrofinansial iklim jangka panjang yang diterbitkan oleh Network of Central Banks and Supervisors for Greening the Financial System (NGFS) akhir tahun lalu.

Dikutip dari Edie, Jumat (14/3/2025) tingkat pertumbuhan PDB global tahunan diasumsikan rata-rata sebesar 3 persen dengan kisaran kemungkinan antara 2,5 persen dan 3,5 persen hingga 2050.

Baca juga: Ekonomi Pisang Capai 11 Miliar dollar AS Per Tahun, Perubahan Iklim Mengancamnya

Sementara untuk tingkat pertumbuhan tahunan rata-rata yang lebih lambat adalah sebesar 1,7 persen, dengan kisaran antara 1,3 persen dan 2,1 persen untuk periode antara tahun 2051 hingga 2100.

Namun jika pemanasan global mencapai 3 derajat Celcius di atas tingkat pra-industri pada akhir abad ini, output ekonomi kumulatif global dapat berkurang sebesar 15 hingga 34 persen pada 2100.

Akan tetapi masih ada harapan jika pemanasan global bisa dibatasi hingga 2 derajat Celcius pada tahun 2100. Analisis menyebut melambatnya ekonomi dapat dikurangi menjadi 2 persen hingga 4 persen bila pembatasan pemanasan global bisa dilakukan.

Kendati demikian membatasi pemanasan global hingga 2 derajat Celcius juga merupakan tantangan.

Laporan BCG menyatakan pembatasan itu akan memerlukan investasi 1 hingga 2 persen dari PDB kumulatif untuk mitigasi dan adaptasi iklim selama periode yang sama.

Namun jika investasi aksi iklim dilakukan sekarang, itu akan mencegah dampak ekonomi yang jauh lebih besar di kemudian hari.

"Bagian yang paling penting dari penelitian kami adalah sebagian besar dampak PDB global dapat dikurangi dengan tindakan kita," kata wakil ketua BCG untuk dampak sosial, iklim, dan keberlanjutan Wendy Woods.

"Jika kita melakukan hal benar pada mitigasi dan adaptasi, mungkin hanya sekitar 4 persen kerugian PDB yang tidak dapat dihindari dan tetap bisa melindungi hampir 30 persen dari PDB kita," paparnya lagi.

Laporan tentang risiko finansial perubahan iklim dari Institute and Faculty of Actuaries (IFoA) yang dirilis awal tahun ini pun juga menemukan hal serupa.

Tidak adanya tindakan untuk mengatasi perubahan iklim dapat mengakibatkan penurunan PDB global yang lebih tinggi hingga 50 persen antara tahun 2070 dan 2090.

Laporan itu juga memperingatkan tentang 'solvabilitas planet' atau risiko berjenjang dari perubahan iklim yang saling terkait, kerusakan alam, dan polusi.

Baca juga: Green Property Jadi Solusi Atasi Perubahan Iklim di Perkotaan

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Banjir Sumatera dan Ancaman Sunyi bagi Perempuan, Belajar dari Pengalaman dalam Bencana Likuefaksi di Sulawesi
Banjir Sumatera dan Ancaman Sunyi bagi Perempuan, Belajar dari Pengalaman dalam Bencana Likuefaksi di Sulawesi
LSM/Figur
Warga Bantu Warga, JNE Percepat Distribusi 500 Ton Bantuan ke Sumatera
Warga Bantu Warga, JNE Percepat Distribusi 500 Ton Bantuan ke Sumatera
Swasta
Pasar Software Akuntansi Karbon Diprediksi Meroket sampai 2033
Pasar Software Akuntansi Karbon Diprediksi Meroket sampai 2033
LSM/Figur
Kemenhut Segel Lagi 3 Entitas di Tapanuli Selatan, Diduga Picu Banjir Sumatera
Kemenhut Segel Lagi 3 Entitas di Tapanuli Selatan, Diduga Picu Banjir Sumatera
Pemerintah
Suhu Laut Naik akibat Perubahan Iklim Bikin Siklon di Asia Makin Parah
Suhu Laut Naik akibat Perubahan Iklim Bikin Siklon di Asia Makin Parah
LSM/Figur
Bahan Kimia Sintetis Dalam Pangan Ciptakan Beban Kesehatan 2,2 Triliun Dollar AS Per Tahun
Bahan Kimia Sintetis Dalam Pangan Ciptakan Beban Kesehatan 2,2 Triliun Dollar AS Per Tahun
LSM/Figur
Pendanaan Hijau Diproyeksikan Naik Tahun 2026, Asal..
Pendanaan Hijau Diproyeksikan Naik Tahun 2026, Asal..
Swasta
Longsor di Hulu DAS Padang dan Agam, Kemenhut Lakukan Kajian Mendalam
Longsor di Hulu DAS Padang dan Agam, Kemenhut Lakukan Kajian Mendalam
Pemerintah
BEI Sebut Investasi Berbasis ESG Naik 194 Kali Lipat dalam 1 Dekade Terakhir
BEI Sebut Investasi Berbasis ESG Naik 194 Kali Lipat dalam 1 Dekade Terakhir
Pemerintah
Perkuat Digital Nasional, TIS Kembangkan Kabel Laut TGCS-2 Jakarta–Manado
Perkuat Digital Nasional, TIS Kembangkan Kabel Laut TGCS-2 Jakarta–Manado
Swasta
EIB Global dan Uni Eropa Bersihkan Sampah Laut di Kepulauan Seribu
EIB Global dan Uni Eropa Bersihkan Sampah Laut di Kepulauan Seribu
LSM/Figur
Panas Ekstrem Bikin 8.000 Spesies Terancam Punah, Amfibi dan Reptil Paling Rentan
Panas Ekstrem Bikin 8.000 Spesies Terancam Punah, Amfibi dan Reptil Paling Rentan
LSM/Figur
Masyarakat Sipil Desak Prabowo Tetapkan Status Bencana Nasional di Sumatera
Masyarakat Sipil Desak Prabowo Tetapkan Status Bencana Nasional di Sumatera
LSM/Figur
DAS Kuranji di Sumatera Barat Melebar hingga 150 Meter Usai Banjir, Ini Penjelasan Kemenhut
DAS Kuranji di Sumatera Barat Melebar hingga 150 Meter Usai Banjir, Ini Penjelasan Kemenhut
Pemerintah
Bibit Siklon Tropis 91S Muncul di Samudera Hindia, Apa Dampaknya untuk Sumatera?
Bibit Siklon Tropis 91S Muncul di Samudera Hindia, Apa Dampaknya untuk Sumatera?
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme KOMPAS.com
Kolom ini tidak boleh kosong.
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau