Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Pemanasan Global Sebabkan Kadar Oksigen Danau di Dunia Turun

Kompas.com, 24 Maret 2025, 07:00 WIB
Add on Google
Danur Lambang Pristiandaru

Editor

KOMPAS.com - Kadar oksigen di danau-danau seluruh dunia menurun akibat pemanasan global yang berkepanjangan dan meningkatnya gelombang panas.

Dalam studi terbaru yang diterbitkan di jurnal Science Advances, 83 persen danau di seluruh dunia mengalami penurunan kadar oksigen di permukaannya.

Tingkat rata-rata penurunan oksigen di danau lebih tinggi daripada di lautan dan sungai, sebagaimana dilansir Antara, Minggu (23/3/2025).

Baca juga: 1 Orang Butuh Berapa Pohon Untuk Cukupi Kebutuhan Oksigen?

Para peneliti menemukan tren penurunan tersebut setelah menganalisis data tingkat oksigen terlarut di lebih dari 15.000 danau di seluruh dunia selama 20 tahun terakhir.

Penulis studi tersebut menilai, pemanasan global merupakan penyebab utama dari penurunan tingkat oksigen ini, dengan kontribusi sebesar 55 persen.

Selain itu, meningkatnya konsentrasi nutrisi di danau, yang dikenal sebagai eutrofikasi, menyebabkan sekitar 10 persen dari total penurunan kadar oksigen.

Studi tersebut juga menganalisis dampak gelombang panas terhadap penurunan oksigen di permukaan danau. 

Hasil penelitian menunjukkan, gelombang panas memberikan dampak yang cepat dan nyata pada penurunan oksigen, yang mengakibatkan penurunan sebesar 7,7 persen dibandingkan dengan kondisi pada suhu rata-rata.

Baca juga: Wonderwoods, Hutan Vertikal yang Hasilkan 41 Ton Oksigen Per Tahun

Para penulis mengatakan, temuan ini menggarisbawahi dampak mendalam pemanasan global pada ekosistem air tawar.

Padahal, danau membutuhkan kadar oksigen yang cukup untuk menopang kehidupan aerobik dan menjaga ekosistem di dalamnya tetap sehat.

"Menurunnya oksigen dapat menyebabkan kepunahan spesies, kematian organisme akuatik, dan runtuhnya industri perikanan komersial," kata Zhang Yunlin, seorang peneliti di Institut Geografi dan Limnologi Nanjing di bawah naungan Akademi Ilmu Pengetahuan China.

Hilangnya oksigen terlarut di danau telah dilaporkan sebelumnya. Misalnya, sebuah studi tahun 2021 yang diterbitkan dalam jurnal Nature menunjukkan, penurunan kadar oksigen terjadi secara luas di permukaan dan perairan dalam danau beriklim sedang.

Peneliti dalam studi baru tersebut meyakini, temuan mereka memberikan pandangan yang lebih komprehensif.

Baca juga: Tanaman Pangan Penting Dunia Terancam Punah karena Pemanasan Global

Hal itu karena danau yang diteliti adalah danau di seluruh dunia yang memiliki luas lebih dari 10 kilometer persegi. 

Kebutuhan mendesak untuk memerangi meningkatnya ancaman kehilangan oksigen juga ditekankan.

Shi Kun, peneliti dari lembaga yang berpusat di Nanjing, menyampaikan, upaya pengurangan konsentrasi nutrisi di danau juga perlu dilakukan, seperti membatasi penggunaan pupuk dan emisi limbah ternak.

Upaya lain untuk pengurangan konsentrasi emisi adalah meningkatkan pengelolaan air limbah domestik dan industri perkotaan.

"Menanam vegetasi terendam dan membangun lahan basah juga dapat membantu memulihkan ekosistem danau," kata Shi kepada Xinhua.

Baca juga: Dikira Ramah Lingkungan, Bahan Pendingin AC HFO Ternyata Picu Pemanasan Global

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Desa Energi Berdikari Keliki, Wujudkan Ketahanan Pangan Berbasis Energi Bersih
Desa Energi Berdikari Keliki, Wujudkan Ketahanan Pangan Berbasis Energi Bersih
BUMN
Padukan Kearifan Lokal dan Sains, Muhammadiyah Resmikan Sekolah Berbasis Konservasi di Papua Barat
Padukan Kearifan Lokal dan Sains, Muhammadiyah Resmikan Sekolah Berbasis Konservasi di Papua Barat
LSM/Figur
Grup Astra Lirik PLTS Atap untuk Tekan Emisi dan Konsumsi Energi
Grup Astra Lirik PLTS Atap untuk Tekan Emisi dan Konsumsi Energi
Swasta
Karhutla di Sumsel capai 182,54 hektare pada Januari-April 2026
Karhutla di Sumsel capai 182,54 hektare pada Januari-April 2026
Pemerintah
Sering Tak Disadari Penyelam, Kebiasaan Ini Bisa Rusak Terumbu Karang
Sering Tak Disadari Penyelam, Kebiasaan Ini Bisa Rusak Terumbu Karang
Pemerintah
BRIN Temukan 1.583 Spesies Baru Selama Hampir Enam Dekade Terakhir
BRIN Temukan 1.583 Spesies Baru Selama Hampir Enam Dekade Terakhir
Pemerintah
Boros Energi, Ahli Desak Konsumen Gunakan Pendingin Alternatif
Boros Energi, Ahli Desak Konsumen Gunakan Pendingin Alternatif
Pemerintah
Meriahkan Waisak 2026, DKI Jakarta Wujudkan Kota Inklusif lewat 'Illumination of Jakarta, Glow of Peace'
Meriahkan Waisak 2026, DKI Jakarta Wujudkan Kota Inklusif lewat "Illumination of Jakarta, Glow of Peace"
Pemerintah
Amazon, Google, Meta, dan Microsoft Kompak Investasi Teknologi Ramah Lingkungan
Amazon, Google, Meta, dan Microsoft Kompak Investasi Teknologi Ramah Lingkungan
Pemerintah
Batasi Medsos Dinilai Tak Efektif, PBB Desak Platform Lebih Aman untuk Anak
Batasi Medsos Dinilai Tak Efektif, PBB Desak Platform Lebih Aman untuk Anak
Pemerintah
Pagi Ini, Jakarta Masuk 10 Kota Paling Berpolusi di Dunia
Pagi Ini, Jakarta Masuk 10 Kota Paling Berpolusi di Dunia
Swasta
Perkuat Biodiversitas, Nuanu Creative City Tanam 1.000 Pohon Lokal
Perkuat Biodiversitas, Nuanu Creative City Tanam 1.000 Pohon Lokal
LSM/Figur
Bukit Asam Catat Lonjakan Emisi Operasional Batu Bara dalam 5 Tahun Terakhir
Bukit Asam Catat Lonjakan Emisi Operasional Batu Bara dalam 5 Tahun Terakhir
BUMN
Perempuan Lebih Rentan di Lingkungan Kerja 'Toxic'
Perempuan Lebih Rentan di Lingkungan Kerja "Toxic"
Swasta
Studi Sebut Swasembada Saja Tak Cukup Cegah Krisis Pangan Global
Studi Sebut Swasembada Saja Tak Cukup Cegah Krisis Pangan Global
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau