Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
EKSPEDISI NUSATIRTA

Menjaga Kemurnian Sumber Air Jadi Investasi untuk Masa Depan

Kompas.com, 26 Maret 2025, 14:30 WIB
Hotria Mariana,
Sri Noviyanti

Tim Redaksi

BOYOLALI, KOMPAS.com – Air bersih adalah kebutuhan mendasar yang tidak hanya penting untuk saat ini, tetapi juga bagi generasi mendatang. Namun, dengan semakin meningkatnya tantangan perubahan iklim, pencemaran, dan eksploitasi air tanah, menjaga kualitas sumber air menjadi pekerjaan rumah yang tidak bisa diabaikan.

Sebab, air bersih bukan hanya untuk kebutuhan konsumsi. Air juga menjadi penopang sektor pertanian, industri, dan ekosistem alam.

Di Indonesia, kuantitas air sebenarnya masih cukup. Namun, masalah utama justru terletak pada kualitas air yang terus menurun. Hal ini yang diingatkan oleh Pakar Hidrogeologi Universitas Gadjah Mada (UGM) Prof Heru Hendrayana.

Baca juga: Mengikuti Air dari Lereng Merapi, Ke Mana Singgah dan Pergi?

"Suatu saat kita mungkin akan memiliki banyak air, tetapi kualitasnya tidak bisa digunakan. Manusia adalah faktor yang paling sulit dikendalikan. Ada pencemaran fisika, kimia, dan biologi yang banyak berasal dari aktivitas manusia," tutur Heru.

Sub DAS Pusur Klaten-Boyolali, contoh nyata konservasi air yang efektif

Sub Daerah Aliran Sungai (DAS) Pusur di Klaten-Boyolali, Jawa Tengah, menjadi contoh nyata pengelolaan sumber air yang baik. Proyek konservasi air di daerah ini menunjukkan bagaimana kondisi hidrogeologi yang kompleks dapat dikelola dengan baik.

Sub DAS Pusur memiliki formasi batuan vulkanik muda yang bersifat poros. Kondisi ini menjadikannya area potensial untuk penyerapan air tanah.

"Di daerah Pusur, air hujan yang jatuh bisa meresap dengan baik karena batuannya masih muda dan poros," jelas Heru.

Baca juga: Cerita Petani Mengembalikan Harmoni antara Tanah, Air, dan Manusia

Heru melanjutkan, para peneliti memetakan area resapan air (groundwater recharge area) secara mendetail. Langkah ini memastikan setiap tindakan konservasi air difokuskan pada lokasi yang memberikan manfaat maksimal.

Heru juga memperkenalkan konsep "sabuk mata air" atau "spring belt" dalam pengelolaan sumber air di Sub DAS Pusur. Terdapat dua sabuk mata air utama di wilayah ini, yaitu Sabuk Mata Air 1 (SB1) dan Sabuk Mata Air 2 (SB2).

"Sabuk mata air ini adalah daerah atau lokasi mata air muncul secara konsisten sepanjang tahun. Menjaga kualitas air di sabuk ini sangat penting untuk ketersediaan air jangka panjang," terangnya.

Pengelolaan di Sub DAS Pusur juga melibatkan pemantauan jangka panjang terhadap 70 mata air dan 40 sumur. Teknologi seperti Automatic Water Level Recorder (AWLR) digunakan untuk memastikan kualitas air tetap terjaga.

"Kami melakukan monitoring debit air dan kualitasnya secara berkala. Ini untuk memastikan tidak ada penurunan signifikan yang bisa membahayakan sumber air," kata Heru.

Kolaborasi pentaheliks dalam konservasi air

Upaya konservasi air di Sub DAS Pusur tidak hanya melibatkan satu pihak. Konsep kolaborasi pentaheliks diterapkan dalam upaya ini dengan melibatkan pemerintah, masyarakat, akademisi, pelaku bisnis, dan media. Setiap elemen memiliki peran masing-masing dalam menjaga keberlanjutan sumber daya air.

Baca juga: River Tubing dan Bank Sampah: Kisah Warga Menghidupkan Kembali Sungai Pusur

Pemerintah berperan dalam regulasi dan pengawasan, termasuk Pembayaran Jasa Lingkungan (PJL) dan pengendalian pencemaran air.

"Pemerintah punya peran besar dalam membuat regulasi yang tegas," ujar Heru.

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Mengapa Banyak Karyawan Resign Setelah Dapat THR Lebaran?
Mengapa Banyak Karyawan Resign Setelah Dapat THR Lebaran?
LSM/Figur
Bahan Kimia Abadi PFAS Terdeteksi dalam Makanan Anjing dan Kucing
Bahan Kimia Abadi PFAS Terdeteksi dalam Makanan Anjing dan Kucing
LSM/Figur
AC Bisa Tambah Pemanasan Global di Bumi 0,05 Derajat, Mengapa?
AC Bisa Tambah Pemanasan Global di Bumi 0,05 Derajat, Mengapa?
LSM/Figur
Saat Petani Nilam di Aceh mulai “Bankable”, Ini Peran Data dalam Inklusi Keuangan
Saat Petani Nilam di Aceh mulai “Bankable”, Ini Peran Data dalam Inklusi Keuangan
LSM/Figur
Emisi Gas Rumah Kaca dari Air Limbah Ternyata Jauh Lebih Besar
Emisi Gas Rumah Kaca dari Air Limbah Ternyata Jauh Lebih Besar
LSM/Figur
Serangan AS-Israel ke Iran Picu Harga Minyak Global Naik, Bagaimana Harga BBM di Indonesia?
Serangan AS-Israel ke Iran Picu Harga Minyak Global Naik, Bagaimana Harga BBM di Indonesia?
LSM/Figur
Peneliti BRIN Ingatkan Ancaman Pada Ekosistem Padang Lamun akibat Reklamasi
Peneliti BRIN Ingatkan Ancaman Pada Ekosistem Padang Lamun akibat Reklamasi
Pemerintah
United Tractors Berdayakan Masyarakat Lereng Gunung Arjuno lewat Program Desa UniTy
United Tractors Berdayakan Masyarakat Lereng Gunung Arjuno lewat Program Desa UniTy
Swasta
Sampah Antariksa Bikin Lapisan Ozon Bumi Berlubang
Sampah Antariksa Bikin Lapisan Ozon Bumi Berlubang
LSM/Figur
Bagai Pedang Bermata Dua, Permintaan AC Naik Meski Perburuk Krisis Iklim
Bagai Pedang Bermata Dua, Permintaan AC Naik Meski Perburuk Krisis Iklim
LSM/Figur
Bukan Gaji, Pekerja di Indonesia 'Happy' karena Rekan dan Budaya Perusahaan
Bukan Gaji, Pekerja di Indonesia "Happy" karena Rekan dan Budaya Perusahaan
LSM/Figur
WWF Indonesia Buka Lowongan Kerja untuk Berbagai Jurusan, Ini Syaratnya
WWF Indonesia Buka Lowongan Kerja untuk Berbagai Jurusan, Ini Syaratnya
LSM/Figur
Kementerian LH Panggil Pemkab Bekasi Minta Tanggung Jawab soal Pengelolaan Sampah
Kementerian LH Panggil Pemkab Bekasi Minta Tanggung Jawab soal Pengelolaan Sampah
Pemerintah
Skill Apa yang Wajib Dikuasai Pekerja pada Era AI?
Skill Apa yang Wajib Dikuasai Pekerja pada Era AI?
LSM/Figur
WVI Galang Dana untuk Tingkatkan Literasi 3.000 Anak di Papua
WVI Galang Dana untuk Tingkatkan Literasi 3.000 Anak di Papua
LSM/Figur
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau