KOMPAS.com - Berdasarkan rangkuman lebih dari 2.000 penelitian, aktivitas manusia menjadi penyebab utama hilangnya keanekaragaman hayati dari semua spesies di Bumi.
Rangkuman yang dikerjakan oleh para peneliti dari Institut Sains dan Teknologi Akuatik Federal Swiss (Eawag) dan Universitas Zurich di Swiss ini pun menjadi analisis global menyeluruh yang tak diragukan lagi tentang dampak buruk manusia terhadap Bumi.
Studi yang mencakup hampir 10.000 lokasi di seluruh benua ini menemukan bahwa aktivitas manusia telah mengakibatkan 'dampak yang belum pernah terjadi sebelumnya pada keanekaragaman hayati.'
"Ini adalah salah satu rangkuman terbesar dampak manusia terhadap keanekaragaman hayati yang pernah di lakukan di seluruh dunia," kata Florian Altermatt, profesor ekologi perairan di Universitas Zurich dan kepala Eawag, dikutip dari Guardian, Jumat (28/3/2025).
Dalam makalah yang diterbitkan di Nature ini, tim mengamati habitat darat, air tawar, dan laut, serta menyertakan semua kelompok organisme, termasuk mikroba, jamur, tumbuhan, invertebrata, ikan, burung, dan mamalia.
Baca juga: Ekspor Pertanian Sebabkan Dampak Negatif bagi Keanekaragaman Hayati
Peneliti menemukan bahwa tekanan manusia secara nyata mengubah komposisi komunitas (pada dasarnya, spesies mana yang hidup di mana) dan mengurangi keanekaragaman lokal.
Peneliti pun menyebut rata-rata, jumlah spesies di lokasi yang terdampak manusia hampir 20 persen lebih rendah daripada di lokasi yang tidak terdampak manusia.
Kerugian yang sangat parah tercatat pada reptil, amfibi dan mamalia, menurut makalah tersebut. Populasi mereka seringkali lebih kecil daripada invertebrata, yang meningkatkan kemungkinan kepunahan.
Menurut peneliti ada lima pendorong penurunan populasi spesies, di antaranya adalah perubahan habitat, eksploitasi sumber daya secara langsung (seperti berburu atau memancing), perubahan iklim, spesies invasif, dan polusi.
“Temuan kami menunjukkan bahwa kelima faktor tersebut memiliki dampak yang kuat terhadap keanekaragaman hayati di seluruh dunia, di semua kelompok organisme dan di semua ekosistem,” ungkap François Keck, penulis utama studi.
Lebih lanjut, polusi dan perubahan habitat, yang sering kali disebabkan oleh pertanian, memiliki dampak negatif khususnya pada keanekaragaman hayati.
Pertanian intensif khususnya pertanian lahan kering melibatkan sejumlah besar pestisida dan pupuk, yang mengakibatkan menurunnya keanekaragaman hayati, tetapi juga mengubah komposisi spesies.
Meskipun penelitian secara keseluruhan menunjukkan dampak negatif manusia, para peneliti juga menekankan bahwa dampaknya tidak seragam di seluruh dunia.
Ada variasi dalam bagaimana manusia memengaruhi satwa liar dan bagaimana manusia menyederhanakan keanekaragaman hayati di berbagai lokasi.
Para peneliti mengatakan bahwa sebelum penelitian ini, belum pernah ada upaya untuk mengumpulkan hasil dari begitu banyak studi tentang keanekaragaman hayati yang meneliti efek tindakan manusia di seluruh dunia dan pada semua jenis makhluk hidup.
Baca juga: Bagaimana Keanekaragaman Hayati Pengaruhi Kehidupan Manusia?
Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya