KOMPAS.com - Lembaga keuangan Amerika Serikat memprediksi kenaikan suhu global akan mencapai 3 derajat celcius pada 2025, jauh di atas suhu pra industri. Kondisi tersebut akan menyebabkan gelombang panas, banjir, maupu dampak ekonomi.
Laporan terbaru dari Morgan Stanley, JPMorgan Chase, dan Institute of Finance mengungkap sektor keuangan menganggap Perjanjian Paris yang membatasi suhu global dan disepakati hampir 200 negara pada dasarnya telah berakhir.
“Saat ini kami memperkirakan dunia dengan 3 derajat celsius. Progres dalam perubahan iklim kemungkinan akan kurang dari target net zero," kata analis Morgan Stanley dalam laporannya, dikutip dari The Guardian, Jumat (4/4/2025).
Baca juga: Pakar Pertanian UGM Sebut Pemanasan Global Ancam Ketahanan Pangan Indonesia
Keraguan dari perusahaan Wall Street ini pun serupa dengan pandangan analis Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), yang menyebutkan tujuan Perjanjian Paris sangat jauh dari jalurnya akibat emisi gas rumah kaca.
Krisis iklim dinilai makin diperparah dengan pernyataan Presiden AS, Donald Trump, yang menarik negaranya dari pendanaan iklim.
Di sisi lain, lembaga keuangan juga mulai menunjukkan tanda bahwa mereka mengurangi perhatian terhadap isu iklim.
Sejak Desember, enam bank terbesar AS yakni JPMorgan Chase, Bank of America, Citigroup, Wells Fargo, Morgan Stanley, dan Goldman Sachs mengundurkan diri sebagai anggota Net Zero Banking Alliance, aliansi yang menetapkan praktik perbankan bertanggung jawab.
“Kami jelas melihat adanya pengunduran besar terkait iklim dari sektor keuangan. Ini sangat dipengaruhi oleh Trump dan agendanya untuk mempercepat perubahan iklim," ujar analis senior di Reclaim Finance, Paddy McCully.
"Meskipun juga karena bank-bank menggunakan Trumpisme sebagai alasan untuk mundur dari komitmen yang sebenarnya tidak pernah mereka niatkan untuk dipenuhi," imbuh dia.
Dalam laporannya, Morgan Stanley menyebutkan gelombang panas justru memberikan keuntungan besar bagi perusahaan pendingin udara.
Pasar global dapat tumbuh sebesar 41 persen untuk mencapai nilai 331 miliar dolar AS pada akhir dekade ini. Analisis tersebut mencantumkan beberapa perusahaan pendingin udara di seluruh dunia akan meraup keuntungan besar.
Namun, laporan Morgan Stanley mencatat penggunaan pendingin udara yang meningkat pesat terutama di negara-negara kaya bukanlah solusi krisis iklim.
Baca juga: Bisakah Menanam Pohon di Kutub Utara Atasi Pemanasan Global?
Apabila didorong bahan bakar fosil, penggunaan AC berpotensi meningkatkan emisi dan suhu dunia.
“Morgan Stanley Research tidak memberikan pandangan yang pasti, kami menilai bukti yang diberikan oleh para ahli seperti yang dikembangkan oleh komunitas ilmiah,” jelas Kepala Global Riset Keberlanjutan Morgan Stanley, Stephen Byrd.
Dirinya memastikan, perusahaan tidak menilai perubahan iklim membawa banyak keuntungan.
“Saya justru akan berpandangan bahwa kita akan melihat sejumlah besar modal dikerahkan untuk mengurangi dampak perubahan iklim," tutur Byrd.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya