KOMPAS.com - Kumpulan mantan pemimpin negara di dunia, The Elders, mendesak Uni Eropa untuk melanjutkan upaya mitigasi perubahan iklim. Desakan itu mencuat seiring keluarnya Amerika Serikat dari beberapa program pendanaan iklim global.
Mantan Presiden Irlandia, Mary Robinson, menilai, Uni Eropa berkesempatan merebut kepemimpinan Amerika Serikat di pasar teknologi bersih serta memimpin kebijakan iklim secara lebih luas.
"Krisis penarikan diri federal Amerika Serikat dari segala hal yang berkaitan dengan iklim dan sains merupakan peluang bagi Uni Eropa, Inggris Raya, dan sejujurnya, seluruh dunia," ungkap Robinson dikutip dari Reuters, Jumat (4/4/2025).
Adapun Presiden AS, Donald Trump, memutuskan negaranya untuk mengundurkan diri dari Perjanjian Paris beberapa waktu lalu. Selain itu, AS juga hengkang dari keanggotaan Just Energy Transition Partnership (JETP).
Baca juga: Dampak Ekonomi Perubahan Iklim, Dunia Bisa Kehilangan 40 Persen GDP
Robinson memperingatkan Brussels agar tidak membiarkan perang Rusia di Ukraina, ataupun perang dagang dan retorika anti iklim Trump mendikte pemikiran jangka panjang terhadap isu iklim.
Menurut dia, saat ini sudah banyak perusahaan yang mampu mendukung transisi hijau.
"Bergerak secepat yang dapat dilakukan Uni Eropa dalam transisi hijau adalah cara yang tepat untuk merespons. Penting bagi Eropa untuk berpegang teguh pada prinsipnya, kebijakan industri hijaunya, dan tidak mengingkarinya,” jelas Robinson.
Para mantan pemimpin dunia ini, bakal bertemu dengan pejabat Uni Eropa dan NATO di akhir April 2025. Pertemuan digelar saat Uni Eropa akan melemahkan aturan yang mengharuskan perusahaan mengungkapkan langkah-langkah mitigasi iklimnya.
Robinson bersama mantan perdana menteri Norwegia, Gro Harlem Brundtland, serta aktivis hak asasi manusia internasional Denis Mukwege juga akan mendesak Brussels untuk mengatasi ancaman terbesar dunia.
Pihaknya mendorong Uni Eropa membuat rencana aksi iklim yang tepat waktu dan ambisius.
Didirikan pada tahun 2007, The Elders memperjuangkan perdamaian, keadilan, hak asasi manusia, dan bumi yang berkelanjutan. Kelompok tersebut beranggotakan mantan Sekretaris Jenderal PBB Ban Ki-moon dan mantan Perdana Menteri Selandia Baru Helen Clark.
Baca juga: Jaga Iklim Investasi, LPEM FEB UI Tekankan Pentingnya Penataan Sawit yang Baik
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya