JAKARTA, KOMPAS.com - Pemerintah Indonesia membuka peluang melanjutkan kerja sama dengan Amerika Serikat untuk membangun fasilitas carbon, capture, storage atau CCS serta mineral kritis.
Hal ini disampaikan Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, saat membahas kerja sama perdagangan dengan Anggota Kongres Amerika Serikat dari Partai Republik, Carol Miller.
“Kerja sama strategis dengan Amerika Serikat pada kedua sektor ini, dapat secara signfiikan mendorong posisi Indonesia pada sektor ekonomi bersih dan rantai pasok mineral kritis global,” ujar Airlangga dalam keterangannya, Sabtu (5/3/2025).
Baca juga: Kementerian ESDM Sebut Penurunan Emisi Karbon 2024 Lampaui Target
Sejauh ini, dua perusahaan multinasional tengah bersiap membangun fasilitas CCS di Indonesia. Staf Khusus Dewan Energi Nasional bidang Energi dan Ekonomi Keberlanjutan, Jodi Mahardi, mengatakan perusahaan itu antara lain British Petroleum (BP) melalui proyek Tangguh dan ExxonMobil bersama PT Pertamina.
"Harapannya sudah ada dua yang sudah bisa memulai ada implementasi (CCS). Satu di BP Tangguh kemudian Exxon dengan Pertamina di Sunda Asri," ungkap Jodi, Kamis (6/3/2025).
Jodi menjelaskan, investasi sudah masuk dan proyek CCS memiliki kerangka waktu yang jelas. Menurut dia, BP juga mulai membangun carbon, capture, utilization, and storage (CCUS).
"Di Tangguh sudah mulai aktivitasnya, yang Sunda Asri pun sekarang harapannya bisa ada di tahun ini ada crystal drilling yang bisa dimulai," tutur Jodi.
Pada tahap awal, ExxonMobil mengucurkan investasi hingga 10 miliar dolar AS atau sekitar Rp162 triliun untuk mengembangkan proyek CCS dan pabrik petrokimia.
Ini ditandai dengan penandatanganan nota kesepahaman oleh Kemenko Perekonomian dan ExxonMobil, Rabu (22/1/2025).
Baca juga: Amazon Luncurkan Layanan Investasi Kredit Karbon, Apa Itu?
Sementara, BP memutuskan investasi atas proyek Tangguh Ubadari, CCUS, dan Compression (UCC) senilai 7 miliar dolar AS.
Adapun dalam diskusinya, Airlangga turut menyoroti posisi Indonesia dalam tatanan kawasan Indo-Pasifik, hingga peran strategis Indonesia dalam forum multilateral seperti ASEAN, G20, dan APEC.
Dia meyakini, Indonesia dapat membuka peluang kerja sama dengan AS pada beberapa sektor antara lain investasi dan perdagangan komoditas kedua negara.
“Indonesia sangat mengapresiasi hubungan bilateral yang baik dengan Amerika Serikat, baik dalam kerja sama ekonomi maupun bentuk lainnya," ucap Airlangga.
"Untuk mendukung ketahanan pangan domestik, kami berharap bahwa kerja sama perdagangan pada komoditas pangan esensial seperti kacang kedelai dan gandum dapat diteruskan,” imbuh dia.
Baca juga: PBB: Pengurangan Jejak Karbon Bangunan Perlu Segera Dilakukan
Sementara itu, Miller menerangkan bahwa AS akan berfokus pada tiga aspek yang menjadi prioritas hubungan dengan Indonesia pada masa pemerintahan Presiden Doland Trump yaitu kerja sama, stabilitas kawasan, serta keamanan.
“Good trading partners makes good friends, kami mengapresiasi peran penting Indonesia dalam kawasan Indo-Pasifik dan ASEAN, serta akan terus menjalin hubungan diplomatik secara bilateral yang baik dengan Indonesia,” sebut Miller.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya