Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Proyek Energi Hijau Milik AS Terancam, Pendanaan Miliaran Dollar Bakal Dipangkas

Kompas.com, 5 April 2025, 16:55 WIB
Zintan Prihatini,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Departemen Energi Amerika Serikat tengah mempertimbangkan pemotongan dana miliaran dolar untuk proyek energi hijau yang baru berkembang seperti teknologi penangkapan karbon. Padahal, pendanaan pemerintah sangat dibutuhkan.

Mengutip Reuters, Sabtu (5/4/2025), ada empat proyek percontohan penangkapan karbon yang terancam mengalami pemangkasan dana. Proyek ini mendapatkan pendanaan sebesar 309 juta dollar AS pada 2024.

Sedangkan tiga proyek demonstrasi tahap lanjut di California, Texas, dan Dakota Utara menerima 890 juta dolar AS untuk teknologi carbon capture, transport, and storage.

Baca juga: Eksplorasi Metode Konversi Etanol ke Bensin Buka Potensi Energi Hijau Indonesia

"Semua anggota kami berpendapat bahwa ini adalah proyek-proyek yang sangat penting. Jadi menarik kembali dana pada saat seperti ini adalah bencana," ungkap Direktur Eksekutif Coalition Carbon Capture, Jessie Stolark.

Kendati demikian, Departemen Energi AS belum memberikan tanggapan terkait rencana itu. Daftar tersebut juga menunjukkan rencana pemotongan dana untuk enam dari sembilan proyek penyimpanan baterai.

Perusahaan yang terlibat sempat diberikan dana sebesar 350 juta dollar AS, guna mengembangkan teknologi yang dapat membantu utilitas serta operator jaringan untuk mengintegrasikan sumber energi terbarukan seperti tenaga surya dan angin.

Proyeknya digarap perusahaan NextEra dengan pendanaan hingga 49 juta dollar AS untuk memasang baterai seng-bromida di fasilitas surya dan angin tiga negara bagian.

Kemudian, Westinghouse memperoleh dana 50 juta dollar AS untuk sistem penyimpanan termal yang dipompa di Alaska.

Lainnya yang terdampak termasuk startup seperti Smartville dan ReJoule, yang mengubah kembali baterai kendaraan listrik bekas, serta Urban Electric Power di New York yang mengembangkan baterai seng mangan dioksida.

Baca juga: Transisi Energi Hijau Harus Bawa Kemakmuran dan Kesetaraan

"Kami sedang bekerja keras untuk mengomunikasikan pentingnya pekerjaan kami kepada Menteri Energi Chris Wright, dan sedang berinteraksi dengan perwakilan kongres kami untuk memastikan dukungan berkelanjutan bagi inovasi energi," ungkap salah satu pendiri ReJoule, Zora Chung.

"Mengingat pentingnya ketahanan energi domestik dan teknologi baterai canggih, kami percaya ini adalah masalah kepentingan nasional yang melampaui batasan partai,” imbuh dia.

Sejauh ini, AS telah mengurangi pendanaan untuk proyek-proyek energi bersih sejak Presiden Donald Trump menjabat pada Januari lalu. Pemerintahannya memprioritaskan produksi bahan bakar fosil sebagai bagian dari agenda energi dominan mereka.

Menteri Energi AS, Chris Wright, disebut sudah meninjau daftar proyek yang didanai melalui Undang-Undang dalam mempertimbangkan proyek mana yang disetujui oleh kongres untuk dihentikan pendanaannya.

Di sisi lain, rencana pemotongan pendanaan dikritik sekelompok anggota Partai Demokrat melalui suratnya kepada Departemen Energi.

Baca juga: Khawatir Pajak Karbon Negara Kaya, Afrika Selatan Serukan Transisi Energi Hijau Secepatnya

"Tampaknya beberapa proyek yang sebelumnya dianggap layak untuk didanai dibatalkan tanpa justifikasi yang memadai, dan dalam beberapa kasus tanpa alasan yang jelas selain kenyamanan administratif," tulis mereka.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Waspada Bias Gender dalam Interaksi Manusia dan AI
Waspada Bias Gender dalam Interaksi Manusia dan AI
LSM/Figur
IPB University Raih Peringkat 48 Global Bidang Agriculture & Forestry versi QS WUR
IPB University Raih Peringkat 48 Global Bidang Agriculture & Forestry versi QS WUR
Pemerintah
Hujan di Indonesia Diprediksi hingga Akhir Maret 2026, Panas Masih Mengintai
Hujan di Indonesia Diprediksi hingga Akhir Maret 2026, Panas Masih Mengintai
Pemerintah
Karhutla Indonesia 2025 Capai 359.000 Hektar, Ini 7 Provinsi yang Rawan
Karhutla Indonesia 2025 Capai 359.000 Hektar, Ini 7 Provinsi yang Rawan
Pemerintah
Konservasionis Orangutan Birute Galdikas Meninggal, Ingin Dimakamkan di Kalteng
Konservasionis Orangutan Birute Galdikas Meninggal, Ingin Dimakamkan di Kalteng
Pemerintah
Tapak Tilas Kejayaan Tanggulangin, Sentra Tas yang Jadi Incaran Pejabat dan Turis
Tapak Tilas Kejayaan Tanggulangin, Sentra Tas yang Jadi Incaran Pejabat dan Turis
Swasta
Kapan Permintaan Minyak Bumi Global Mencapai Puncak?
Kapan Permintaan Minyak Bumi Global Mencapai Puncak?
Swasta
BRIN Temukan Spesies Tanaman Endemik Baru Mirip Lidah Kucing di Sumut
BRIN Temukan Spesies Tanaman Endemik Baru Mirip Lidah Kucing di Sumut
Pemerintah
Punya Potensi EBT Besar, NTT Percepat Transisi Energi
Punya Potensi EBT Besar, NTT Percepat Transisi Energi
Pemerintah
Karhutla Awal 2026 Naik Dibandingkan Tahun El Nino 2019 dan 2023, Ada Apa?
Karhutla Awal 2026 Naik Dibandingkan Tahun El Nino 2019 dan 2023, Ada Apa?
Pemerintah
Indonesia Masuk Daftar Negara Paling Berpolusi di Dunia 2025 Versi IQAir
Indonesia Masuk Daftar Negara Paling Berpolusi di Dunia 2025 Versi IQAir
LSM/Figur
Indonesia Butuh Lebih dari Sekadar WFH, Ahli Jelaskan Alasannya
Indonesia Butuh Lebih dari Sekadar WFH, Ahli Jelaskan Alasannya
LSM/Figur
Polusi Plastik Mulai Cemari Hutan Dunia
Polusi Plastik Mulai Cemari Hutan Dunia
LSM/Figur
Bisakah Kebun Kelapa Sawit Jadi Hutan Lagi? Ini Penjelasan KLH Soal Reforestasi
Bisakah Kebun Kelapa Sawit Jadi Hutan Lagi? Ini Penjelasan KLH Soal Reforestasi
Pemerintah
Ini Negara dengan Kualitas Udara Terburuk di Dunia 2025, Ada Pakistan
Ini Negara dengan Kualitas Udara Terburuk di Dunia 2025, Ada Pakistan
LSM/Figur
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau