Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Perubahan Iklim Ancam Masa Depan Pisang

Kompas.com, 12 Mei 2025, 15:59 WIB
Monika Novena,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Badan amal pembangunan internasional Christian Aid mendesak negara-negara maju untuk segera mengurangi emisi karbon mereka guna membendung dampak perubahan iklim yang terus meningkat.

Salah satu dampak yang dikhawatirkan ini adalah ancaman yang makin besar terhadap produksi pisang.

Analisis baru yang dirilis oleh Christian Aid menyebut para petani melaporkan bahwa meningkatnya suhu dan hama karena iklim telah merusak tanaman mereka sehingga membahayakan masa depan pisang.

Mengutip Independent, Senin (12/5/2025) laporan menggambarkan secara gamblang bagaimana perubahan iklim dapat menghancurkan wilayah-wilayah penghasil pisang.

Baca juga: FAO: Ada 6.000 Tanaman Pangan, Mirisnya Kita Tergantung pada 9 Jenis

Misalnya, hampir dua pertiga wilayah yang paling cocok untuk budidaya pisang di Amerika Latin dan Karibia dapat hilang pada 2080. Padahal wilayah tersebut menghasilkan sekitar 80 persen ekspor pisang global. Potensi gangguan signifikan terhadap pasar pun bisa terjadi.

Pisang tumbuh dalam kisaran suhu antara 15-35 derajat C tetapi juga sangat sensitif terhadap kekurangan air, yang berarti cuaca yang semakin ekstrem memengaruhi kemampuan tanaman untuk berfotosintesis.

Penyakit seperti fusarium tropical race 4 juga muncul sebagai ancaman yang semakin meningkat dalam beberapa tahun terakhir, yang menyebabkan hilangnya seluruh lahan pertanian di seluruh Amerika Latin.

Berkaitan dengan temuan tersebut, Christian Aid mendesak negara-negara maju untuk segera mengurangi emisi karbon mereka guna membendung dampak perubahan iklim yang semakin besar.

Christian Aid juga menyerukan pendanaan iklim internasional untuk mendukung petani pisang dan masyarakat pertanian agar dapat beradaptasi dengan perubahan iklim.

“Pisang bukan hanya buah favorit di dunia, tetapi juga merupakan makanan pokok bagi jutaan orang," kata Osai Ojigho, direktur kebijakan dan kampanye Christian Aid.

Terganggunya produksi pisang juga bakal mengganggu kehidupan dan mata pencaharian orang-orang.

Konsumen dan bisnis juga didesak untuk memilih pisang yang disertifikasi sebagai Fairtrade, yang memastikan petani dibayar lebih untuk hasil panen mereka.

Baca juga: Kekeringan dan Gelombang Panas Bikin Tanaman Sulit Serap Karbon

“Tanpa harga yang adil, petani pisang tidak akan mampu memenuhi kebutuhan," ungkap Anna Pierides, manajer sumber berkelanjutan senior Yayasan Fairtrade untuk pisang.

Holly Woodward-Davey, koordinator proyek di Banana Link, sebuah organisasi yang bekerja di seluruh rantai pasok pisang menambahkan perlu perubahan mendasar dalam sistem produksi pangan industri, khususnya dalam konteks rantai pasok pisang.

Ia menekankan pula bahwa krisis iklim dan hilangnya keanekaragaman hayati menuntut adanya inovasi dan pengurangan ketergantungan pada bahan kimia berbahaya yang saat ini menjadi ciri khas produksi pangan skala besar.

“Pemerintah harus terus mengambil tindakan tegas untuk mengurangi emisi gas rumah kaca dan melarang bahan kimia paling beracun sambil berinvestasi dalam transisi menuju sistem pangan yang adil, stabil, dan sehat,” katanya.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Dua Desa di Kaltim Ditetapkan Jadi Area Konservasi Pesut Mahakam
Dua Desa di Kaltim Ditetapkan Jadi Area Konservasi Pesut Mahakam
Pemerintah
Studi Ungkap 50 Persen Perairan Dunia Terkontaminasi Sampah
Studi Ungkap 50 Persen Perairan Dunia Terkontaminasi Sampah
LSM/Figur
Volume Sampah Dunia Diprediksi Melonjak 80 Persen pada 2050
Volume Sampah Dunia Diprediksi Melonjak 80 Persen pada 2050
Pemerintah
Ambisi Korsel: 60 Persen Motor Pengirim Barang Wajib Listrik pada 2035
Ambisi Korsel: 60 Persen Motor Pengirim Barang Wajib Listrik pada 2035
Pemerintah
Inggris Berencana Pangkas Pendanaan Iklim untuk Negara Berkembang
Inggris Berencana Pangkas Pendanaan Iklim untuk Negara Berkembang
Pemerintah
Bali Jadi Pusat Pariwisata, tapi Sampah Lautnya Kian Meningkat
Bali Jadi Pusat Pariwisata, tapi Sampah Lautnya Kian Meningkat
Pemerintah
Disebut Asia Tenggara Kontributor Terbesar, Kenapa Kadar Metana di Awal Tahun 2020-an Pecah Rekor
Disebut Asia Tenggara Kontributor Terbesar, Kenapa Kadar Metana di Awal Tahun 2020-an Pecah Rekor
Pemerintah
Peneliti Kaitkan Naiknya Kasus Gigitan Hiu dengan Perubahan Iklim
Peneliti Kaitkan Naiknya Kasus Gigitan Hiu dengan Perubahan Iklim
Pemerintah
Tren Global Predator Darat Berburu di Pesisir, Lebih dari 7.000 Penguin di Argentina Mati Selama 4 Tahun
Tren Global Predator Darat Berburu di Pesisir, Lebih dari 7.000 Penguin di Argentina Mati Selama 4 Tahun
LSM/Figur
SBTi Siapkan Standar Emisi Nol Bersih Baru bagi Industri Otomotif
SBTi Siapkan Standar Emisi Nol Bersih Baru bagi Industri Otomotif
LSM/Figur
Uni Eropa Terancam Kekurangan Bahan Mentah untuk Transisi Energi Bersih
Uni Eropa Terancam Kekurangan Bahan Mentah untuk Transisi Energi Bersih
Pemerintah
Patahkan Stigma, Inilah Kisah Kolaborasi Petani dengan Industri Tambang yang Bertanggung Jawab
Patahkan Stigma, Inilah Kisah Kolaborasi Petani dengan Industri Tambang yang Bertanggung Jawab
Swasta
United Tractors Cabang Padang Raih Penghargaan Kementerian UMKM
United Tractors Cabang Padang Raih Penghargaan Kementerian UMKM
Swasta
Menteri LH Larang Insinerator Mini di Bandung, Benarkah Emisinya Lebih Berbahaya?
Menteri LH Larang Insinerator Mini di Bandung, Benarkah Emisinya Lebih Berbahaya?
LSM/Figur
RDF Rorotan Bantu Kurangi Beban Bantargebang, Ini Cerita Warga
RDF Rorotan Bantu Kurangi Beban Bantargebang, Ini Cerita Warga
LSM/Figur
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp 5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau