Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Potensi Green Zakat Capai Rp 327 T per Tahun, Bisa untuk Dana Iklim

Kompas.com, 19 Mei 2025, 14:00 WIB
Eriana Widya Astuti,
Yunanto Wiji Utomo

Tim Redaksi

JAKARTA, KOMPAS.com — Dekan Fakultas Ekonomi dan Manajemen (FEM) IPB University, Irfan Syauqi Beik, menyatakan bahwa green zakat berpotensi menjadi salah satu solusi menghadapi krisis iklim yang semakin mendesak.

Green zakat merujuk pada penyaluran zakat yang tidak hanya bersifat konsumtif, tetapi juga diarahkan untuk mendukung inisiatif ekonomi hijau seperti pertanian organik, energi terbarukan, dan rehabilitasi lingkungan.

Dengan potensi zakat nasional yang diperkirakan mencapai Rp327 triliun per tahun, Irfan menilai zakat bisa dimanfaatkan sebagai instrumen pembangunan berkelanjutan yang ramah lingkungan.

“Paradigma green zakat mulai dilirik banyak pihak karena dinilai relevan dalam mitigasi dan adaptasi perubahan iklim. Ini sangat krusial mengingat dampak krisis iklim global semakin nyata,” ujar Irfan dalam keterangan resmi, Senin (19/5/2025).

Irfan mengingatkan, jika Indonesia tidak segera menurunkan emisi karbon, negara ini terancam kehilangan hingga 30 persen Produk Domestik Bruto (PDB) pada 2070. Potensi kerugian ekonomi ini bisa menimbulkan dampak sosial luas seperti meningkatnya pengangguran, penurunan pendapatan, hingga terganggunya ketahanan pangan.

Ia mendorong pemanfaatan zakat untuk pemberdayaan masyarakat melalui pengembangan usaha-usaha halal yang juga ramah lingkungan. Salah satu contohnya adalah sektor kuliner, yang menurutnya seharusnya tidak hanya fokus pada sertifikasi halal, tetapi juga memperhatikan pengurangan sampah plastik dan penggunaan energi bersih.

Baca juga: Green Zakat, Baznas Ajak Umat Peduli Pembangunan Berkelanjutan

Irfan juga menekankan pentingnya kesadaran di kalangan muzakki (pembayar zakat) agar harta yang dizakatkan tidak berasal dari aktivitas yang merusak lingkungan.

“Krisis iklim bisa makin parah jika sumber kekayaan justru datang dari praktik yang tidak berkelanjutan,” tambahnya.

Sebagai langkah konkret, saat ini tengah dikembangkan Green Zakat Framework, sebuah inisiatif kolaboratif antara Bank Syariah Indonesia (BSI), Badan Amil Zakat Nasional (Baznas), dan United Nations Development Programme (UNDP).

Framework ini dirancang sebagai panduan implementasi zakat dalam konteks keberlanjutan lingkungan. Isinya mencakup definisi green zakat, peran pemangku kepentingan, serta rekomendasi kebijakan untuk mendorong aksi nyata.

Irfan juga menyoroti peran strategis lembaga zakat sebagai pembeli pertama (first buyer) produk-produk ramah lingkungan yang dihasilkan oleh kalangan mustahik (penerima zakat). Strategi ini dinilai dapat memperkuat pemberdayaan ekonomi dari hulu ke hilir.

Ia pun mengajak seluruh lembaga zakat dan institusi syariah untuk mengadopsi framework tersebut sebagai gerakan bersama menuju masa depan yang lebih hijau.

“Kesadaran green culture harus dibangun, bukan hanya sebagai konsep, tetapi sebagai budaya yang dijalankan bersama. Green zakat adalah bagian dari transformasi zakat menjadi instrumen perubahan sosial dan lingkungan,” pungkas Irfan.

Baca juga: Kerangka Kerja Zakat Hijau Dikembangkan, Integrasikan Aspek ESG

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau