Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Ruang Hijau Tidak Cukup, Kota-kota Kita Perlu Diliarkan Kembali

Kompas.com, 27 Mei 2025, 18:34 WIB
Eriana Widya Astuti,
Yunanto Wiji Utomo

Tim Redaksi

KOMPAS.com — Pembangunan mendorong perluasan kota. Pada saat yang sama, biodiversitas semakin menurun. Sejumlah spesies terancam punah.

Bagaimana kita harus mengembangkan kota pada masa depan sehingga tak cuma mencegah kepunahan, tetapi juga memperkaya kembali biodiversitas?

Dalam artikelnya di jurnal Bioscience, Mei 2025, Patrick Finnerty dari University of Sydney mengungkapkan pentinya "meliarkan kembali (rewilding) kota."

Meliarkan kota bukan sekadar membuat area hijau, tetapi mengoptimalkan area itu sehingga merepresentasikan alam liar yang sebenarnya.

Dengan demikian, pendekatan seperti menanam pohon, apalagi pohon yang asing bagi suatu wilayah, tidak cukup.

Baca juga: Punya Banyak Manfaat, Kota Harus Utamakan Infrastruktur Hijau

Meliarkan kembali juga mencakup pengenalan kembali spesies fauna yang "hilang" dan punya peran penting dalam ekosistem kota.

Finnerty mengungkapkan, "Memperkenalkan kembali spesies ke tempat tinggal dan kerja manusia merupakan peluang untuk memastikan keterlibatan masyarakat."

Langkah itu akan menumbuhkan rasa kepemilikan, mendorong kolaborasi dalam proses peliaran kembali, serta memelihara hubungan yang lebih erat antara warga dan ekosistem.

Diwartakan Phys, Selasa (27/5/2025), upaya meliarkan kembali saat ini belum banyak jadi perhatian pengelola kota.

Setidaknya, itu tergambar dari penelitian yang ada. Hanya 1,2 persen dari 2.812 artikel ilmiah yang memaparkan soal peliaran kembali hingga tahap memperkenalkan fauna penting.

Sebaliknya, mayoritas (65 persen) upaya pemulihan difokuskan secara eksklusif pada vegetasi atau tanaman semata. 

Para peneliti menyimpulkan bahwa pemulihan alam liar di perkotaan dapat melengkapi inisiatif pemulihan ekologi yang lebih luas sekaligus memberikan manfaat kesehatan, fisik dan mental.

“Manfaat keterlibatan masyarakat dalam upaya pengembalian alam liar perkotaan melampaui pemupukan sikap pro-lingkungan,” ujar Finnerty.

Baca juga: Anak Muda Butuh Ruang Hijau, Mampukah Kota Masa Depan Menjawabnya?

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp 5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau