Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Setiap Makanan Berisiko Terkontaminasi Mikroplastik dari Kemasan

Kompas.com, 6 Juli 2025, 14:04 WIB
Add on Google
Monika Novena,
Yunanto Wiji Utomo

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Kita tidak perlu melakukan hal aneh-aneh untuk terpapar mikroplastik.

Sebuah ulasan mendalam dari 103 penelitian ilmiah dan dipublikasikan di NPJ Science of Food menemukan kita bisa dengan mudahnya terpapar mikroplastik dari kemasan makanan.

Studi itu menemukan bahwa tindakan sesederhana membuka botol minuman plastik atau menggunakan talenan plastik dapat melepaskan partikel-partikel kecil polimer umum ke dalam makanan.

Bukan hanya plastik murni, tetapi juga produk yang tampaknya "aman" seperti botol kaca dengan segel plastik atau kotak pizza berlapis plastik, juga menjadi sumber kontaminasi mikroplastik yang signifikan. Mikroplastik ini tersebar dari produk-produk tersebut dengan mudah dan dalam jumlah besar

Ini menunjukkan bahwa paparan mikroplastik dalam makanan bisa terjadi dari sumber-sumber yang tidak terduga dalam kehidupan kita.

Baca juga: Riset Dampak Mikroplastik, Publik Bisa Terlibat lewat Citizen Science

"Ini adalah penelitian pertama yang secara terorganisir dan komprehensif menunjukkan bahwa bahkan dengan menggunakan kemasan plastik makanan secara wajar dan benar, makanan di dalamnya tetap bisa tercemar oleh mikroplastik hingga nanoplastik," kata ahli biologi Lisa Zimmermann dari Forum Kemasan Makanan nirlaba di Swiss, dikutip dari Science Alert, Jumat (4/7/2025).

"Kami menemukan bahwa kemasan makanan sebenarnya adalah sumber langsung dari mikro dan nanoplastik," paparnya lagi.

Plastik, meskipun sangat berguna dan murah, memiliki sisi gelap.

Meskipun plastik tahan lama dan tidak mudah hancur, bukan berarti ia tidak akan pecah menjadi bagian-bagian yang sangat kecil. Fragmen-fragmen mikro ini, yang sering disebut mikroplastik, dengan mudah menyebar ke seluruh lingkungan dan ekosistem.

Penelitian bahkan telah menemukan mikroplastik di seluruh tubuh manusia, termasuk plasenta.

Yang membuat hal ini semakin mengkhawatirkan adalah kita hanya memiliki sedikit gambaran tentang dampaknya terhadap kesehatan.

Namun sebuah penelitian tahun lalu menemukan bahwa pasien jantung dan stroke dengan konsentrasi mikroplastik yang tinggi di plak arteri karotis mereka memiliki risiko kematian yang jauh lebih tinggi.

Lebih lanjut, peneliti juga menemukan untuk beberapa barang plastik yang dapat digunakan kembali seperti mangkuk melamin, jumlah mikroplastik yang terlepas meningkat setiap kali dicuci. Hal ini menunjukkan bahwa pemanasan dan abrasi yang berulang meningkatkan laju kerusakan barang-barang ini.

Baca juga: Mikroplastik Bisa Bersatu dengan Ganggang dan Tenggelam ke Dasar Laut

Para peneliti juga mencatat bahwa makanan yang diproses secara berlebihan mengandung lebih banyak mikroplastik daripada makanan yang diproses secara minimal.

Alasannya sederhana: lebih banyak langkah pemrosesan berarti paparan yang lebih besar terhadap peralatan pemrosesan makanan plastik, yang mengakibatkan lebih banyak mikroplastik dan nanoplastik dalam produk akhir.

Para peneliti menyimpulkan bahwa berdasarkan penemuan mereka, sangat penting untuk tidak hanya melakukan lebih banyak riset mengenai mikroplastik, tetapi juga untuk segera mengambil tindakan nyata guna mengurangi penggunaan plastik dalam kemasan dan saat menyiapkan makanan.

"Studi kami menunjukkan bahwa produk plastik yang bersentuhan langsung dengan makanan bisa melepaskan partikel mikro dan nanoplastik ke dalam makanan tersebut, bahkan jika digunakan secara normal dan sesuai dengan tujuannya," tulis peneliti dalam makalahnya.

Belum ada kejelasan pasti mengenai seberapa besar kontribusi plastik kemasan makanan terhadap paparan mikroplastik pada manusia.

Kendati bukti lengkap belum ada, peneliti menyarankan pendekatan yang hati-hati untuk membatasi paparan manusia terhadap mikroplastik dan nanoplastik, terutama yang berasal dari kemasan makanan, karena ini adalah langkah yang bijaksana demi keamanan.

Baca juga: Dorong Daur Ulang Plastik di Sekolah, Mesin Penukar Sampah Pertama Hadir di Sukabumi

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Pelaku Usaha: Perdagangan Karbon Tak Semudah Dibayangkan
Pelaku Usaha: Perdagangan Karbon Tak Semudah Dibayangkan
Swasta
Kisah Perempuan Raja Ampat: Memimpin Komunitas dan Melestarikan Sasi
Kisah Perempuan Raja Ampat: Memimpin Komunitas dan Melestarikan Sasi
LSM/Figur
LPDB Umumkan 15 Inkubator Terpilih Dampingi Koperasi Merah Putih 'Naik Kelas', Terbanyak di Jabar
LPDB Umumkan 15 Inkubator Terpilih Dampingi Koperasi Merah Putih 'Naik Kelas', Terbanyak di Jabar
Pemerintah
Akademisi: Optimasi Sistem Pengisian Kendaraan Listrik Diperlukan untuk Dukung Transisi Energi
Akademisi: Optimasi Sistem Pengisian Kendaraan Listrik Diperlukan untuk Dukung Transisi Energi
Pemerintah
328 KK di Sulawesi Utara Kantongi Izin Kelola Hutan Seluas 1.742 Hektar
328 KK di Sulawesi Utara Kantongi Izin Kelola Hutan Seluas 1.742 Hektar
Pemerintah
KLH Siapkan Pembentukan PRO untuk Perkuat Tanggung Jawab Produsen Kelola Sampah
KLH Siapkan Pembentukan PRO untuk Perkuat Tanggung Jawab Produsen Kelola Sampah
Pemerintah
BMKG Prediksi Hujan Lebat Bakal Landa Sejumlah Wilayah Jelang Musim Kemarau
BMKG Prediksi Hujan Lebat Bakal Landa Sejumlah Wilayah Jelang Musim Kemarau
Pemerintah
Investor Desak Industri Logistik Kurangi Emisi
Investor Desak Industri Logistik Kurangi Emisi
Swasta
PBB: Konflik Sebabkan Progres Pembangunan Global Terancam Mundur Drastis
PBB: Konflik Sebabkan Progres Pembangunan Global Terancam Mundur Drastis
Pemerintah
PSEL Bakal Dibangun di Kaltim, Kelola hingga 1.000 Ton Sampah per Hari
PSEL Bakal Dibangun di Kaltim, Kelola hingga 1.000 Ton Sampah per Hari
Pemerintah
Java Fresh Perluas Ekspor ke China, Perkuat Riset untuk Perpanjang Masa Simpan Buah
Java Fresh Perluas Ekspor ke China, Perkuat Riset untuk Perpanjang Masa Simpan Buah
Swasta
Komitmen Net-Zero Perusahaan Global Tumbuh 61 Persen pada 2025
Komitmen Net-Zero Perusahaan Global Tumbuh 61 Persen pada 2025
Pemerintah
Waspadai Perdagangan Satwa Liar Berisiko Tularkan Penyakit ke Manusia
Waspadai Perdagangan Satwa Liar Berisiko Tularkan Penyakit ke Manusia
Pemerintah
Enam Kali Raih Proper Emas, Sido Muncul Buktikan Praktik Ramah Lingkungan Dimulai dari Kegiatan Sehari-hari
Enam Kali Raih Proper Emas, Sido Muncul Buktikan Praktik Ramah Lingkungan Dimulai dari Kegiatan Sehari-hari
BrandzView
Dari Kebun Manggis ke Supermarket Eropa, Ini Keunggulan Indonesia Ketimbang Negara Tetangga
Dari Kebun Manggis ke Supermarket Eropa, Ini Keunggulan Indonesia Ketimbang Negara Tetangga
Swasta
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau