Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Lama Dilindungi Mitos, Bajing Albino Sangihe Kini Butuh Proteksi Tambahan

Kompas.com, 11 Juli 2025, 17:06 WIB
Eriana Widya Astuti,
Yunanto Wiji Utomo

Tim Redaksi

JAKARTA, KOMPAS.com — Dianggap keramat dan dijauhi manusia, bajing kelapa Sangihe (Prosciurillus rosenbergii) dalam kondisi albino atau leucistic mungkin aman dari perburuan.

Namun, keunikan genetik mereka justru membuat mereka lebih rentan di ekosistem tempat mereka hidup.

Bajing ini merupakan hewan endemis yang hanya ditemukan di kawasan Gunung Sahendaruman, Pulau Sangihe, Sulawesi Utara.

Beberapa individu ditemukan memiliki kondisi albino atau leucistic, yang membuat penampilannya tampak putih pucat dengan mata merah atau terang. Fenomena ini pertama kali diamati di Kampung Menggawa II dan Kampung Belengan, dua desa di kawasan hutan lindung Sahendaruman.

Di sana, masyarakat lokal, terutama generasi tua, percaya bahwa bajing albino atau leucistic adalah hewan mistis, bahkan diyakini sebagai jelmaan manusia.

“Banyak yang percaya, pertanda buruk jika bertemu dengannya di hutan. Jadi mereka akan berbalik arah atau cari jalan lain,” ujar William Christian Tutuarima, Community Facilitator Sangihe Site Burung Indonesia, dikutip dari laman Burung Indonesia, Jumat (11/7/2025).

Baca juga: Flora Langka Anggrek Biru Raja Ampat Perlu Perlindungan Serius

Pandangan itu secara tidak langsung membuat bajing ini dijauhi manusia. Hutan tempat mereka tinggal bahkan dianggap keramat, sehingga jarang dirusak. Namun di sisi lain, sebagian warga menganggap bajing ini hama karena kerap memakan kelapa dan buah-buahan.

Meski dilindungi secara budaya, bajing kelapa Sangihe albino dan leucistic tetap menghadapi kerentanan ekologis. Warna tubuh mereka yang mencolok membuat mereka mudah terlihat oleh predator seperti ular, elang, dan burung hantu. Mereka juga lebih sensitif terhadap sinar matahari dan sering dikucilkan oleh kelompoknya sendiri.

William menjelaskan bahwa kondisi albino dan leucistic disebabkan oleh mutasi genetik yang memengaruhi produksi melanin.

Hewan albino tidak memiliki pigmen sama sekali dan matanya berwarna merah muda atau merah, sedangkan leucistic mengalami pengurangan pigmen dan mata hewan leucistic umumnya berwarna normal. Keduanya hanya muncul jika kedua induk membawa gen resesif, gen pembawa sifat tersebut.

Di pulau kecil seperti Sangihe, isolasi geografis dan populasi yang kecil meningkatkan kemungkinan terjadinya mutasi genetik langka akibat perkawinan sedarah (inbreeding).

“Bajing ini merupakan salah satu dari tiga jenis tupai di Pulau Sangihe yang memiliki keunikan luar biasa,” kata William.

Di sisi lain, bajing kelapa Sangihe juga memiliki fungsi ekologis penting dalam keseimbangan hutan.

Ganjar Cahyo Aprianto, Conservation Programme Officer Sangihe Site Burung Indonesia, menyebut bahwa bajing ini membantu mengendalikan hama dengan memangsa serangga dan ulat kayu.

Baca juga: IPB Temukan Parasitoid Baru, Basmi Hama Padi dan Ubah Cara Pandang soal Alang-alang

“Ada pendapat masyarakat yang mengatakan bahwa bajing kelapa Sangihe memiliki peran sebagai pengontrol hama juga,” ujar Ganjar kepada Kompas.com, Jumat (11/7/2025).

Selain itu, bajing ini juga menjadi bagian dari rantai makanan alami sebagai sumber energi bagi predator yang menjaga keseimbangan ekosistem.

Meski status konservasinya dikategorikan Endangered (Genting) dalam IUCN Red List Database karena habitatnya sangat terbatas, yaitu hanya di Pulau Sangihe, hingga kini belum terlihat indikasi penurunan populasi yang signifikan.

Akan tetapi, menjaga keberadaan spesies ini, termasuk individu-individu unik yang albino dan leucistic, Burung Indonesia bersama masyarakat menggagas inisiatif Kesepakatan Alam Kampung (KEPAK). Program ini bertujuan melindungi satwa dan habitatnya melalui keterlibatan aktif masyarakat dalam pelestarian hutan.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Dua Desa di Kaltim Ditetapkan Jadi Area Konservasi Pesut Mahakam
Dua Desa di Kaltim Ditetapkan Jadi Area Konservasi Pesut Mahakam
Pemerintah
Studi Ungkap 50 Persen Perairan Dunia Terkontaminasi Sampah
Studi Ungkap 50 Persen Perairan Dunia Terkontaminasi Sampah
LSM/Figur
Volume Sampah Dunia Diprediksi Melonjak 80 Persen pada 2050
Volume Sampah Dunia Diprediksi Melonjak 80 Persen pada 2050
Pemerintah
Ambisi Korsel: 60 Persen Motor Pengirim Barang Wajib Listrik pada 2035
Ambisi Korsel: 60 Persen Motor Pengirim Barang Wajib Listrik pada 2035
Pemerintah
Inggris Berencana Pangkas Pendanaan Iklim untuk Negara Berkembang
Inggris Berencana Pangkas Pendanaan Iklim untuk Negara Berkembang
Pemerintah
Bali Jadi Pusat Pariwisata, tapi Sampah Lautnya Kian Meningkat
Bali Jadi Pusat Pariwisata, tapi Sampah Lautnya Kian Meningkat
Pemerintah
Disebut Asia Tenggara Kontributor Terbesar, Kenapa Kadar Metana di Awal Tahun 2020-an Pecah Rekor
Disebut Asia Tenggara Kontributor Terbesar, Kenapa Kadar Metana di Awal Tahun 2020-an Pecah Rekor
Pemerintah
Peneliti Kaitkan Naiknya Kasus Gigitan Hiu dengan Perubahan Iklim
Peneliti Kaitkan Naiknya Kasus Gigitan Hiu dengan Perubahan Iklim
Pemerintah
Tren Global Predator Darat Berburu di Pesisir, Lebih dari 7.000 Penguin di Argentina Mati Selama 4 Tahun
Tren Global Predator Darat Berburu di Pesisir, Lebih dari 7.000 Penguin di Argentina Mati Selama 4 Tahun
LSM/Figur
SBTi Siapkan Standar Emisi Nol Bersih Baru bagi Industri Otomotif
SBTi Siapkan Standar Emisi Nol Bersih Baru bagi Industri Otomotif
LSM/Figur
Uni Eropa Terancam Kekurangan Bahan Mentah untuk Transisi Energi Bersih
Uni Eropa Terancam Kekurangan Bahan Mentah untuk Transisi Energi Bersih
Pemerintah
Patahkan Stigma, Inilah Kisah Kolaborasi Petani dengan Industri Tambang yang Bertanggung Jawab
Patahkan Stigma, Inilah Kisah Kolaborasi Petani dengan Industri Tambang yang Bertanggung Jawab
Swasta
United Tractors Cabang Padang Raih Penghargaan Kementerian UMKM
United Tractors Cabang Padang Raih Penghargaan Kementerian UMKM
Swasta
Menteri LH Larang Insinerator Mini di Bandung, Benarkah Emisinya Lebih Berbahaya?
Menteri LH Larang Insinerator Mini di Bandung, Benarkah Emisinya Lebih Berbahaya?
LSM/Figur
RDF Rorotan Bantu Kurangi Beban Bantargebang, Ini Cerita Warga
RDF Rorotan Bantu Kurangi Beban Bantargebang, Ini Cerita Warga
LSM/Figur
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp 5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau