Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Gas Alam sebagai Energi Transisi, Dari Transportasi, Listrik, hingga Industri Petrokimia

Kompas.com, 21 Juli 2025, 10:45 WIB
Eriana Widya Astuti,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

JAKARTA, KOMPAS.com — Di tengah kebutuhan akan sumber energi yang lebih bersih untuk menekan polusi udara dan memperlambat laju perubahan iklim, gas alam dinilai memiliki peran dalam energi transisi bersih di berbagai sektor.

Kepala Pusat Pemanfaatan Karbon Dioksida dan Gas Suar Institut Teknologi Bandung (ITB), Sanggono Adisasmito, menyampaikan bahwa gas alam memiliki peran penting sebagai energi transisi, baik untuk keperluan transportasi, pembangkit listrik, maupun sebagai bahan baku strategis industri petrokimia nasional.

“Gas alam memegang peran yang penting karena merupakan salah satu energi primer untuk transisi energi yang bersih, baik untuk pembangkit listrik maupun keperluan transportasi,” ujar Sanggono, dikutip dari keterangan tertulis di laman ITB, Minggu (20/7/2025).

Dari sisi lingkungan, gas alam dinilai memiliki keunggulan karena menghasilkan emisi CO2 yang relatif lebih rendah dibandingkan bahan bakar minyak maupun batubara.

Dalam konteks transportasi, penggunaannya disebut mampu mengurangi emisi karbon hingga 30 persen dibandingkan diesel. Selain itu, emisi partikulat dan NOx dapat ditekan hingga 90 persen, serta tidak mengandung sulfur.

Menurut Sanggono, ini bisa menjadi solusi bahan bakar bersih menuju mobilitas berkelanjutan.

Baca juga: Batu Bara hingga Gas Alam Jadi Sumber Utama Hidrogen untuk Bahan Bakar

Selain manfaat lingkungan, gas alam juga dinilai lebih efisien dan ekonomis terhadap performa mesin kendaraan. Biaya perawatan mesin disebut dapat ditekan hingga 10–15 persen dibandingkan bensin, dan 12 persen dibandingkan diesel.

Kinerja mesin pun dinilai lebih unggul dengan rasio kompresi tinggi (120–130), yang mendukung pembakaran lebih efisien dan meningkatkan efisiensi termal menjadi 35–38 persen dibandingkan bensin.

Namun di sisi lain, pemanfaatan gas alam sebagai bahan bakar pembangkit listrik menghadapi tantangan dari segi biaya.

Sanggono menyebut bahwa, jika batubara sebagai bahan baku utama pembangkit digantikan oleh gas alam, maka biaya produksi listrik akan meningkat.

“Hari ini kita menikmati harga listrik yang murah karena bahan bakunya adalah batubara. Bila bahan baku digantikan oleh gas maka biayanya akan meningkat,” jelasnya.

Karena itu, menurutnya, penting bagi PT PLN untuk menyusun kebijakan bauran energi yang seimbang agar gas alam tetap bisa dimanfaatkan tanpa membebani masyarakat dengan lonjakan biaya listrik.

Selain sektor energi, gas alam juga memiliki potensi besar sebagai bahan baku industri petrokimia.

Baca juga: Selain Biodiesel, Pertamina NRE Dorong Bioetanol Jadi BBM

“Gas alam atau metana akan memiliki nilai jual yang tinggi apabila diubah menjadi komoditi petrokimia, misalnya metanol dan syngas,” ujar Sanggono.

Ia menambahkan, metanol dan syngas dapat diolah lebih lanjut menjadi produk turunan seperti MTBE (Methyl Tert-Butyl Ether), olefin, dan bensin.

Dengan demikian, produksi metanol dari gas alam tidak hanya mendukung kemandirian energi nasional, tetapi juga memperkuat rantai pasok biodiesel.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau