JAKARTA, KOMPAS.com — Di tengah kebutuhan akan sumber energi yang lebih bersih untuk menekan polusi udara dan memperlambat laju perubahan iklim, gas alam dinilai memiliki peran dalam energi transisi bersih di berbagai sektor.
Kepala Pusat Pemanfaatan Karbon Dioksida dan Gas Suar Institut Teknologi Bandung (ITB), Sanggono Adisasmito, menyampaikan bahwa gas alam memiliki peran penting sebagai energi transisi, baik untuk keperluan transportasi, pembangkit listrik, maupun sebagai bahan baku strategis industri petrokimia nasional.
“Gas alam memegang peran yang penting karena merupakan salah satu energi primer untuk transisi energi yang bersih, baik untuk pembangkit listrik maupun keperluan transportasi,” ujar Sanggono, dikutip dari keterangan tertulis di laman ITB, Minggu (20/7/2025).
Dari sisi lingkungan, gas alam dinilai memiliki keunggulan karena menghasilkan emisi CO2 yang relatif lebih rendah dibandingkan bahan bakar minyak maupun batubara.
Dalam konteks transportasi, penggunaannya disebut mampu mengurangi emisi karbon hingga 30 persen dibandingkan diesel. Selain itu, emisi partikulat dan NOx dapat ditekan hingga 90 persen, serta tidak mengandung sulfur.
Menurut Sanggono, ini bisa menjadi solusi bahan bakar bersih menuju mobilitas berkelanjutan.
Baca juga: Batu Bara hingga Gas Alam Jadi Sumber Utama Hidrogen untuk Bahan Bakar
Selain manfaat lingkungan, gas alam juga dinilai lebih efisien dan ekonomis terhadap performa mesin kendaraan. Biaya perawatan mesin disebut dapat ditekan hingga 10–15 persen dibandingkan bensin, dan 12 persen dibandingkan diesel.
Kinerja mesin pun dinilai lebih unggul dengan rasio kompresi tinggi (120–130), yang mendukung pembakaran lebih efisien dan meningkatkan efisiensi termal menjadi 35–38 persen dibandingkan bensin.
Namun di sisi lain, pemanfaatan gas alam sebagai bahan bakar pembangkit listrik menghadapi tantangan dari segi biaya.
Sanggono menyebut bahwa, jika batubara sebagai bahan baku utama pembangkit digantikan oleh gas alam, maka biaya produksi listrik akan meningkat.
“Hari ini kita menikmati harga listrik yang murah karena bahan bakunya adalah batubara. Bila bahan baku digantikan oleh gas maka biayanya akan meningkat,” jelasnya.
Karena itu, menurutnya, penting bagi PT PLN untuk menyusun kebijakan bauran energi yang seimbang agar gas alam tetap bisa dimanfaatkan tanpa membebani masyarakat dengan lonjakan biaya listrik.
Selain sektor energi, gas alam juga memiliki potensi besar sebagai bahan baku industri petrokimia.
Baca juga: Selain Biodiesel, Pertamina NRE Dorong Bioetanol Jadi BBM
“Gas alam atau metana akan memiliki nilai jual yang tinggi apabila diubah menjadi komoditi petrokimia, misalnya metanol dan syngas,” ujar Sanggono.
Ia menambahkan, metanol dan syngas dapat diolah lebih lanjut menjadi produk turunan seperti MTBE (Methyl Tert-Butyl Ether), olefin, dan bensin.
Dengan demikian, produksi metanol dari gas alam tidak hanya mendukung kemandirian energi nasional, tetapi juga memperkuat rantai pasok biodiesel.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya