KOMPAS.com - Kebijakan konservasi satwa liar tidak hanya bermanfaat untuk pelestarian spesies, tetapi juga memberikan manfaat iklim tambahan dari perlindungan habitat yang ditingkatkan.
Ini adalah temuan utama dari sebuah studi yang diterbitkan pada 26 Mei 2023 di jurnal Nature Ecology and Evolution.
Studi ini dilakukan oleh para peneliti di Centre for Nature-based Climate Solutions (CNCS), sebuah pusat penelitian di bawah Fakultas Sains National University of Singapore (NUS).
Dalam studi ini para peneliti mengukur manfaat iklim yang bisa didapatkan dari upaya konservasi harimau di India.
Seperti diberitakan di Eureka Alert, Selasa (31/6/2025), peneliti kemudian menganalisis dampak dari penetapan area-area yang dilindungi sebagai cagar alam harimau.
Dibandingkan dengan area yang dilindungi lainnya, cagar alam harimau di India menerima sumber daya tambahan, termasuk dana dan pemantauan yang lebih baik.
Baca juga: Global Tiger Day: Fakta Terbaru Harimau Sumatera dari Riset Terkini Para Ahli
Perlindungan yang ditingkatkan ini diberikan terutama untuk melindungi dan meningkatkan populasi harimau.
Namun tak hanya itu, para peneliti menemukan bahwa hal ini juga dapat menghasilkan pengurangan deforestasi dan menghindari emisi karbon.
Para peneliti menemukan bahwa di sekitar sepertiga dari 45 cagar alam harimau yang dianalisis, tingkat deforestasi menurun setelah area tersebut menerima perlindungan tambahan.
Penurunan ini berhasil menyelamatkan lebih dari 5.802 hektar hutan atau setara dengan luas lebih dari 8.000 lapangan sepak bola, dari penebangan.
Emisi yang berhasil dihindari ini menghasilkan penghematan karbon sekitar 1,08 juta ton setara karbon dioksida (MtCO2). Jumlah ini setara dengan menghilangkan sekitar 200.000 mobil dari jalanan selama setahun.
Selain penghematan karbon langsung dari deforestasi yang berhasil dicegah, studi ini juga menunjukkan adanya manfaat tidak langsung.
Dalam kasus India, negara tersebut adalah salah satu negara yang paling rentan terhadap perubahan iklim, rentan terhadap dampak seperti menurunnya hasil panen dan peristiwa cuaca ekstrem.
Studi sebelumnya menunjukkan bahwa setiap tambahan satu ton karbon dioksida dapat menimbulkan kerugian sekitar 86 juta dolar AS bagi India.
Baca juga: Melihat Harimau sebagai Bagian dari Kearifan Lokal Masyarakat Sumatra
Para peneliti menghitung bahwa emisi yang berhasil dihindari berkat perlindungan yang ditingkatkan setara dengan 93 juta dolar AS biaya yang berhasil dicegah.
Temuan utama studi ini, yang mengukur manfaat iklim tambahan dari inisiatif untuk melindungi harimau liar pun dapat membantu membuka sumber pendanaan baru untuk konservasi alam.
Sebagai contoh, hasil studi menunjukkan bahwa dengan memberikan sumber daya tambahan kepada area lindung untuk mencegah populasi harimau menurun, deforestasi dapat dihindari.
Oleh karena itu, ada potensi untuk mengumpulkan pendapatan bagi konservasi melalui penjualan kredit karbon.
"Melindungi keanekaragaman hayati dan mengatasi perubahan iklim adalah dua hal yang saling berkaitan dan harus dilakukan bersamaan. Dengan membuktikan bahwa konservasi spesies juga memberikan manfaat iklim, pendanaan untuk perlindungan alam bisa lebih mudah didapatkan dan bahkan bisa mendanai dirinya sendiri," ungkap Aakash Lamba, penulis utama studi ini.
Baca juga: Global Tiger Day: Fakta Terbaru Harimau Sumatera dari Riset Terkini Para Ahli
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya