Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Pelajaran dari Riset di India: Jaga Harimau Juga Selamatkan Hutan dan Iklim

Kompas.com, 28 Juli 2025, 19:23 WIB
Monika Novena,
Yunanto Wiji Utomo

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Kebijakan konservasi satwa liar tidak hanya bermanfaat untuk pelestarian spesies, tetapi juga memberikan manfaat iklim tambahan dari perlindungan habitat yang ditingkatkan.

Ini adalah temuan utama dari sebuah studi yang diterbitkan pada 26 Mei 2023 di jurnal Nature Ecology and Evolution.

Studi ini dilakukan oleh para peneliti di Centre for Nature-based Climate Solutions (CNCS), sebuah pusat penelitian di bawah Fakultas Sains National University of Singapore (NUS).

Dalam studi ini para peneliti mengukur manfaat iklim yang bisa didapatkan dari upaya konservasi harimau di India.

Seperti diberitakan di Eureka Alert, Selasa (31/6/2025), peneliti kemudian menganalisis dampak dari penetapan area-area yang dilindungi sebagai cagar alam harimau.

Dibandingkan dengan area yang dilindungi lainnya, cagar alam harimau di India menerima sumber daya tambahan, termasuk dana dan pemantauan yang lebih baik.

Baca juga: Global Tiger Day: Fakta Terbaru Harimau Sumatera dari Riset Terkini Para Ahli

Perlindungan yang ditingkatkan ini diberikan terutama untuk melindungi dan meningkatkan populasi harimau.

Namun tak hanya itu, para peneliti menemukan bahwa hal ini juga dapat menghasilkan pengurangan deforestasi dan menghindari emisi karbon.

Para peneliti menemukan bahwa di sekitar sepertiga dari 45 cagar alam harimau yang dianalisis, tingkat deforestasi menurun setelah area tersebut menerima perlindungan tambahan.

Penurunan ini berhasil menyelamatkan lebih dari 5.802 hektar hutan atau setara dengan luas lebih dari 8.000 lapangan sepak bola, dari penebangan.

Emisi yang berhasil dihindari ini menghasilkan penghematan karbon sekitar 1,08 juta ton setara karbon dioksida (MtCO2). Jumlah ini setara dengan menghilangkan sekitar 200.000 mobil dari jalanan selama setahun.

Selain penghematan karbon langsung dari deforestasi yang berhasil dicegah, studi ini juga menunjukkan adanya manfaat tidak langsung.

Dalam kasus India, negara tersebut adalah salah satu negara yang paling rentan terhadap perubahan iklim, rentan terhadap dampak seperti menurunnya hasil panen dan peristiwa cuaca ekstrem.

Studi sebelumnya menunjukkan bahwa setiap tambahan satu ton karbon dioksida dapat menimbulkan kerugian sekitar 86 juta dolar AS bagi India.

Baca juga: Melihat Harimau sebagai Bagian dari Kearifan Lokal Masyarakat Sumatra

Para peneliti menghitung bahwa emisi yang berhasil dihindari berkat perlindungan yang ditingkatkan setara dengan 93 juta dolar AS biaya yang berhasil dicegah.

Temuan utama studi ini, yang mengukur manfaat iklim tambahan dari inisiatif untuk melindungi harimau liar pun dapat membantu membuka sumber pendanaan baru untuk konservasi alam.

Sebagai contoh, hasil studi menunjukkan bahwa dengan memberikan sumber daya tambahan kepada area lindung untuk mencegah populasi harimau menurun, deforestasi dapat dihindari.

Oleh karena itu, ada potensi untuk mengumpulkan pendapatan bagi konservasi melalui penjualan kredit karbon.

"Melindungi keanekaragaman hayati dan mengatasi perubahan iklim adalah dua hal yang saling berkaitan dan harus dilakukan bersamaan. Dengan membuktikan bahwa konservasi spesies juga memberikan manfaat iklim, pendanaan untuk perlindungan alam bisa lebih mudah didapatkan dan bahkan bisa mendanai dirinya sendiri," ungkap Aakash Lamba, penulis utama studi ini.

Baca juga: Global Tiger Day: Fakta Terbaru Harimau Sumatera dari Riset Terkini Para Ahli

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Banjir dan Air Limbah Tingkatkan Risiko Paparan Bakteri yang Resisten Antibiotik
Banjir dan Air Limbah Tingkatkan Risiko Paparan Bakteri yang Resisten Antibiotik
LSM/Figur
Tingkatkan Efisiensi Produksi, Industri Makanan Mulai Adopsi AI
Tingkatkan Efisiensi Produksi, Industri Makanan Mulai Adopsi AI
Swasta
Konsumsi Daging Global Naik 4 Kali Lipat, Apa Dampaknya Bagi Lingkungan?
Konsumsi Daging Global Naik 4 Kali Lipat, Apa Dampaknya Bagi Lingkungan?
LSM/Figur
IPB University Promosikan Potensi Agromaritim Indonesia di Korea Selatan
IPB University Promosikan Potensi Agromaritim Indonesia di Korea Selatan
Pemerintah
Menaikkan Pajak UMKM saat Terjadi Ketidakpastian Global Dinilai Kurang Tepat
Menaikkan Pajak UMKM saat Terjadi Ketidakpastian Global Dinilai Kurang Tepat
LSM/Figur
Studi Ungkap Hambatan Sulitnya Pensiunkan PLTU Batu Bara di Indonesia
Studi Ungkap Hambatan Sulitnya Pensiunkan PLTU Batu Bara di Indonesia
Pemerintah
Pakar IPB University Dorong Hilirisasi Industri Lobster Nasional
Pakar IPB University Dorong Hilirisasi Industri Lobster Nasional
Pemerintah
Kemenhut : Gap Pendanaan Konservasi Keanekaragaman Hayati Capai 74 Persen
Kemenhut : Gap Pendanaan Konservasi Keanekaragaman Hayati Capai 74 Persen
Pemerintah
Fitoplankton Bisa 'Kunci' Karbon di Lautan hingga Ribuan Tahun
Fitoplankton Bisa "Kunci" Karbon di Lautan hingga Ribuan Tahun
LSM/Figur
Kurangi Macet dan Polusi, Astra Ajak Karyawan Gunakan Transportasi Umum
Kurangi Macet dan Polusi, Astra Ajak Karyawan Gunakan Transportasi Umum
Swasta
KLH: Kawasan Rendah Emisi Bisa Jadi Daya Tarik Wisata, Andong dan Becak Ikonnya
KLH: Kawasan Rendah Emisi Bisa Jadi Daya Tarik Wisata, Andong dan Becak Ikonnya
Pemerintah
Kabar Baik untuk Bumi, Hutan Mangrove Dunia Mulai Pulih Kembali
Kabar Baik untuk Bumi, Hutan Mangrove Dunia Mulai Pulih Kembali
Pemerintah
Program 'SNI Goes to Campus' Dorong Kesadaran Mutu Pangan Nasional
Program "SNI Goes to Campus" Dorong Kesadaran Mutu Pangan Nasional
Swasta
Google Targetkan Pasok Air Bersih Lebih Besar dari Konsumsi Pusat Data
Google Targetkan Pasok Air Bersih Lebih Besar dari Konsumsi Pusat Data
Pemerintah
Konsumsi Listrik AI Diprediksi Capai 945 TWh pada 2030
Konsumsi Listrik AI Diprediksi Capai 945 TWh pada 2030
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau