Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Akademisi: 52 Persen Gambut di Sumatera Terdegradasi karena Alih Fungsi Lahan

Kompas.com, 28 Juli 2025, 16:02 WIB
Zintan Prihatini,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

JAKARTA, KOMPAS.com - Wakil Rektor Universitas Riau (Unri), Sofyan Husein Siregar, menyebutkan bahwa 52 persen lahan gambut di Sumatera terdegradasi akibat alih fungsi lahan. Berdasarkan data Kementerian Lingkungan Hidup, Riau kehilangan tutupan hutan gambut seluas 240.000 hektare dalam satu dekade terakir.

"Semuanya ini adalah sama-sama kita ketahui bahwa lahan gambut ini secara perlahan tapi pasti terjadi penurunan, degradasi baik secara fungsi maupun secara kualitas," kata Sofyan dalam Forum Rektor di Jakarta Pusat, Senin (28/7/2025).

Kerusakan tersebut menyebabkan berkurangnya fungsi lahan sebagai penyimpanan air, sehingga memicu banjir di musim hujan serta kebakaran hutan dan lahandi pada musim kemarau di setiap tahunnya. Menurut Sofyan, kondisi banjir di Riau makin parah seiring meluasnya daerah terdampak maupun kedalaman air karena degradasi ekosistem gambut.

Baca juga: Agroforestri Efektif Jaga Biodiversitas Hutan Tropis, Gambut, Pesisir

"Jalan lintas timur Sumatera yang merupakan urat nadi perekonomian di kawasan ini lumpuh hingga beberapa bulan akibat banjir. Ini adalah permasalahan hulu kerusakan lahan gambut yang makin parah," tutur dia.

Di pesisir timur Pulau Sumatera, khususnya di Bengkalis dan Rangsang yang sekitar 90 persen daratannya merupakan lahan gambut mengalami abrasi pantai yang sangat masif. Sofyan menyebut, abrasi pantai pada lahan gambut terus berlangsung hingga kini dengan laju mencapai 30 meter per tahun.

Dirinya mencatat, Bengkalis kehilangan daratan sekitar 1.500 hektare pada 30 tahun terakhir. Padahal, pulau-pulau ini memiliki arti strategis secara geopolitik karena berbatasan langsung dengan Malaysia.

"Apabila kita tidak menangani ini akan terjadi permasalahan yang lebih serius ke depannya, dan kami sudah melakukan kerja sama dengan beberapa universitas di luar negeri khususnya dengan penghitungan degradasi atau operasi di Pulau Meranti dan Bengkalis," ucap Sofyan.

"Kami mempunyai Center for Feedland and Disaster Studies, dan ini adalah pusat yang sudah dibentuk dan penguatan ekosistem," imbuh dia.

Baca juga: Menteri LH: Mangrove dan Gambut Jadi Kunci Pangkas Emisi

Sejak 2022, melalui pusat riset restorasi gambut dan mangrove tersebut pihaknya pembangunan kanal untuk mengatasi karhutla serta melakukan riset pengelolaan dan mitigasi bencana pada ekosistem gambut.

Restorasi Gambut

Diberitakan sebelumnya, Badan Restorasi Gambut dan Mangrove (BRGM) melaporkan sudah merestorasi 1,6 juta hektare gambut dan 84.396 mangrove. BRGM adalah lembaga non struktural yang berada di bawah dan bertanggungjawab kepada presiden, sesuai Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 120 Tahun 2020. Setelah pengabdiannya, BRGM resmi berakhir pada Desember 2024.

BRGM bertugas untuk memfasilitasi percepatan pelaksanaan restorasi gambut dan peningkatan kesejahteraan masyarakat pada areal restorasi gambut di tujuh provinsi. Ketujuh wilayah itu antara lain Riau, Jambi, Sumatera Selatan, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, Kalimantan Barat, dan Papua.

Sementara, percepatan rehabilitasi mangrove dilakukan di Sumatera Utara, Riau, Kepulauan Riau, Bangka Belitung, Kalimantan Barat, Kalimantan Utara, Kalimantan Timur, Papua serta Papua Barat. Restorasi gambut dan mangrove tidak hanya memulihkan lingkungan namun juga meningkatkan taraf hidup masyarakat di sekitarnya.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp 5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau