Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Untirta Pasang Panel Surya hingga Kelola Sampah dan Air di Kampus

Kompas.com, 28 Juli 2025, 19:00 WIB
Zintan Prihatini,
Yunanto Wiji Utomo

Tim Redaksi

JAKARTA, KOMPAS.com - Universitas Sultan Ageng Tirtayasa (Untirta) memasang rooftop solar panel berkapasitas 0,5 megawatt peak (MWp) untuk mengaliri listrik bersih di kampus. Hal ini, sekaligus sebagai upaya mendukung penurunan emisi gas rumah kaca sebesar 29-41 persen pada 2030.

Rektor Untirta, Fatah Sulaiman, mengatakan pihaknya telah mendesain semua atap gedung kampus untuk memproduksi energi baru terbarukan (EBT) berbasis panel surya.

"Ini setara dengan penghematan batu bara 110.000 ton setara 0,5 megawatt, dan sudah berfungsi. Ini kami siapkan," ungkap Fatah dalam Forum Rektor di Jakarta Pusat, Senin (28/7/2025).

Baca juga: Wacanakan Bangun PLTS di 80.000 Desa, Pemerintah Butuh Rp 1.630 Triliun

Dengan adanya panel surya ini Untirta menjadi contoh kampus yang ramah lingkungan dan berkelanjutan. Fatah menyebut, Untirta juga mengelola air bekas pakai dengan proses filtrasi elektrokimia.

Air bekas pakai ditampung dan diolah di kolam untuk dimanfaatkan kembali.

"Saya kasih tahu gubernur, bupati, ini role modelnya yang harus diterapkan di pemerintah. Sampah kami olah dengan insulator, kami buat material-material yang lebih punya nilai jual, nilai manfaat," jelas dia.

Pasalnya, mikroplastik menjadi permasalahan utama yang memicu berbagai masalah termasuk kesehatan. Oleh sebab itu, pihaknya turut mengelola sampah plastik dengan melibatkan pemerintah daerah.

"Plastik kami bisa kembalikan menjadi fuel plus. Kami kerja sama dengan produsen plastik terbesar yang ada di kawasan industri Cilegon, yang melibatkan banyak sumber daya," tutur Fatah.

"Tuntutan mikroplastik menutup industri produsen plastik terbesar di Asia Pasifik. Ini ada di kawasan kami. Maka kami carikan solusi, riset bersama," imbuh dia.

Baca juga: Sel Surya dan Fotokatalisis Nano BRIN Ubah Cahaya Jadi Listrik, Limbah Jadi Air Bersih

Lainnya, mengolah limbah batu barerai. Kampus juga menyiapkan tata kelola kawasan eco industrial park guna meminimalkan dampak lingkungan dan meningkatkan efisiensi penggunaan sumber daya.

"Ini yang kami masukkan ke seluruh pemerintah-pemerintah daerah yang punya euforia ingin melakukan peluasan ekonomi," sebut dia.

Pusat Studi Lingkungan Hidup

Dalam kesempatan yang sama, Menteri Lingkungan Hidup, Hanif Faisol Nurofoq, menyebut akan merevitalisasi Pusat Studi Lingkungan Hidup (PSLH) dengan melibatkan akademisi di perguruan tinggi. Tujuannya, memperkuat kebijakan pengelolaan lingkungan hidup yang berbasis ilmu pengetahuan.

"Hampir di semua lini dari permasalahan lingkungan memerlukan dukungan para akademisi mulai dari penyusunan perencanaan lingkungan hidup, penyusunan perencanaan lingkungan hidup, penyusunan daya dukung daya tampung," papar dia.

Nantinya, PSLH bertugas mendukung tugas-tugas operasional kementerian, pusat maupun daerah. Ini mencakup perencanaan, asesmen, pengawasan, dan penegakan hukum lingkungan hidup.

Baca juga: Lahan Bekas Tambang Solusi Pembiayaan Pembangunan PLTS

"Kalau ibarat kata mesin maka akademisi menjadi sayap pendukung terkait dengan dukungan ke ilmu pengetahuannya untuk menjalankan fungsi empat tadi. Tanpa ada dukungan mesin ini maka yang akan diambil kesimpulan dan kebijakan menteri tentu akan banyak mengalami kendala," ucap Hanif.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Menteri LH Sebut Gelondongan Kayu Terseret Banjir Sumatera Bisa Dimanfaatkan
Menteri LH Sebut Gelondongan Kayu Terseret Banjir Sumatera Bisa Dimanfaatkan
Pemerintah
Bioetanol dari Sorgum Disebut Lebih Unggul dari Tebu dan Singkong, tapi..
Bioetanol dari Sorgum Disebut Lebih Unggul dari Tebu dan Singkong, tapi..
LSM/Figur
Asia Tenggara Catat Kenaikan 73 Persen pada Hasil Obligasi ESG
Asia Tenggara Catat Kenaikan 73 Persen pada Hasil Obligasi ESG
Pemerintah
4 Penambang Batu Bara Ilegal di Teluk Adang Kalimantan Ditangkap, Alat Berat Disita
4 Penambang Batu Bara Ilegal di Teluk Adang Kalimantan Ditangkap, Alat Berat Disita
Pemerintah
Drone Berperan untuk Pantau Gajah Liar Tanpa Ganggu Habitatnya
Drone Berperan untuk Pantau Gajah Liar Tanpa Ganggu Habitatnya
Swasta
6 Kukang Sumatera Dilepasliar di Lampung Tengah
6 Kukang Sumatera Dilepasliar di Lampung Tengah
Pemerintah
RI dan UE Gelar Kampanye Bersama Lawan Kekerasan Digital terhadap Perempuan dan Anak
RI dan UE Gelar Kampanye Bersama Lawan Kekerasan Digital terhadap Perempuan dan Anak
Pemerintah
UNCTAD Peringatkan Sistem Perdagangan Dunia Rentan Terhadap Risiko Iklim
UNCTAD Peringatkan Sistem Perdagangan Dunia Rentan Terhadap Risiko Iklim
Pemerintah
Tak Perbaiki Tata Kelola Sampah, 87 Kabupaten Kota Terancam Pidana
Tak Perbaiki Tata Kelola Sampah, 87 Kabupaten Kota Terancam Pidana
Pemerintah
Bencana di Sumatera, Menteri LH Akui Tak Bisa Rutin Pantau Jutaan Unit Usaha
Bencana di Sumatera, Menteri LH Akui Tak Bisa Rutin Pantau Jutaan Unit Usaha
Pemerintah
DP World: Rantai Pasok Wajib Berubah untuk Akhiri Krisis Limbah Makanan
DP World: Rantai Pasok Wajib Berubah untuk Akhiri Krisis Limbah Makanan
LSM/Figur
KLH Periksa 8 Perusahaan terkait Banjir Sumatera, Operasional 4 Perusahaan Dihentikan
KLH Periksa 8 Perusahaan terkait Banjir Sumatera, Operasional 4 Perusahaan Dihentikan
Pemerintah
TN Way Kambas Sambut Kelahiran Bayi Gajah Betina, Berat 64 Kilogram
TN Way Kambas Sambut Kelahiran Bayi Gajah Betina, Berat 64 Kilogram
LSM/Figur
Menteri LH Sebut Kayu Banjir Bukan dari Hulu Batang Toru
Menteri LH Sebut Kayu Banjir Bukan dari Hulu Batang Toru
Pemerintah
TPA Suwung Bali Ditutup 23 Desember 2025, Ini Alasannya
TPA Suwung Bali Ditutup 23 Desember 2025, Ini Alasannya
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme KOMPAS.com
Kolom ini tidak boleh kosong.
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau