Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Krisis Iklim Picu Kerugian Rp 550 T, Transisi Energi Mutlak untuk Pertumbuhan Ekonomi

Kompas.com, 30 Juli 2025, 11:36 WIB
Add on Google
Eriana Widya Astuti,
Yunanto Wiji Utomo

Tim Redaksi

JAKARTA, KOMPAS.com — Ketika perubahan iklim menimbulkan kerugian ekonomi hingga ratusan triliun rupiah, mendorong transisi energi tidak lagi semata agenda lingkungan, tetapi menjadi kebutuhan pembangunan.

Hal itu disampaikan oleh Fabby Tumiwa, Chief Executive Officer Institute for Essential Services Reform (IESR). Selain itu, ia menilai bahwa penurunan emisi dan pemanfaatan energi terbarukan harus menjadi bagian dari strategi mendorong pertumbuhan ekonomi.

Fabby mengacu pada kajian Low Carbon Development Initiative (LCDI) yang dilakukan Bappenas.

Menurut kajian tersebut, agar Indonesia bisa keluar dari jebakan negara berpenghasilan menengah dan menjadi negara maju, pertumbuhan ekonomi harus berjalan beriringan dengan perlindungan lingkungan dan pengurangan emisi gas rumah kaca.

“Polusi udara di Jakarta menyebabkan penurunan produktivitas dan kerugian ekonomi puluhan triliun per tahun. Studi Bappenas menyatakan dampak perubahan iklim bisa mengurangi pendapatan ekonomi kita sekitar Rp 550 triliun. Artinya, kita perlu mengarahkan investasi ke sektor yang lebih hijau,” ujar Fabby sebagaimana dikutip dari keterangan tertulis IESR, Selasa (29/7/2025).

Lebih lanjut, Fabby menjelaskan bahwa komitmen iklim dalam Second Nationally Determined Contribution (SNDC) dan peningkatan target penurunan emisi merupakan prasyarat bagi pertumbuhan ekonomi yang lebih hijau dan berkelanjutan.

Namun, menurutnya, untuk menarik lebih banyak investasi hijau, pemerintah perlu membangun kepercayaan investor. Ini mencakup pemberantasan korupsi, kepastian kebijakan, dan ketersediaan energi terbarukan yang kini menjadi syarat penting bagi industri manufaktur maupun pusat data.

Baca juga: Transisi Energi Terbarukan yang Adil Tingkatkan PDB Global 21 Persen

“Jika Indonesia tidak mampu memenuhi kebutuhan energi terbarukan, investor akan memilih negara lain seperti Malaysia atau Vietnam, yang intensitas emisinya lebih rendah dibandingkan Indonesia,” tambah Fabby.

Lebih jauh, Fabby menekankan bahwa semua solusi penurunan emisi harus dilihat dari sisi keekonomian dan dampak lingkungannya, termasuk pembangkit berbasis biomassa, panas bumi, dan PLTS atap.

Untuk pembangkit biomassa, misalnya, ia menyarankan pemanfaatan pohon yang ditanam di lahan kritis dan diolah menjadi wood chip untuk memudahkan distribusi.

Jarak antara bahan baku dan PLTU idealnya tidak lebih dari 30 km, karena transportasi jarak jauh justru menambah emisi dari konsumsi bahan bakar.

Adapun pada panas bumi, ia mengingatkan bahwa Indonesia memiliki sekitar 40 persen cadangan dunia, tetapi banyak lokasi potensialnya berada di kawasan hutan.

Oleh sebab itu, regulasi dan pelaksanaan perlu diselaraskan agar pengembangan panas bumi tidak merusak kelestarian lingkungan.

Sementara untuk PLTS atap, Fabby menyoroti belum optimalnya pelaksanaan Peraturan Presiden No. 22 Tahun 2017 tentang Rencana Umum Energi Nasional (RUEN). Padahal, peraturan itu sudah mewajibkan bangunan pemerintah memanfaatkan 30 persen atapnya dan bangunan mewah 25 persen untuk pembangkit surya.

“Kalau aturan ini dilaksanakan Indonesia bisa menyediakan energi terbarukan yang murah dari matahari. Kita bisa dengan cepat melakukan transisi energi dengan harga yang murah dan tanpa subsidi pemerintah,” jelas Fabby.

Baca juga: Transisi Energi di Kepulauan, Infrastruktur dan Insentif Kunci Suksesnya

Ia menambahkan bahwa rumah-rumah mewah dengan luas bangunan di atas 100 meter persegi memiliki potensi besar untuk mendukung transisi energi, yang bisa mencapai ratusan gigawatt.

“Jadi sebenarnya transisi energi itu tidak susah, asal aturannya dijalankan,” ujarnya.

Dengan mendorong pemanfaatan energi terbarukan dan menjalankan regulasi yang ada, Indonesia tidak hanya mempercepat transisi energi, tetapi juga membuka jalan bagi pertumbuhan ekonomi yang lebih tangguh dan berkelanjutan di tengah krisis iklim yang kian nyata.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Indonesia Sampaikan Komitmen Kelola Taman Nasional di Markas PBB
Indonesia Sampaikan Komitmen Kelola Taman Nasional di Markas PBB
Pemerintah
 IESR: Integrasi Regional untuk Ketahanan Energi Harus Dipercepat
IESR: Integrasi Regional untuk Ketahanan Energi Harus Dipercepat
LSM/Figur
Bikin Bisnis Berkelanjutan, Ini Cerita Pelaku UMKM Surabaya Belajar Kelola Keuangan Digital
Bikin Bisnis Berkelanjutan, Ini Cerita Pelaku UMKM Surabaya Belajar Kelola Keuangan Digital
Swasta
Pemulung di Jaktim Jadi Mentor Hidroponik, Ajari Warga Binaan Bertani Melon
Pemulung di Jaktim Jadi Mentor Hidroponik, Ajari Warga Binaan Bertani Melon
LSM/Figur
Ekonomi Global Terancam Rugi Rp17.477 Triliun Akibat Cuaca Ekstrem
Ekonomi Global Terancam Rugi Rp17.477 Triliun Akibat Cuaca Ekstrem
Pemerintah
Kombinasi Energi Terbarukan-Baterai Bisa Sediakan Listrik Murah 24 Jam
Kombinasi Energi Terbarukan-Baterai Bisa Sediakan Listrik Murah 24 Jam
Pemerintah
Taman Safari Indonesia Siap Dukung Transformasi Kebun Binatang Bandung
Taman Safari Indonesia Siap Dukung Transformasi Kebun Binatang Bandung
Swasta
PBB: Permintaan Kayu Bakar Menjadi Penyebab Utama Hilangnya Hutan Global
PBB: Permintaan Kayu Bakar Menjadi Penyebab Utama Hilangnya Hutan Global
Pemerintah
Krisis Utang Negara Ancam Masa Depan dan Kesejahteraan Perempuan
Krisis Utang Negara Ancam Masa Depan dan Kesejahteraan Perempuan
Pemerintah
Satu Awan Radioaktif Sebabkan Mayoritas Dampak Kontaminasi Saat Bencana Nuklir Fukushima
Satu Awan Radioaktif Sebabkan Mayoritas Dampak Kontaminasi Saat Bencana Nuklir Fukushima
LSM/Figur
Label Makanan Alami dan Berkelanjutan Membingungkan Konsumen, Kok Bisa?
Label Makanan Alami dan Berkelanjutan Membingungkan Konsumen, Kok Bisa?
LSM/Figur
KIP: Informasi Kehutanan Masuk Kategori Wajib Diumumkan Seketika
KIP: Informasi Kehutanan Masuk Kategori Wajib Diumumkan Seketika
Pemerintah
Harga BBM Naik, Konsumen Beralih ke Bahan Bakar dengan Oktan Lebih Rendah
Harga BBM Naik, Konsumen Beralih ke Bahan Bakar dengan Oktan Lebih Rendah
BUMN
Kisah Para Ibu Pemulung yang Punya Dana Darurat dari Menabung Sampah
Kisah Para Ibu Pemulung yang Punya Dana Darurat dari Menabung Sampah
LSM/Figur
Menhut Pamerkan Potensi Perdagangan Karbon RI di Forum Internasional AS
Menhut Pamerkan Potensi Perdagangan Karbon RI di Forum Internasional AS
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau