Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Dilema AC, Menyejukkan Rumah, Memanaskan Bumi

Kompas.com, 30 Juli 2025, 19:54 WIB
Monika Novena,
Yunanto Wiji Utomo

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Seiring naiknya suhu di berbagai belahan dunia, orang makin sering menyalakan pendingin ruangan (AC).

Namun, yang mungkin banyak tak disadari adalah embusan udara dingin ke ruangan itu justru mendorong pemanasan global.

Akibatnya, makin banyak orang lagi yang tergantung dengan teknologi pendingin ruangan itu dan pada akhirnya menciptakan lingkaran setan yang tak berujung.

Perubahan iklim, urbanisasi yang pesat, peningkatan pendapatan, dan pertumbuhan populasi mendorong permintaan yang sangat besar terhadap AC secara global, terutama di negara-negara berkembang.

Akses terhadap pendingin ruangan sangat penting bagi kesehatan, mengurangi kematian akibat panas, membantu anak-anak belajar di sekolah, dan meningkatkan produktivitas pekerja.

Namun, konsumsi energi AC yang tinggi dan dampaknya terhadap iklim seringkali terabaikan.

Baca juga: Pemanasan Global Bisa Ubah Pola Hujan, Timbulkan Kekeringan dan Banjir

Melansir Eco Business, Rabu (30/7/2025), menurut badan lingkungan PBB, (UNEP), jika tidak ada tindakan cepat, emisi dari pendinginan yang menyebabkan pemanasan bumi bisa menyumbang lebih dari 10 persen dari total emisi pada tahun 2050.

Sebagai perbandingan, penerbangan saat ini menyumbang sekitar 2,5 persen dari emisi CO2 global.

Badan Energi Internasional (IEA) memproyeksikan permintaan pendingin ruangan akan meningkat tiga kali lipat pada tahun 2050 dibandingkan dengan tahun 2016.

Pertumbuhan tercepat diprediksi terjadi di Afrika dan Asia Selatan.

India diperkirakan akan memiliki 1,1 miliar unit pada tahun 2050, lebih dari 10 kali lipat jumlah saat ini, menurut perkiraan IEA.

Namun, bahkan negara-negara yang lebih dingin seperti Inggris, di mana AC rumahan masih jarang digunakan, penjualannya melonjak.

Lantas bagaimana AC menyebabkan perubahan iklim?

AC boros listrik. Sebagian besar berasal dari pembakaran bahan bakar fosil, yang melepaskan CO2 yang memerangkap panas.

AC juga menggunakan refrigeran yang memiliki potensi pemanasan global ratusan atau bahkan ribuan kali lebih besar daripada CO2.

Menurut UNEP hampir 40 persen emisi AC rumahan disebabkan oleh refrigeran.

Di kawasan permukiman, AC dapat memperburuk efek pulau panas perkotaan karena mengeluarkan udara hangat ke jalan-jalan kota, yang berpotensi meningkatkan suhu lebih dari 1 derajat Celsius di malam hari.

Kabar baiknya adalah produsen sedang mengembangkan model yang semakin hemat energi dan teknologi pintar dapat memastikan AC tidak mendinginkan ruangan dan kantor kosong secara berlebihan.

Para ilmuwan juga berinovasi dengan refrigeran yang lebih ramah lingkungan dan bahkan teknologi AC baru yang tidak memerlukan refrigeran.

Namun, memproduksi AC ultra-efisien dengan harga terjangkau masih menjadi masalah, dan AC tersebut belum tersedia secara komersial.

Baca juga: Permukaan Laut Tetap Naik meski Pemanasan Global Dibatasi 1,5 Derajat C

Banyak negara telah menandatangani Ikrar Pendinginan Global, yang menyerukan pengurangan emisi terkait pendinginan setidaknya 68 persen pada tahun 2050 dibandingkan tingkat emisi pada tahun 2022.

UNEP mendesak negara-negara untuk memprioritaskan langkah-langkah pendinginan pasif, meningkatkan efisiensi energi, dan mempercepat pengurangan refrigeran yang menyebabkan pemanasan global.

Beberapa cara yang bisa ditempuh adalah dengan desain bangunan yang baik yang menggabungkan langkah-langkah pendinginan pasif seperti insulasi, ventilasi alami, dan naungan dapat secara drastis mengurangi kebutuhan pendingin udara termasuk juga menanam pohon.

Lalu, inovasi pendinginan pasif berteknologi tinggi mencakup kaca pintar pemblokir sinar matahari dan cat yang memancarkan panas kembali ke angkasa.

Selain itu beralih ke unit AC yang lebih hemat energi juga akan memangkas konsumsi energi - dan emisi CO2. Secara global, rata-rata AC baru yang terjual sekitar setengah efisiensinya dibandingkan AC terbaik yang tersedia.

Dalam hal ini pemerintah dapat mendorong perubahan dengan menerapkan standar kinerja energi yang lebih ketat, pelabelan yang jelas untuk membantu konsumen memilih model yang lebih efisien, insentif untuk menurunkan biaya, dan regulasi untuk mencegah pembuangan unit lama yang berpolusi di negara-negara berkembang.

Baca juga: Pakar UGM Sebut Perubahan Iklim Ancam Pola Hujan dan Pertanian Indonesia

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Pramono: Pilah Sampah di Jakarta Capai 23 Persen, 8.615 Fasilitas Pengelolaan Disiapkan
Pramono: Pilah Sampah di Jakarta Capai 23 Persen, 8.615 Fasilitas Pengelolaan Disiapkan
Pemerintah
Indonesia Dinilai Terlambat Terapkan EPR, Produsen Bakal Wajib Biayai Pengelolaan Sampah
Indonesia Dinilai Terlambat Terapkan EPR, Produsen Bakal Wajib Biayai Pengelolaan Sampah
Pemerintah
Peran Teknologi Informatika: Bantu Olah Data Biodiversitas jadi Panduan Kebijakan
Peran Teknologi Informatika: Bantu Olah Data Biodiversitas jadi Panduan Kebijakan
Pemerintah
Geomembrane Tutup Gunungan Sampah Bantargebang Dinilai Bukan Solusi Akhir
Geomembrane Tutup Gunungan Sampah Bantargebang Dinilai Bukan Solusi Akhir
LSM/Figur
Edukasi di Kebun Binatang Perkuat Hubungan Masyarakat dengan Alam
Edukasi di Kebun Binatang Perkuat Hubungan Masyarakat dengan Alam
Pemerintah
Studi Ungkap Emisi Metana dari TPA Jauh Lebih Tinggi dari Perkiraan
Studi Ungkap Emisi Metana dari TPA Jauh Lebih Tinggi dari Perkiraan
Pemerintah
Ahli Ingatkan Ancaman Kerusakan Total 'Great Barrier Reef' Akibat El Nino
Ahli Ingatkan Ancaman Kerusakan Total "Great Barrier Reef" Akibat El Nino
Pemerintah
Dari Ibu Hamil hingga Remaja, Program PASTI Bangun Ekosistem Pencegahan Stunting di Kubu Raya
Dari Ibu Hamil hingga Remaja, Program PASTI Bangun Ekosistem Pencegahan Stunting di Kubu Raya
Swasta
PLTS Atap Dinilai Bisa Perkuat Keandalan Listrik, Kebijakan Kuota Diminta Direvisi
PLTS Atap Dinilai Bisa Perkuat Keandalan Listrik, Kebijakan Kuota Diminta Direvisi
LSM/Figur
Area Berisiko Banjir di Kota Semarang Diproyeksikan Bertambah 2.162 Hektare pada 2039
Area Berisiko Banjir di Kota Semarang Diproyeksikan Bertambah 2.162 Hektare pada 2039
LSM/Figur
ITS Kembangkan Teknologi PLTS Terintegrasi, Efisiensi Daya Bisa Naik 750 Persen
ITS Kembangkan Teknologi PLTS Terintegrasi, Efisiensi Daya Bisa Naik 750 Persen
LSM/Figur
Kupu-Kupu Berpindah Habitat, Ahli Ingatkan Ancaman Krisis Ekosistem
Kupu-Kupu Berpindah Habitat, Ahli Ingatkan Ancaman Krisis Ekosistem
LSM/Figur
Eksploitasi Air Tanah Persulit Mangrove Bantu Selamatkan Kawasan Pesisir
Eksploitasi Air Tanah Persulit Mangrove Bantu Selamatkan Kawasan Pesisir
LSM/Figur
Antisipasi Ancaman Mikroplastik, Pelaku Bisnis Didesak Segera Bertindak
Antisipasi Ancaman Mikroplastik, Pelaku Bisnis Didesak Segera Bertindak
Pemerintah
ICEL: Pengawasan Tambang Rentan Lumpuh Tanpa Transparansi Dokumen Lingkungan
ICEL: Pengawasan Tambang Rentan Lumpuh Tanpa Transparansi Dokumen Lingkungan
LSM/Figur
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau