Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Hubungan Kita dengan Alam Makin Renggang, Turun 60 Persen dalam 200 Tahun

Kompas.com, 11 Agustus 2025, 18:21 WIB
Monika Novena,
Yunanto Wiji Utomo

Tim Redaksi

Sumber Guardian

KOMPAS.com - Penelitian yang dipublikasikan di jurnal Earth mengungkapkan hubungan manusia dengan alam telah menurun lebih dari 60 persen sejak tahun 1800.

Salah satu penanda penurunan relasi tersebut adalah hilangnya kata-kata yang berhubungan dengan alam seperti sungai, lumut, dan mekar di berbagai buku.

Pemodelan komputer memprediksi bahwa tingkat keterhubungan dengan alam akan terus menurun, kecuali jika ada perubahan kebijakan dan sosial yang berdampak luas.

Tindakan yang dianggap paling efektif adalah dengan mengenalkan alam kepada anak-anak sejak usia dini dan menjadikan lingkungan perkotaan jauh lebih hijau.

Melansir Guardian, Sabtu (9/8/2025) dalam studinya, Miles Richardson, profesor hubungan dengan alam di University of Derby melacak hilangnya alam dari kehidupan manusia selama 220 tahun.

Penelitian tersebut dilakukan dengan menggunakan data tentang urbanisasi, berkurangnya satwa liar di lingkungan sekitar, dan yang paling krusial, orang tua yang tidak lagi memperkenalkan alam pada anak-anak mereka.

Baca juga: Perempuan Adat, Penjaga Alam dan Pengetahuan untuk Kedaulatan Pangan

Richardson juga mengidentifikasi hilangnya kata-kata yang berhubungan dengan alam dari buku-buku antara tahun 1800 hingga 2020, yang puncaknya mencapai penurunan sebesar 60,6 persen pada tahun 1990.

Model komputer kemudian memprediksi akan terjadi "kepunahan pengalaman" yang berkelanjutan, di mana generasi mendatang terus kehilangan kesadaran terhadap alam.

Hal ini terjadi karena alam tidak lagi ada di lingkungan yang semakin banyak bangunan, dan orang tua tidak lagi mengajarkan "orientasi" ke dunia alami.

Studi lain juga menunjukkan bahwa hubungan orang tua dengan alam adalah faktor paling kuat yang menentukan kedekatan anak dengan alam.

"Keterhubungan dengan alam sekarang dipahami sebagai akar masalah utama dari krisis lingkungan," kata Richardson.

Padahal alam sangat vital, termasuk bagi kesehatan mental kita.

"Keterhubungan ini menyatukan kesejahteraan manusia dan alam. Perubahan transformasional diperlukan jika kita ingin mengubah cara masyarakat berinteraksi dengan alam," paparnya lagi.

Berdasarkan studinya pula sebuah kota perlu menjadi 10 lebih hijau untuk membalikkan penurunan dengan alam.

Studi ini menemukan bahwa langkah-langkah untuk meningkatkan keterlibatan masyarakat dengan alam tidak efektif dalam membalikkan penurunan jangka panjang hubungan dengan alam.

Richardson mengatakan bahwa program-program dari badan amal misalnya, program #30DaysWild dari Wildlife Trusts masih penting.

Baca juga: Pantai Bisa Jadi Kelas Alam, Tempat Belajar Keragaman Burung Laut

Namun, pemodelan menunjukkan bahwa program-program tersebut tidak menghentikan hilangnya hubungan dengan alam dari generasi ke generasi.

Langkah-langkah yang lebih efektif adalah menanamkan kesadaran dan interaksi dengan alam pada anak-anak dan keluarga muda, misalnya melalui sekolah hutan.

Kendati demikian terdapat hambatan lain dalam upaya memulihkan hubungan dengan alam. Model menunjukkan bahwa kebijakan untuk mentransformasi pendidikan usia dini dan wilayah perkotaan harus diimplementasikan dalam 25 tahun mendatang untuk membalikkan tren penurunan ini.

Namun, jika berhasil, peningkatan hubungan dengan alam akan menjadi berkesinambungan.

"Bekerja sama dengan keluarga dan orang tua untuk melibatkan anak-anak dengan alam, dengan fokus nyata pada penurunan minat dari generasi ke generasi, adalah kuncinya," papar Richardson.

"Mempertahankan ketertarikan itu sepanjang masa kanak-kanak dan sekolah mereka adalah hal yang esensial, di samping penghijauan perkotaan," pungkasnya.

Baca juga: Dampak Perubahan Iklim Meluas, DPR Dorong Pengesahan RUU EBT

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Dampak El Nino: Terusan Panama Hadapi Krisis Air dan Penurunan Jalur Pelayaran
Dampak El Nino: Terusan Panama Hadapi Krisis Air dan Penurunan Jalur Pelayaran
Pemerintah
Keanekaragaman Pohon Jadi Perisai Hutan Hadapi Krisis Iklim
Keanekaragaman Pohon Jadi Perisai Hutan Hadapi Krisis Iklim
Pemerintah
Perkembangan AI di Asia Pasifik Pesat, tapi Masih Ada Kesenjangan
Perkembangan AI di Asia Pasifik Pesat, tapi Masih Ada Kesenjangan
Pemerintah
Abu Vulkanik Ganggu Proses Fotosintesis Tanaman, Berisiko Gagal Panen Jika Terpapar Terlalu Lama
Abu Vulkanik Ganggu Proses Fotosintesis Tanaman, Berisiko Gagal Panen Jika Terpapar Terlalu Lama
LSM/Figur
Perempuan Makin Didorong Terlibat dalam Transisi Energi Indonesia
Perempuan Makin Didorong Terlibat dalam Transisi Energi Indonesia
LSM/Figur
Cavendish Rentan Penyakit Layu Fusarium, RI Bisa Ubah Pisang Liar Jadi Varietas Unggul Tahan Krisis Iklim
Cavendish Rentan Penyakit Layu Fusarium, RI Bisa Ubah Pisang Liar Jadi Varietas Unggul Tahan Krisis Iklim
LSM/Figur
Banyak TPA Masih Terbakar Selama El Niño dan Musim Kemarau, Meski Praktik Open Dumping Dilarang
Banyak TPA Masih Terbakar Selama El Niño dan Musim Kemarau, Meski Praktik Open Dumping Dilarang
LSM/Figur
Penerbitan Obligasi Hijau Global Tembus Rekor Baru di Q2 2026
Penerbitan Obligasi Hijau Global Tembus Rekor Baru di Q2 2026
Pemerintah
Vulkanik Anak Krakatau Menyebar ke 5 Provinsi, Ahli Peringatkan Risiko Kesehatan dari Menghirup dan Lingkungan Tercemar
Vulkanik Anak Krakatau Menyebar ke 5 Provinsi, Ahli Peringatkan Risiko Kesehatan dari Menghirup dan Lingkungan Tercemar
LSM/Figur
Karhutla dan Abu Vulkanik Berisiko Ganggu Perdagangan Indonesia
Karhutla dan Abu Vulkanik Berisiko Ganggu Perdagangan Indonesia
LSM/Figur
PBB Peringatkan Kenaikan Permukaan Air Laut Jadi Ancaman Nyata Bagi HAM
PBB Peringatkan Kenaikan Permukaan Air Laut Jadi Ancaman Nyata Bagi HAM
Pemerintah
Krisis Iklim Turunkan Performa Pembangkit Saat Permintaan Listrik Naik
Krisis Iklim Turunkan Performa Pembangkit Saat Permintaan Listrik Naik
Pemerintah
Dorong Pendidikan Inklusif, 5 Kampus Indonesia Pelajari Sistem Layanan Disabilitas di Jepang
Dorong Pendidikan Inklusif, 5 Kampus Indonesia Pelajari Sistem Layanan Disabilitas di Jepang
Swasta
Studi Ungkap Polusi Kapal Laut Lebih Bahaya dari Kendaraan Bermotor
Studi Ungkap Polusi Kapal Laut Lebih Bahaya dari Kendaraan Bermotor
Pemerintah
Kepedulian Iklim Pekerja Untungkan Karier Jika Sejalan Tujuan Perusahaan
Kepedulian Iklim Pekerja Untungkan Karier Jika Sejalan Tujuan Perusahaan
Swasta
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau