KOMPAS.com - Penelitian yang dipublikasikan di jurnal Earth mengungkapkan hubungan manusia dengan alam telah menurun lebih dari 60 persen sejak tahun 1800.
Salah satu penanda penurunan relasi tersebut adalah hilangnya kata-kata yang berhubungan dengan alam seperti sungai, lumut, dan mekar di berbagai buku.
Pemodelan komputer memprediksi bahwa tingkat keterhubungan dengan alam akan terus menurun, kecuali jika ada perubahan kebijakan dan sosial yang berdampak luas.
Tindakan yang dianggap paling efektif adalah dengan mengenalkan alam kepada anak-anak sejak usia dini dan menjadikan lingkungan perkotaan jauh lebih hijau.
Melansir Guardian, Sabtu (9/8/2025) dalam studinya, Miles Richardson, profesor hubungan dengan alam di University of Derby melacak hilangnya alam dari kehidupan manusia selama 220 tahun.
Penelitian tersebut dilakukan dengan menggunakan data tentang urbanisasi, berkurangnya satwa liar di lingkungan sekitar, dan yang paling krusial, orang tua yang tidak lagi memperkenalkan alam pada anak-anak mereka.
Baca juga: Perempuan Adat, Penjaga Alam dan Pengetahuan untuk Kedaulatan Pangan
Richardson juga mengidentifikasi hilangnya kata-kata yang berhubungan dengan alam dari buku-buku antara tahun 1800 hingga 2020, yang puncaknya mencapai penurunan sebesar 60,6 persen pada tahun 1990.
Model komputer kemudian memprediksi akan terjadi "kepunahan pengalaman" yang berkelanjutan, di mana generasi mendatang terus kehilangan kesadaran terhadap alam.
Hal ini terjadi karena alam tidak lagi ada di lingkungan yang semakin banyak bangunan, dan orang tua tidak lagi mengajarkan "orientasi" ke dunia alami.
Studi lain juga menunjukkan bahwa hubungan orang tua dengan alam adalah faktor paling kuat yang menentukan kedekatan anak dengan alam.
"Keterhubungan dengan alam sekarang dipahami sebagai akar masalah utama dari krisis lingkungan," kata Richardson.
Padahal alam sangat vital, termasuk bagi kesehatan mental kita.
"Keterhubungan ini menyatukan kesejahteraan manusia dan alam. Perubahan transformasional diperlukan jika kita ingin mengubah cara masyarakat berinteraksi dengan alam," paparnya lagi.
Berdasarkan studinya pula sebuah kota perlu menjadi 10 lebih hijau untuk membalikkan penurunan dengan alam.
Studi ini menemukan bahwa langkah-langkah untuk meningkatkan keterlibatan masyarakat dengan alam tidak efektif dalam membalikkan penurunan jangka panjang hubungan dengan alam.
Richardson mengatakan bahwa program-program dari badan amal misalnya, program #30DaysWild dari Wildlife Trusts masih penting.
Baca juga: Pantai Bisa Jadi Kelas Alam, Tempat Belajar Keragaman Burung Laut
Namun, pemodelan menunjukkan bahwa program-program tersebut tidak menghentikan hilangnya hubungan dengan alam dari generasi ke generasi.
Langkah-langkah yang lebih efektif adalah menanamkan kesadaran dan interaksi dengan alam pada anak-anak dan keluarga muda, misalnya melalui sekolah hutan.
Kendati demikian terdapat hambatan lain dalam upaya memulihkan hubungan dengan alam. Model menunjukkan bahwa kebijakan untuk mentransformasi pendidikan usia dini dan wilayah perkotaan harus diimplementasikan dalam 25 tahun mendatang untuk membalikkan tren penurunan ini.
Namun, jika berhasil, peningkatan hubungan dengan alam akan menjadi berkesinambungan.
"Bekerja sama dengan keluarga dan orang tua untuk melibatkan anak-anak dengan alam, dengan fokus nyata pada penurunan minat dari generasi ke generasi, adalah kuncinya," papar Richardson.
"Mempertahankan ketertarikan itu sepanjang masa kanak-kanak dan sekolah mereka adalah hal yang esensial, di samping penghijauan perkotaan," pungkasnya.
Baca juga: Dampak Perubahan Iklim Meluas, DPR Dorong Pengesahan RUU EBT
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya