Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

BP Taskin Gandeng Pemda dan Swasta untuk Percepat Pengentasan Kemiskinan

Kompas.com, 24 Agustus 2025, 10:14 WIB
Yakob Arfin T Sasongko,
Sri Noviyanti

Tim Redaksi

KOMPAS.com – Badan Percepatan Pengentasan Kemiskinan (BP Taskin) menandatangani Nota Kesepahaman (MoU) sekaligus meluncurkan kick-off program Aglomerasi Percepatan Pengentasan Kemiskinan bersama Pemerintah Daerah dan pelaku swasta, Rabu (20/8/2025).

Langkah tersebut menjadi tonggak penting sinergi multipihak dalam menghadirkan solusi terintegrasi untuk mempercepat pengentasan kemiskinan di wilayah aglomerasi.

Kegiatan penandatanganan MoU tersebut menggabungkan potensi sumber daya pemerintah daerah, pelaku swasta, serta BP Taskin.

Kolaborasi strategis ini ditujukan untuk mengoptimalkan pemanfaatan program, infrastruktur, dan sumber daya lainnya demi meningkatkan kesejahteraan masyarakat terdampak kemiskinan.

Kepala BP Taskin Budiman Sudjatmiko mengatakan, pengentasan kemiskinan membutuhkan pendekatan holistik dan sinergis.

Baca juga: Menko Muhaimin: Sekolah Rakyat Solusi Atasi Kemiskinan Struktural

“Kami percaya, dengan dukungan pemerintah daerah dan sektor swasta, program ini dapat mempercepat proses transformasi sosial ekonomi secara signifikan,” ujar Budiman dalam keterangan resmi yang diterima Kompas.com, Minggu (24/8/2025).

Budiman menambahkan, penandatanganan MoU tersebut merupakan langkah konkret menuju pengentasan kemiskinan struktural melalui pemberdayaan ekonomi lokal.

“Kami percaya, koperasi sebagai model ekonomi kerakyatan dapat menjadi katalisator transformasi sektor pertanian dan energi secara berkelanjutan,” kata Budiman.

Target pengentasan kemiskinan

Dalam kolaborasi tersebut, BP Taskin berperan sebagai fasilitator, pengawas, sekaligus integrator nasional.

Lembaga ini juga menyusun Rencana Induk Pengentasan Kemiskinan 2025–2029 dengan target menurunkan angka kemiskinan ekstrem hingga 0 persen dan kemiskinan relatif menjadi 4,5–5 persen pada 2029.

Baca juga: Saat Mantan Presiden Meksiko AMLO Sukses Keluarkan 13,4 Juta Warga dari Kemiskinan...

Program Aglomerasi Percepatan Pengentasan Kemiskinan mencakup pelatihan keterampilan, pemberdayaan ekonomi lokal, dan pengembangan akses layanan sosial dasar.

Selain itu, program juga menitikberatkan pada pemanfaatan teknologi dan inovasi untuk meningkatkan efisiensi serta dampak nyata di masyarakat.

Sektor swasta pun menunjukkan antusiasme besar. Mereka berkomitmen memberikan dukungan berupa akses pembiayaan, peluang pasar, hingga sumber daya lain yang diperlukan dalam mendorong pertumbuhan usaha kecil dan menengah (UKM) yang menjadi tulang punggung ekonomi lokal.

Tidak hanya itu, kerja sama yang terjalin juga mencakup modernisasi sektor pertanian dan pengembangan energi baru terbarukan (EBT) yang berkelanjutan.

Dengan pendekatan ekonomi lokal berbasis komunitas, program ini mengusung skema semi closed-loop supply chain (SCLSC).

Baca juga: Targetkan Kemiskinan Ekstrem Turun hingga 0 Persen, Prabowo Siapkan Rp 508 Triliun untuk Program Perlindungan Sosial

Model rantai pasok semi tertutup tersebut memadukan sektor produksi, pengolahan, distribusi, hingga pemanfaatan limbah untuk meningkatkan efisiensi, produktivitas, dan keberlanjutan.

Budiman menambahkan, koperasi dijadikan pilar utama dalam menghubungkan petani dengan akses produksi, pengolahan, sekaligus penjualan.

“Kolaborasi multipihak ini adalah bentuk nyata sinergi pemerintah, swasta, dan masyarakat dalam menciptakan model bisnis berkeadilan yang mampu mempercepat pengentasan kemiskinan,” jelasnya.

Melalui skema SCLSC, lanjut dia, pemerintah daerah dan BP Taskin berkomitmen mendorong modernisasi sektor pertanian lewat inovasi dan mekanisasi, meningkatkan daya saing petani lokal, membangun rantai pasok berbasis koperasi, serta mengembangkan material baru guna mendukung transisi energi terbarukan.

“Program ini diharapkan dapat menciptakan lapangan kerja berkualitas dan berkelanjutan,” imbuhnya.

Baca juga: Kemiskinan di Indonesia Tak Bisa Diselesaikan Hanya dengan Bansos

Dukungan daerah dan investor

Pemerintah daerah yang terlibat dalam kerja sama ini adalah Kabupaten Cirebon, Indramayu, Kuningan, Brebes, serta Kota Cirebon. Mereka akan menyediakan lahan, infrastruktur, serta kebijakan sesuai potensi khas wilayah.

Adapun investor dan mitra strategis, seperti PT Thara Jaya Niaga, PT Lintas Batas Nusantara, PT Nusantara Visi Persada, Harvest Waste (Belanda), dan PT Garam (Persero), juga memberikan dukungan berupa modal, teknologi, dan akses pasar.

Sementara itu, petani, UMKM, serta komunitas lokal akan berperan sebagai produsen utama sekaligus anggota koperasi.

Koperasi multipihak (KMP) atau Koperasi Merah Putih dihadirkan sebagai platform bisnis bersama yang menjembatani kepentingan investor dengan petani.

Dengan skema tersebut, koperasi multipihak diharapkan menjadi motor penggerak pengentasan kemiskinan, sekaligus memperkuat ekonomi lokal yang mandiri dan berkelanjutan.

Baca juga: Lembaga Filantropi Lebih Terlatih Atasi Kemiskinan ketimbang Negara

Kawasan Cirebon Raya akan dikembangkan sebagai pusat produksi pangan dan material energi berbasis sumber daya lokal. Wilayah ini ditargetkan menjadi model percontohan nasional untuk transformasi ekonomi lokal berbasis koperasi dan teknologi.

Wali Kota (Walkot) Cirebon Effendi Edo mengatakan, pihaknya mendukung penuh program tersebut.

Menurutnya, kolaborasi tersebut merupakan langkah strategis untuk memastikan tidak ada warga yang tertinggal dalam proses pembangunan.

Hal itu sejalan dengan upaya pemerintah daerah dalam mendorong pertumbuhan ekonomi inklusif berbasis potensi lokal.

“Dukungan teknologi dan integrasi rantai pasok akan membawa manfaat jangka panjang bagi masyarakat di wilayah Cirebon Raya. Kami optimistis skema ini akan membawa dampak jangka panjang bagi pembangunan daerah,” ujarnya.

Baca juga: Angka Kemiskinan Kota Yogyakarta 2,26, Wali Kota Hasto Fokus Turunkan di Empat Kemantren

Inisiatif tersebut diharapkan mampu mendorong pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDGs), khususnya dalam pengurangan kemiskinan, ketahanan pangan, energi bersih, pekerjaan layak, dan pertumbuhan ekonomi inklusif.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Kian Dekat dengan Alam, Bantu Bangun Kebiasaan Makan Lebih Sehat
Kian Dekat dengan Alam, Bantu Bangun Kebiasaan Makan Lebih Sehat
Pemerintah
Pemerintah Diminta Susun Mekanisme Penyelesaian Wilayah Masyarakat Adat dengan Area Konsesi
Pemerintah Diminta Susun Mekanisme Penyelesaian Wilayah Masyarakat Adat dengan Area Konsesi
Pemerintah
Hanya 10 dari 516 Masyarakat Adat yang Diakui di Kaltim, Ini Penyebabnya
Hanya 10 dari 516 Masyarakat Adat yang Diakui di Kaltim, Ini Penyebabnya
Pemerintah
Karier Perempuan Sering Terhambat, Khususnya pada Posisi Dewan Direksi
Karier Perempuan Sering Terhambat, Khususnya pada Posisi Dewan Direksi
Pemerintah
Target WHO 2030: Deteksi Wabah Baru Hanya dalam 24 Jam
Target WHO 2030: Deteksi Wabah Baru Hanya dalam 24 Jam
Pemerintah
Perubahan Iklim Ancam Kesehatan Kulit Negara Berpendapatan Rendah
Perubahan Iklim Ancam Kesehatan Kulit Negara Berpendapatan Rendah
Pemerintah
Kerugian Hunian Akibat Bencana Capai 228 Miliar Dolar AS Setiap Tahunnya
Kerugian Hunian Akibat Bencana Capai 228 Miliar Dolar AS Setiap Tahunnya
Pemerintah
Astra Boyong 37 Peserta Binaan ke Trade Expo Indonesia 2026
Astra Boyong 37 Peserta Binaan ke Trade Expo Indonesia 2026
Desa Sejahtera Astra
Dua Tahun 'Water for Banuan', Dampak Nyata Air Bersih Berkelanjutan di Pelosok NTT
Dua Tahun "Water for Banuan", Dampak Nyata Air Bersih Berkelanjutan di Pelosok NTT
LSM/Figur
Kepemimpinan 'Human-Centered' Jadi Kunci Ukur Kesejahteraan Karyawan
Kepemimpinan "Human-Centered" Jadi Kunci Ukur Kesejahteraan Karyawan
Swasta
Antisipasi Ancaman Penyakit Pes, RI Perlu Perkuat Pemantauan Tikus
Antisipasi Ancaman Penyakit Pes, RI Perlu Perkuat Pemantauan Tikus
LSM/Figur
Satelit Ungkap Kota Dunia Alami Penurunan Tanah: Medan dan Bandung Masuk Daftar
Satelit Ungkap Kota Dunia Alami Penurunan Tanah: Medan dan Bandung Masuk Daftar
Pemerintah
Studi Ungkap Hubungan Lingkungan dan Kesehatan Mental Anak Muda
Studi Ungkap Hubungan Lingkungan dan Kesehatan Mental Anak Muda
Pemerintah
Strategi Para Petambak di Surabaya agar Mampu Bertahan dari Limbah Kiriman
Strategi Para Petambak di Surabaya agar Mampu Bertahan dari Limbah Kiriman
LSM/Figur
Kemiskinan Global Naik, PBB: Alarm Pengingat untuk Dunia
Kemiskinan Global Naik, PBB: Alarm Pengingat untuk Dunia
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau