Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Cara Hitung “Bagian Adil” Terkait Aksi Iklim Bias, Negara Kaya Diuntungkan

Kompas.com, 13 September 2025, 13:04 WIB
Add on Google
Monika Novena,
Yunanto Wiji Utomo

Tim Redaksi

Sumber Earth com

KOMPAS.com - Berdasarkan Perjanjian Paris, setiap negara diharapkan untuk melakukan "bagian yang adil" dalam mengurangi emisi gas rumah kaca.

Namun tindakan iklim yang dilakukan saat ini masih kurang, dan kita sama sekali belum mendekati janji yang dibuat untuk membatasi pemanasan global.

Selain itu juga penelitian baru menyatakan bahwa cara kita mengukur "bagian yang adil" tersebut memiliki kelemahan serius. Hal tersebut membuat para pencemar besar bisa terhindar dari tanggung jawab.

Penelitian baru ini berpendapat bahwa kita telah menggunakan metode yang bias, yang "memberi keuntungan pada penghasil emisi tinggi sambil merugikan pihak-pihak yang paling rentan."

Para penulis mengatakan sudah waktunya untuk tidak lagi membiarkan negara-negara kuat mengubah aturan seenaknya.

Baca juga: Demi Target Iklim Global, SBTi Luncurkan Standar Net Zero untuk Sektor Energi Listrik

Melansir Earth, Kamis (11/9/2025), sistem yang ada sekarang untuk mengukur upaya iklim negara hanya berfokus pada tingkat emisi saat ini, bukan pada konteks yang lebih menyeluruh.

Artinya, sistem tersebut mengabaikan polusi yang telah terjadi selama puluhan, atau bahkan ratusan tahun, yang berasal dari negara-negara kaya.

Sistem ini juga secara tidak langsung membiarkan emisi meningkat sebelum adanya tindakan yang diambil.

Akhirnya, hal itu menciptakan target yang terus berubah. Jika suatu negara berpolusi lebih banyak hari ini lalu baru mulai menguranginya nanti, sistem tetap bisa menyebutnya "ambisius". Padahal, itu bukan ambisi, melainkan penundaan.

Sebaliknya, para peneliti mengatakan bahwa kita harus meminta pertanggungjawaban negara-negara saat ini dengan menggunakan metode yang didasarkan pada emisi historis dan kemampuan finansial masing-masing negara.

Baca juga: Mobil Listrik Hasilkan Emisi 73 Persen Lebih Rendah, Bantu Capai Target Iklim

Dengan begitu, aturan main akan diubah. Negara-negara yang terlalu lama menunda untuk memulai pengurangan emisi tidak bisa lagi bersantai.

Tim di balik penelitian ini, yang berbasis di Universitas Utrecht dan dipimpin oleh Yann Robiou du Pont, mengusulkan untuk menghapus keuntungan bagi mereka yang tidak bertindak. Caranya adalah dengan mengubah metode perhitungan "bagian yang adil".

Ini bukan sekadar perubahan teknis, tetapi bisa mengubah cara negosiasi iklim internasional dinilai dan siapa yang dianggap sudah melakukan upaya yang cukup.

Ini bukanlah ide baru bahwa negara-negara kaya seharusnya berbuat lebih.

Baik kelompok keadilan iklim maupun para peneliti sudah menyampaikan hal ini selama puluhan tahun. Akan tetapi, studi ini memberikan dukungan kuat pada argumen tersebut melalui data yang valid.

Pesan utamanya jelas yakni negara-negara yang lebih makmur dan memiliki jejak karbon paling besar perlu melakukan pengurangan emisi yang lebih signifikan dan menyumbang lebih banyak untuk pendanaan iklim. Ini termasuk mendanai energi terbarukan, ketahanan iklim, dan pengurangan emisi di negara-negara berkembang.

Tanpa adanya komitmen yang adil dan dukungan finansial dari negara-negara yang paling bertanggung jawab dan memiliki kemampuan, upaya global yang efektif akan terhambat.

Studi dipublikasikan di jurnal Nature Communications.

Baca juga: Studi: Mayoritas Pabrikan Mobil Uni Eropa Siap Penuhi Target Emisi

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Perusahaan yang Punya Komitmen pada ESG Lebih Cepat Bangkit dari Krisis
Perusahaan yang Punya Komitmen pada ESG Lebih Cepat Bangkit dari Krisis
LSM/Figur
Memilah Berulang Jadi Kesulitan Para Ibu Pengelola Sampah
Memilah Berulang Jadi Kesulitan Para Ibu Pengelola Sampah
LSM/Figur
ASN di Bekasi Bisa Berhemat BBM sejak Kebijakan WFH
ASN di Bekasi Bisa Berhemat BBM sejak Kebijakan WFH
Pemerintah
Meleset dari Janji, Emisi Karbon Penerbangan Eropa Malah Melonjak Tinggi
Meleset dari Janji, Emisi Karbon Penerbangan Eropa Malah Melonjak Tinggi
Pemerintah
Studi Ungkap Perilaku Laki-Laki Cenderung Punya Jejak Karbon Lebih Besar
Studi Ungkap Perilaku Laki-Laki Cenderung Punya Jejak Karbon Lebih Besar
Pemerintah
Tukang Sampah dan Warga di Daerah Langganan Banjir Paling Berisiko Terinfeksi Hantavirus
Tukang Sampah dan Warga di Daerah Langganan Banjir Paling Berisiko Terinfeksi Hantavirus
LSM/Figur
Perubahan Iklim Jadi Risiko Bisnis, Dunia Usaha Didorong Lakukan Mitigasi Secara Terukur
Perubahan Iklim Jadi Risiko Bisnis, Dunia Usaha Didorong Lakukan Mitigasi Secara Terukur
Pemerintah
Perusahaan Raksasa Dunia Ramai-ramai PHK Karyawan, Ada Meta dan Amazon
Perusahaan Raksasa Dunia Ramai-ramai PHK Karyawan, Ada Meta dan Amazon
Swasta
PBB: Kekerasan Online Terhadap Perempuan di Ranah Publik Semakin Canggih
PBB: Kekerasan Online Terhadap Perempuan di Ranah Publik Semakin Canggih
Pemerintah
WHO Selidiki Risiko Hantavirus Menular Antar Manusia, Apakah Mengulang Pandemi Covid-19?
WHO Selidiki Risiko Hantavirus Menular Antar Manusia, Apakah Mengulang Pandemi Covid-19?
LSM/Figur
Danantara Dinilai Mampu Percepat Transisi Energi
Danantara Dinilai Mampu Percepat Transisi Energi
LSM/Figur
Pekerja Migran Indonesia di Jepang Perkuat Jejaring Lewat Pentas Budaya
Pekerja Migran Indonesia di Jepang Perkuat Jejaring Lewat Pentas Budaya
Pemerintah
Praktik 'Open Dumping' Masih Marak Terjadi Imbas Minimnya Anggaran Daerah
Praktik "Open Dumping" Masih Marak Terjadi Imbas Minimnya Anggaran Daerah
LSM/Figur
Kampanye Tahun Petani Perempuan, Tingkatkan Ketahanan Pangan di Tengah Krisis Iklim
Kampanye Tahun Petani Perempuan, Tingkatkan Ketahanan Pangan di Tengah Krisis Iklim
Pemerintah
Populasi Serangga Berkurang Sebabkan Gizi Pangan Turun, Kok Bisa?
Populasi Serangga Berkurang Sebabkan Gizi Pangan Turun, Kok Bisa?
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau