Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Energi Bersih Diperkirakan Gantikan 75 Persen Kebutuhan Bahan Bakar Fosil

Kompas.com, 16 September 2025, 19:33 WIB
Monika Novena,
Yunanto Wiji Utomo

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Analisis bertajuk ‘Power Up: How Clean Energy Is Putting Fossil Fuel Demand in Doubt’, yang diterbitkan oleh We Mean Business Coalition, Energy Transitions Commission, Ember, dan E3G, menyatakan bahwa percepatan elektrifikasi dan penurunan harga energi terbarukan sedang membentuk ulang pasar energi dengan kecepatan yang belum pernah ada sebelumnya.

Sepuluh tahun yang lalu, investasi global untuk pasokan bahan bakar fosil 1,2 kali lebih besar daripada investasi untuk energi bersih.

Saat ini, situasinya telah berbalik. Artinya, investasi untuk energi bersih kini lebih besar daripada investasi untuk bahan bakar fosil.

Energi bersih kini menerima dua kali lipat investasi dibandingkan bahan bakar fosil. Investasi ini mendorong pertumbuhan PDB dan menciptakan jutaan lapangan kerja.

Selain itu, listrik dari energi terbarukan telah melonjak hingga lebih dari 40 persen dari total bauran energi global, dengan tenaga surya memimpin sebagai sumber energi dengan pertumbuhan tercepat dalam sejarah.

Baca juga: Akses Listrik di Asia-Pasifik Hampir Merata, tapi Transisi Energi Bersih Terhambat

Antara tahun 2023 dan 2024, kapasitas baru dari tenaga surya, angin, dan baterai telah menggantikan lebih dari 650 terawatt-jam (TWh) penggunaan bahan bakar fosil.

Menurut laporan, elektrifikasi juga mentransformasi permintaan energi di berbagai industri.

Penjualan kendaraan listrik (EV) telah meningkat pesat dari 4 persen menjadi 22 persen dari penjualan mobil global hanya dalam lima tahun, menggantikan lebih dari 1,3 juta barel minyak setiap hari. Angka tersebut diprediksi akan naik hingga 5 juta barel per hari pada tahun 2030.

Penggunaan pompa panas dan elektrifikasi proses industri juga menghemat energi tiga hingga lima kali lipat dibandingkan penggunaan bahan bakar fosil. Hal ini semakin mengurangi alasan untuk terus mengandalkan minyak dan gas.

"Pesannya jelas, transisi energi bersih sedang dipercepat, dan bahan bakar fosil mulai kehilangan dominasi," ungkap Maria Mendiluce, kepala eksekutif We Mean Business Coalition.

"Perusahaan dan pemerintah yang terus mengandalkan kenaikan permintaan batu bara, minyak, dan gas mengambil risiko serius. Langkah cerdas sekarang adalah melipatgandakan investasi pada energi bersih di situlah letak pertumbuhan, lapangan kerja, dan daya saing," tambahnya, dikutip dari Edie, Selasa (16/9/2025).

Laporan tersebut juga memperingatkan bahwa bahan bakar fosil menghadapi risiko struktural yang semakin besar seiring dengan lonjakan energi terbarukan.

Permintaan minyak diperkirakan akan mencapai puncaknya pada dekade ini, dan produsen dengan biaya tinggi kemungkinan akan mengalami kesulitan seiring dengan meluasnya penggunaan kendaraan listrik (EV).

Tidak ada sektor, termasuk petrokimia, yang bisa menggantikan konsumsi minyak yang hilang tersebut.

Baca juga: Demi Target Iklim Global, SBTi Luncurkan Standar Net Zero untuk Sektor Energi Listrik

Laporan menyoroti pula bahwa gas untuk pembangkit listrik menjadi tidak kompetitif karena tenaga surya dan baterai memiliki harga yang lebih rendah daripada proyek turbin gas baru, sehingga meningkatkan kemungkinan adanya infrastruktur gas alam cair (LNG) yang berlebihan.

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Perjanjian Dagang dengan AS Bikin RI Bergantung Minyak dari 'Paman Sam'
Perjanjian Dagang dengan AS Bikin RI Bergantung Minyak dari "Paman Sam"
LSM/Figur
Soal Tambang Martabe, NGO Desak Pemerintah Fokus Pemulihan Lingkungan ketimbang Pengambilalihan
Soal Tambang Martabe, NGO Desak Pemerintah Fokus Pemulihan Lingkungan ketimbang Pengambilalihan
LSM/Figur
Orang Kaya Dubai Kabur Naik Jet Pribadi Saat Konflik AS-Israel Vs Iran, Bikin Emisi Naik
Orang Kaya Dubai Kabur Naik Jet Pribadi Saat Konflik AS-Israel Vs Iran, Bikin Emisi Naik
LSM/Figur
3 Mega Tren Dunia Versi Schneider Electric, Transisi Energi hingga AI
3 Mega Tren Dunia Versi Schneider Electric, Transisi Energi hingga AI
Swasta
Bahan Kimia Abadi PFAS Bisa Percepat Penuaan
Bahan Kimia Abadi PFAS Bisa Percepat Penuaan
LSM/Figur
Jepara Siap Gelar JIFBW 2026, Pembeli Diajak Kunjungi Perajin Furnitur
Jepara Siap Gelar JIFBW 2026, Pembeli Diajak Kunjungi Perajin Furnitur
Pemerintah
Produktivitas Pekerja Indonesia Naik Tiap Tahun, tapi Masih Tertinggal di ASEAN
Produktivitas Pekerja Indonesia Naik Tiap Tahun, tapi Masih Tertinggal di ASEAN
LSM/Figur
Ikan Air Tawar Lebih Tangguh Hadapi Pemanasan Global Dibanding Ikan Laut
Ikan Air Tawar Lebih Tangguh Hadapi Pemanasan Global Dibanding Ikan Laut
LSM/Figur
Investor Desak Perusahaan Utilitas Asia Perbaiki Alokasi Modal dan Kebijakan Iklim
Investor Desak Perusahaan Utilitas Asia Perbaiki Alokasi Modal dan Kebijakan Iklim
Swasta
Peneliti Temukan Cara Daur Ulang Limbah Sarung Tangan Karet
Peneliti Temukan Cara Daur Ulang Limbah Sarung Tangan Karet
Pemerintah
Uni Eropa Target Pangkas Emisi Gas Rumah Kaca hingga 90 Persen pada 2040
Uni Eropa Target Pangkas Emisi Gas Rumah Kaca hingga 90 Persen pada 2040
Pemerintah
Kue Delapan Jam, 'Waktu' Jadi Bahan Utama
Kue Delapan Jam, "Waktu" Jadi Bahan Utama
Swasta
Video Viral Anak Gajah Diduga Terjerat, Kemenhut Sebut Lokasinya di Malaysia
Video Viral Anak Gajah Diduga Terjerat, Kemenhut Sebut Lokasinya di Malaysia
Pemerintah
Satgas Transisi Energi dan Usulan Potensi Dana Pungutan Batu Bara Rp 675 Triliun
Satgas Transisi Energi dan Usulan Potensi Dana Pungutan Batu Bara Rp 675 Triliun
LSM/Figur
Waspada, Ancaman Kebakaran Hutan di Indonesia Lebih Berat Saat Musim Kemarau 2026
Waspada, Ancaman Kebakaran Hutan di Indonesia Lebih Berat Saat Musim Kemarau 2026
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau