KOMPAS.com - Analisis bertajuk ‘Power Up: How Clean Energy Is Putting Fossil Fuel Demand in Doubt’, yang diterbitkan oleh We Mean Business Coalition, Energy Transitions Commission, Ember, dan E3G, menyatakan bahwa percepatan elektrifikasi dan penurunan harga energi terbarukan sedang membentuk ulang pasar energi dengan kecepatan yang belum pernah ada sebelumnya.
Sepuluh tahun yang lalu, investasi global untuk pasokan bahan bakar fosil 1,2 kali lebih besar daripada investasi untuk energi bersih.
Saat ini, situasinya telah berbalik. Artinya, investasi untuk energi bersih kini lebih besar daripada investasi untuk bahan bakar fosil.
Energi bersih kini menerima dua kali lipat investasi dibandingkan bahan bakar fosil. Investasi ini mendorong pertumbuhan PDB dan menciptakan jutaan lapangan kerja.
Selain itu, listrik dari energi terbarukan telah melonjak hingga lebih dari 40 persen dari total bauran energi global, dengan tenaga surya memimpin sebagai sumber energi dengan pertumbuhan tercepat dalam sejarah.
Baca juga: Akses Listrik di Asia-Pasifik Hampir Merata, tapi Transisi Energi Bersih Terhambat
Antara tahun 2023 dan 2024, kapasitas baru dari tenaga surya, angin, dan baterai telah menggantikan lebih dari 650 terawatt-jam (TWh) penggunaan bahan bakar fosil.
Menurut laporan, elektrifikasi juga mentransformasi permintaan energi di berbagai industri.
Penjualan kendaraan listrik (EV) telah meningkat pesat dari 4 persen menjadi 22 persen dari penjualan mobil global hanya dalam lima tahun, menggantikan lebih dari 1,3 juta barel minyak setiap hari. Angka tersebut diprediksi akan naik hingga 5 juta barel per hari pada tahun 2030.
Penggunaan pompa panas dan elektrifikasi proses industri juga menghemat energi tiga hingga lima kali lipat dibandingkan penggunaan bahan bakar fosil. Hal ini semakin mengurangi alasan untuk terus mengandalkan minyak dan gas.
"Pesannya jelas, transisi energi bersih sedang dipercepat, dan bahan bakar fosil mulai kehilangan dominasi," ungkap Maria Mendiluce, kepala eksekutif We Mean Business Coalition.
"Perusahaan dan pemerintah yang terus mengandalkan kenaikan permintaan batu bara, minyak, dan gas mengambil risiko serius. Langkah cerdas sekarang adalah melipatgandakan investasi pada energi bersih di situlah letak pertumbuhan, lapangan kerja, dan daya saing," tambahnya, dikutip dari Edie, Selasa (16/9/2025).
Laporan tersebut juga memperingatkan bahwa bahan bakar fosil menghadapi risiko struktural yang semakin besar seiring dengan lonjakan energi terbarukan.
Permintaan minyak diperkirakan akan mencapai puncaknya pada dekade ini, dan produsen dengan biaya tinggi kemungkinan akan mengalami kesulitan seiring dengan meluasnya penggunaan kendaraan listrik (EV).
Tidak ada sektor, termasuk petrokimia, yang bisa menggantikan konsumsi minyak yang hilang tersebut.
Baca juga: Demi Target Iklim Global, SBTi Luncurkan Standar Net Zero untuk Sektor Energi Listrik
Laporan menyoroti pula bahwa gas untuk pembangkit listrik menjadi tidak kompetitif karena tenaga surya dan baterai memiliki harga yang lebih rendah daripada proyek turbin gas baru, sehingga meningkatkan kemungkinan adanya infrastruktur gas alam cair (LNG) yang berlebihan.
Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya