JAKARTA, KOMPAS.com - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi hujan lebat dan gelombang tinggi terjadi di beberapa wilayah Indonesia sepekan ke depan.
Direktur Meteorologi Publik BMKG, Andri Ramdhani, menjelaskan memasuki dasarian ketiga September sebagian wilayah mengalami masa peralihan yang ditandai hujan lebat disertai petir dan angin kencang berdurasi singkat pada skala lokal.
"Hal ini diprediksi terjadi di beberapa wilayah di Indonesia karena pengaruh faktor dinamika atmosfer pada skala global, regional, dan lokal," ujar Andri saat dihubungi, Selasa (23/9/2025).
Pada periode 23-29 September 2025, cuaca di Indonesia umumnya didominasi oleh kondisi berawan hingga hujan ringan.
Andri mewanti-wanti adanya peningkatan hujan dengan intensitas sedang di Aceh, Sumatera Utara, Sumatera Barat, Riau, Sumatera Selatan, Bengkulu, Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Jawa Timur.
Baca juga: BNPB Minta Daerah Tanggap Peralihan Musim, Tingkatkan Mitigasi Bencana
Lalu Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Timur, Kalimantan Utara, Sulawesi Barat, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, Maluku Utara, Maluku, Papua Barat Daya, Papua Barat, Papua Tengah, Papua Pegunungan, Papua, serta Papua Selatan.
Selain itu, hujan dengan intensitas lebat yang dapat disertai kilat atau petir dan angin kencang dapat terjadi, dengan kategori siaga (hujan lebat-sangat lebat) di Papua Tengah dan Papua Pegunungan.
Angin kencang di Jawa Timur, Nusa Tenggara Timur, serta Sulawesi Selatan.
Menurut Andri, dipole mode index (DMI) masih menunjukan nilai negatif sehingga meningkatkan pertumbuhan awan di wilayah barat Indonesia. Hangatnya suhu muka laut di sejumlah area perairan juga mampu memicu peningkatan aktivitas konvektif yang signifikan.
Aktifnya gelombang rossby equatorial, kelvin, dan madden julian oscillation (MJO), serta negatifnya nilai outgoing longwave radiation (OLR) secara spasial, menunjukkan kecenderungan kuat akan pertumbuhan awan hujan.
"Faktor lainnya yang memperkuat kondisi pertumbuhan awan khususnya di wilayah utara Indonesia adalah adanya siklon tropis dan bibit siklon tropis yang tumbuh secara bergantian di sekitar wilayah perairan utara," jelas Andri.
"Hal ini berpengaruh terhadap pola angin di sekitar wilayah bibit siklon tersebut, sehingga sirkulasi berupa bibit siklon tropis maupun siklon tropis kerap tumbuh dan melintas," imbuh dia.
Baca juga: Deforestasi Amazon Kurangi Curah Hujan dan Picu Kenaikan Suhu
Andri membeberkan cuaca saat ini turut dipengaruhi pertemuan angin yang terpantau memanjang dari Laut Andaman, di Laut Natuna Utara, Laut China Selatan, Laut Sulu, Sumatra Barat, Sumatera Utara, Riau, Samudra Hindia barat Bengkulu, Kalimantan Timur, Kalimantan Utara, Laut Sulawesi, Laut Maluku, Papua, Samudera Pasifik utara Maluku Utara hingga utara Papua.
"Labilitas atmosfer yang relatif kuat serta kelembapan udara yang basah menjadi pemicu terbentuknya awan konvektif di beberapa daerah,cl" sebut dia.
Karena itu, pihaknya meminta masyarakat untuk tetap waspada risiko banjir, genangan, dan tanah longsor.
"Masyarakat diharapkan melakukan tindakan antisipatif, yakni dengan memastikan saluran drainase tetap bersih dan tidak tersumbat, serta selalu memantau informasi cuaca resmi BMKG sebagai bahan pertimbangan dalam merencanakan kegiatan," tutur Andri.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya