KALIMANTAN TENGAH, KOMPAS.com - SMK Maharati, sekolah yang berdiri di tengah hutan Kalimantan Tengah, punya cara berbeda untuk mendidik murid-muridnya. Setiap pagi sebelum kegiatan belajar dimulai, seluruh murid diwajibkan membaca buku.
Gerakan ini bukan sekadar rutinitas. Program tersebut lahir dari hasil evaluasi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) yang menunjukkan masih rendahnya kemampuan literasi dan numerasi. Targetnya sederhana: meningkatkan rapor pendidikan sekolah.
Setahun berjalan, hasilnya terasa. Indeks rapor pendidikan SMK Maharati naik dari warna kuning, kategori perlu diperbaiki, menjadi hijau atau sudah bagus.
“Saat awal datang ke sini, saya bikin progam 1 bulan wajib baca satu buku, terus report ke wali kelasnya. Kalau enggak mencapai, ya, enggak ada progress. Hapenya (gawainya) saya tahan, enggak dikasih di hari libur. Murid pegang hape di hari Sabtu dan Minggu,” ujar Kepala Sekolah SMK Maharati, Aris Dianto, Rabu (1/10/2025).
Program literasi ini sebenarnya pernah ada sebelum Aris memimpin pada 2023. Namun, sempat terhenti dan kini dihidupkan kembali dengan sistem yang lebih ketat.
Menurut Aris, murid bebas memilih genre bacaan apa pun, kecuali bacaan dewasa. Perpustakaan sekolah lebih dulu menyeleksi buku-buku yang masuk.
“Karena di asrama enggak boleh pakai hape ya dan SMK Maharati punya perpustakaan. Mereka (akhirnya) pinjam buku dalam waktu lama. Malamnya, supaya bisa tidur, (mereka) baca buku. Itu jadi habit (kebiasaan) baru. Selama ini, di SD dan SMP (mereka) enggak pernah baca buku, bahkan perpustakaannya enggak ada,” jelas Aris.
Murid juga dinilai lewat sistem poin. Membaca buku bisa menambah poin, sementara pelanggaran, termasuk malas membaca, akan mengurangi poin. Hukuman yang diberikan bukan berupa sanksi keras, melainkan penugasan membaca lebih banyak atau menuangkan gagasan ke perlombaan.
“(Membudayakan membaca) Itu sangat sulit sekali karena mereka sudah kecanduan atau ketergantungan dengan hape. Kami harus paksa, lama-lama mereka terbiasa dan menjadikan membaca buku sebagai kebutuhan. Jadi, tanpa kami kasih hukuman atau tanpa harus suruh-suruh lagi, anak itu harusnya sudah automatis untuk membaca buku,” lanjut Aris.
Baca juga: Tanoto Foundation Dorong Percepatan SDGs Bidang Pendidikan di Indonesia
Selain murid, guru dan staf juga diwajibkan membaca. Mereka mendapat pelatihan literasi agar bisa memberi contoh, sekaligus mengasah kemampuan memahami informasi dengan cepat dan menulis gagasan.
“Program pelatihan literasi untuk semua guru maupun staf harapannya supaya (mereka) memberi contoh,” katanya.
Buku yang dibaca murid-murid mayoritas berasal dari perpustakaan SMK Maharati. Koleksinya sekitar 280 buku aktif, meski total keseluruhan, termasuk yang hilang, mungkin mendekati 1.000.
“Tahun lalu, saya meminta para guru yang cuti atau libur untuk membaca buku dan bukunya itu nanti disumbangkan ke perpustakaan (SMK Maharati),” tutur Aris.
Novel menjadi bacaan favorit para murid. Kepala Perpustakaan SMK Maharati, Dhia Zulfiqar, menyebut novel memberi hiburan sekaligus memperkaya kosakata.
“Kalau harus belajar terus ya bosan, sehingga di sini disediakan novel,” ujarnya.
Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya