Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
CERITA LESTARI

Melihat Upaya Konservasi Tanaman dan Fauna Endemik Sulawesi di Taman Kehati Sawerigading Wallacea

Kompas.com, 2 Oktober 2025, 08:03 WIB
HTRMN,
Sri Noviyanti

Tim Redaksi

SOROWAKO, KOMPAS.com – Semilir angin sejuk dan riuh kicauan burung menyambut tim Kompas.com kala menjejakkan kaki di Taman Keanekaragaman Hayati (Kehati) Sawerigading Wallacea, Senin (22/9/2025), pukul 06.00 WITA. Di sisi lain, matahari yang tampak malu-malu keluar dari peraduannya memberikan kehangatan tersendiri.

Lebih dari sekadar area hijau biasa, Taman Kehati Sawerigading Wallacea adalah laboratorium hidup yang diinisiasi PT Vale Indonesia Tbk (PT Vale) untuk melestarikan lingkungan. Lokasinya berada di Sorowako Site, Kabupaten Luwu Timur, Sulawesi Selatan.

Embun masih menyelimuti dedaunan pada pohon-pohon yang ada di kawasan konservasi seluas 75 hektare itu.

Diresmikan oleh Presiden Joko Widodo pada 30 Maret 2023, nama “Sawerigading” diambil dari nama cucu Batara Guru, penguasa Bumi dalam epik La Galigo. Sementara itu, "Wallacea" merujuk pada garis yang mengindikasikan keanekaragaman hayati di Indonesia, terutama di kawasan Sulawesi, Maluku, dan Nusa Tenggara.

Baca juga: 19 Tahun Perjalanan Himalaya Hill, dari Lahan Tambang Tandus Jadi Arboretum Hijau

Pada Agustus 2024, taman ini ditetapkan internal sebagai kawasan khusus yang mengintegrasikan fungsi konservasi–edukasi–rekreasi, dan disahkan melalui Keputusan Bupati Luwu Timur Nomor 54/D-05/II/2025. Selain tumbuhan lokal, areal ini juga menjadi rumah penangkaran rusa timor serta bagian dari konservasi kupu-kupu lokal dan endemik

Supervisor of Nursery and Rehabilitation PT Vale Indonesia Abkar menuturkan bahwa sebelum diresmikan, taman seluas 75 hektare ini lebih dikenal sebagai nursery PT Vale Indonesia yang dibangun sejak 2005–2006.

“Setelah diresmikan, barulah dikenal dengan Taman Kehati Sawerigading Wallacea,” ujarnya.

Jantung dari Taman Kehati Sawerigading Wallacea adalah fasilitas pembibitan atau nursery modern yang telah dibangun sejak 2005–2006. Di sini, Vale Indonesia menargetkan produksi hingga 700.000 bibit per tahun.

Baca juga: Flora Endemik Sulawesi: Kayu Eboni, Kantong Semar, dan Nepenthes Hamata

Menurut Abkar, kapasitas ideal nursery dapat mencapai kurang lebih 700.000 batang per tahun (tiga siklus), tetapi realisasi produksi disesuaikan kebutuhan reklamasi dan biasanya ditambah buffer 10–20 persen.

“Secara kapasitas, kami bisa memproduksi 700.000 batang per tahun, tapi produksi disesuaikan lagi dengan kebutuhan reklamasi, biasanya ditambah 10–20 persen,” katanya.

Sebagai standar pengelolaan, setiap bibit diberi geo-tagging untuk pemantauan pertumbuhan dan keberlanjutan setelah ditanam.

“Bibit-bibit itulah yang akan ditanam kembali di lahan-lahan reklamasi pascatambang,” ujar Abkar.

Baca juga: Vale Indonesia Lakukan Reklamasi 3.791 Hektare Lahan Tambang di Sulsel

Lebih lanjut, Abkar menyampaikan, pihaknya juga melakukan konservasi terhadap 74 jenis tanaman lokal dan endemik, serta 18 jenis tanaman pionir yang didahulukan untuk ditanam.

Tanaman pionir dipilih karena cepat tumbuh dan “bandel” sehingga membantu memulihkan tanah kritis sebelum tanaman lokal atau endemik ditanam.

Salah satu fokus konservasi terbesar Taman Kehati Sawerigading Wallacea adalah eboni, spesies langka yang terancam punah. Sejak 2006, PT Vale telah melakukan konservasi lebih kurang 80.000 bibit eboni yang sudah tertanam di area reklamasi.

Setiap bibit yang siap ditanam di Taman Kehati Sawerigading Wallacea akan melalui proses root-balling dan diberi geo-tagging.KOMPAS.com/HOTRIA MARIANA Setiap bibit yang siap ditanam di Taman Kehati Sawerigading Wallacea akan melalui proses root-balling dan diberi geo-tagging.

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Krisis Iklim Ancam Juhyo, Fenomena Monster Salju di Jepang
Krisis Iklim Ancam Juhyo, Fenomena Monster Salju di Jepang
Pemerintah
Bahaya Bakar Plastik untuk Rumah Tangga, Ahli Jelaskan Dampaknya
Bahaya Bakar Plastik untuk Rumah Tangga, Ahli Jelaskan Dampaknya
LSM/Figur
Pertanian Ancam Ekosistem Terbesar Dunia, 26 Persen Spesies Hilang
Pertanian Ancam Ekosistem Terbesar Dunia, 26 Persen Spesies Hilang
Pemerintah
325.000 Hektare Perairan Wetar Barat Resmi jadi Kawasan Konservasi
325.000 Hektare Perairan Wetar Barat Resmi jadi Kawasan Konservasi
LSM/Figur
AS Keluar dari UNFCCC, PBB Ingatkan Dampak Kebijakan Trump
AS Keluar dari UNFCCC, PBB Ingatkan Dampak Kebijakan Trump
Pemerintah
INDEF: Tanpa Perbaikan Ketenagakerjaan, Program MBG Berisiko Jadi Beban Antar-Generasi
INDEF: Tanpa Perbaikan Ketenagakerjaan, Program MBG Berisiko Jadi Beban Antar-Generasi
LSM/Figur
Fenomena Plastik Berminyak di Pantai, Disebut akibat Minyak Tumpah di Laut
Fenomena Plastik Berminyak di Pantai, Disebut akibat Minyak Tumpah di Laut
LSM/Figur
Peringkat Kesehatan Laut Indonesia Naik, tapi Nelayan Kecil Masih Belum Sejahtera
Peringkat Kesehatan Laut Indonesia Naik, tapi Nelayan Kecil Masih Belum Sejahtera
LSM/Figur
Kebijakan Pencegahan Kanker Serviks di Indonesia Dinilai Belum Menyeluruh
Kebijakan Pencegahan Kanker Serviks di Indonesia Dinilai Belum Menyeluruh
LSM/Figur
Cerita Satrio Wiratama, Bayi Panda Pertama di Indonesia yang Jadi Simbol Diplomasi
Cerita Satrio Wiratama, Bayi Panda Pertama di Indonesia yang Jadi Simbol Diplomasi
Pemerintah
Di Tengah Krisis Ekologis, Riset Ungkap Peran Sekolah Bentuk Perilaku Ramah Lingkungan Siswa
Di Tengah Krisis Ekologis, Riset Ungkap Peran Sekolah Bentuk Perilaku Ramah Lingkungan Siswa
LSM/Figur
Deforestasi Skala Kecil Jadi Ancaman Serius Iklim Dunia, Mengapa?
Deforestasi Skala Kecil Jadi Ancaman Serius Iklim Dunia, Mengapa?
Pemerintah
Desa Terdampak Banjir Sumatera Disebut Lebih Banyak dari yang Dilaporkan
Desa Terdampak Banjir Sumatera Disebut Lebih Banyak dari yang Dilaporkan
Pemerintah
Generasi Baby Boomer Dinilai Efektif Dorong Keberlanjutan Perusahaan
Generasi Baby Boomer Dinilai Efektif Dorong Keberlanjutan Perusahaan
Pemerintah
Korea Selatan dan China Perluas Kerja Sama Terkait Krisis Iklim
Korea Selatan dan China Perluas Kerja Sama Terkait Krisis Iklim
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp 5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau