KOMPAS.com - Eropa kini dipandang sebagai pasar investasi paling menjanjikan untuk energi terbarukan, diikuti Asia di posisi kedua.
Pergeseran daya tarik ini terjadi karena Amerika Serikat di bawah pemerintahan Donald Trump menghentikan insentif finansial dan dukungan kebijakan di sektor tersebut.
Berdasarkan hasil survei Tamarindo, lebih dari 60 persen petinggi perusahaan sepakat bahwa Eropa saat ini merupakan pasar paling unggul untuk menanamkan modal di sektor energi terbarukan.
Sementara lebih dari sepertiga (35 persen) memilih Asia dan hanya 3 persen yang menyebutkan Amerika Utara.
Melansir Edie, Jumat (3/10/2025) hasil survei ini sejalan dengan gejolak geopolitik yang memanas.
Baca juga: Proyek Energi Terbarukan Melonjak, Sayangnya Gugatan HAM-nya Juga Naik
Diketahui bahwa 49 persen dari 235 peserta konferensi telah memindahkan investasi energi terbarukan mereka dari AS/Kanada ke Eropa. Langkah ini diambil menyusul kebijakan Donald Trump yang menentang energi bersih.
Sementara itu, 22 persen sisanya sedang dalam tahap pertimbangan untuk melakukan pengalihan investasi serupa.
Namun sebanyak 57 persen dari peserta survei meyakini bahwa penolakan Trump terhadap energi bersih telah memberi imbas buruk pada industri energi di Eropa.
"Sektor energi terbarukan menunjukkan optimisme yang berhati-hati terutama terkait dengan peluang investasi dan pelaksanaan proyek di Eropa," terang CEO Tamarindo, Adam Barber.
"Namun, pada saat yang sama masih ada beberapa hambatan umum yang sudah dikenal yang harus dinavigasi dan beberapa tren politik yang asing yang harus diadaptasi," katanya lagi.
Riset lain dari firma konsultan global Kearney menunjukkan bahwa kapasitas sumber daya manusia adalah hambatan serius lain dalam transisi energi hijau.
Kearney memperingatkan bahwa jumlah tenaga ahli teknik listrik di seluruh dunia harus ditingkatkan hingga tiga kali lipat pada tahun 2030 agar proyek infrastruktur yang mendukung transisi energi ini dapat terlaksana.
Riset Kearney yang berjudul "The Future of the Energy Workforce" melibatkan survei terhadap sekitar 1.000 ahli di 37 negara.
Kesimpulannya, sektor energi tidak hanya mengalami defisit jumlah insinyur, tetapi juga memiliki kombinasi keahlian yang tidak mampu memenuhi kebutuhan sistem energi yang berubah dengan sangat cepat.
Para peneliti menyimpulkan bahwa kurikulum pendidikan teknik dan program pelatihannya gagal mengikuti perkembangan kebutuhan industri saat ini.
Itu terjadi karena banyak kampus masih fokus pada pelatihan teknis konvensional, mengakibatkan para lulusan tidak memiliki kesiapan memadai untuk memenuhi tuntutan keahlian multidisiplin dalam proyek-proyek transisi energi.
Baca juga: IRENA: Energi Terbarukan Jadi Pilihan Termurah untuk Produksi Listrik
Persaingan untuk mendapatkan pekerja terampil juga semakin intens.
Hampir separuh dari seluruh insinyur listrik yang disurvei mengatakan bahwa mereka telah pindah peran, perusahaan, atau industri sejak tahun 2021, dengan alasan kelelahan kerja dan kurangnya pekerjaan yang merangsang.
Sektor-sektor seperti TI dan teknologi, yang membutuhkan banyak keahlian yang sama, seringkali mampu memikat talenta dengan gaji yang lebih tinggi.
"Mengingat peningkatan kebutuhan energi listrik yang masif dan dipicu teknologi di masa depan, para petinggi di industri listrik global harus mewaspadai sejauh mana dampak dari kekurangan sumber daya manusia yang mengancam mereka," papar Andre Begosso, Mitra di Kearney.
"Saat ini jumlah insinyur yang memiliki keterampilan memadai sangat terbatas, sehingga mereka tidak mampu merealisasikan semua perubahan yang diperlukan dalam dekade ini dan kekurangan talenta ini kian memburuk," tambahnya.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya