Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Eropa Jadi Pasar Paling Menarik untuk Investasi Energi Terbarukan

Kompas.com, 4 Oktober 2025, 17:25 WIB
Monika Novena,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

Sumber Edie

KOMPAS.com - Eropa kini dipandang sebagai pasar investasi paling menjanjikan untuk energi terbarukan, diikuti Asia di posisi kedua.

Pergeseran daya tarik ini terjadi karena Amerika Serikat di bawah pemerintahan Donald Trump menghentikan insentif finansial dan dukungan kebijakan di sektor tersebut.

Berdasarkan hasil survei Tamarindo, lebih dari 60 persen petinggi perusahaan sepakat bahwa Eropa saat ini merupakan pasar paling unggul untuk menanamkan modal di sektor energi terbarukan.

Sementara lebih dari sepertiga (35 persen) memilih Asia dan hanya 3 persen yang menyebutkan Amerika Utara.

Melansir Edie, Jumat (3/10/2025) hasil survei ini sejalan dengan gejolak geopolitik yang memanas.

Baca juga: Proyek Energi Terbarukan Melonjak, Sayangnya Gugatan HAM-nya Juga Naik

Diketahui bahwa 49 persen dari 235 peserta konferensi telah memindahkan investasi energi terbarukan mereka dari AS/Kanada ke Eropa. Langkah ini diambil menyusul kebijakan Donald Trump yang menentang energi bersih.

Sementara itu, 22 persen sisanya sedang dalam tahap pertimbangan untuk melakukan pengalihan investasi serupa.

Namun sebanyak 57 persen dari peserta survei meyakini bahwa penolakan Trump terhadap energi bersih telah memberi imbas buruk pada industri energi di Eropa.

"Sektor energi terbarukan menunjukkan optimisme yang berhati-hati terutama terkait dengan peluang investasi dan pelaksanaan proyek di Eropa," terang CEO Tamarindo, Adam Barber.

"Namun, pada saat yang sama masih ada beberapa hambatan umum yang sudah dikenal yang harus dinavigasi dan beberapa tren politik yang asing yang harus diadaptasi," katanya lagi.

Riset lain dari firma konsultan global Kearney menunjukkan bahwa kapasitas sumber daya manusia adalah hambatan serius lain dalam transisi energi hijau.

Kearney memperingatkan bahwa jumlah tenaga ahli teknik listrik di seluruh dunia harus ditingkatkan hingga tiga kali lipat pada tahun 2030 agar proyek infrastruktur yang mendukung transisi energi ini dapat terlaksana.

Riset Kearney yang berjudul "The Future of the Energy Workforce" melibatkan survei terhadap sekitar 1.000 ahli di 37 negara.

Kesimpulannya, sektor energi tidak hanya mengalami defisit jumlah insinyur, tetapi juga memiliki kombinasi keahlian yang tidak mampu memenuhi kebutuhan sistem energi yang berubah dengan sangat cepat.

Para peneliti menyimpulkan bahwa kurikulum pendidikan teknik dan program pelatihannya gagal mengikuti perkembangan kebutuhan industri saat ini.

Itu terjadi karena banyak kampus masih fokus pada pelatihan teknis konvensional, mengakibatkan para lulusan tidak memiliki kesiapan memadai untuk memenuhi tuntutan keahlian multidisiplin dalam proyek-proyek transisi energi.

Baca juga: IRENA: Energi Terbarukan Jadi Pilihan Termurah untuk Produksi Listrik

Persaingan untuk mendapatkan pekerja terampil juga semakin intens.

Hampir separuh dari seluruh insinyur listrik yang disurvei mengatakan bahwa mereka telah pindah peran, perusahaan, atau industri sejak tahun 2021, dengan alasan kelelahan kerja dan kurangnya pekerjaan yang merangsang.

Sektor-sektor seperti TI dan teknologi, yang membutuhkan banyak keahlian yang sama, seringkali mampu memikat talenta dengan gaji yang lebih tinggi.

"Mengingat peningkatan kebutuhan energi listrik yang masif dan dipicu teknologi di masa depan, para petinggi di industri listrik global harus mewaspadai sejauh mana dampak dari kekurangan sumber daya manusia yang mengancam mereka," papar Andre Begosso, Mitra di Kearney.

"Saat ini jumlah insinyur yang memiliki keterampilan memadai sangat terbatas, sehingga mereka tidak mampu merealisasikan semua perubahan yang diperlukan dalam dekade ini dan kekurangan talenta ini kian memburuk," tambahnya.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Pertamina Eco RunFest 2026 Hadirkan 7 Inisiatif Keberlanjutan, dari Daur Ulang hingga Pengelolaan Sampah
Pertamina Eco RunFest 2026 Hadirkan 7 Inisiatif Keberlanjutan, dari Daur Ulang hingga Pengelolaan Sampah
BUMN
Perusahaan, Regulator, dan Stakeholder Membentuk Arah Pelaporan Keberlanjutan
Perusahaan, Regulator, dan Stakeholder Membentuk Arah Pelaporan Keberlanjutan
Pemerintah
Jasa Ekosistem Hutan Belum Dihitung, Pakar Dorong Valuasi dalam Tata Ruang
Jasa Ekosistem Hutan Belum Dihitung, Pakar Dorong Valuasi dalam Tata Ruang
Pemerintah
Indonesia Siapkan RPP Pengelolaan Sumber Daya Genetik, Kehancuran Ekonomi Jadi Konsekuensi Kerusakan Alam
Indonesia Siapkan RPP Pengelolaan Sumber Daya Genetik, Kehancuran Ekonomi Jadi Konsekuensi Kerusakan Alam
Pemerintah
Dampak Cuaca Panas, Pekerja Perempuan Pekerja Informal Rugi Rp1.009 Triliun Per Tahun
Dampak Cuaca Panas, Pekerja Perempuan Pekerja Informal Rugi Rp1.009 Triliun Per Tahun
LSM/Figur
Merangkul Masyarakat Adat, Garda Terdepan Pencegahan Karhutla
Merangkul Masyarakat Adat, Garda Terdepan Pencegahan Karhutla
LSM/Figur
Tata Guna Lahan Tumpang Tindih Hambat Investasi Perdagangan Karbon di Indonesia
Tata Guna Lahan Tumpang Tindih Hambat Investasi Perdagangan Karbon di Indonesia
Pemerintah
Penyusutan Air Sungai Eropa Ancam Jalur Logistik, Perusahaan Pelayaran Cari Solusi
Penyusutan Air Sungai Eropa Ancam Jalur Logistik, Perusahaan Pelayaran Cari Solusi
Pemerintah
10 Persen Orang Terkaya Picu Kerugian Lingkungan Rp101 Kuadriliun Tiap Tahun
10 Persen Orang Terkaya Picu Kerugian Lingkungan Rp101 Kuadriliun Tiap Tahun
Pemerintah
Uji Gagasan di Desa Binaan Bakti BCA, Gen Z Belajar Beradaptasi dan Mendengar Warga
Uji Gagasan di Desa Binaan Bakti BCA, Gen Z Belajar Beradaptasi dan Mendengar Warga
Swasta
Suhu Gurun Makin Ekstrem, Unta Mulai Kesulitan Bertahan Hidup
Suhu Gurun Makin Ekstrem, Unta Mulai Kesulitan Bertahan Hidup
Pemerintah
Kemendagri Dorong Pembenahan Tata Kelola Desa untuk Percepat Pengentasan Kemiskinan
Kemendagri Dorong Pembenahan Tata Kelola Desa untuk Percepat Pengentasan Kemiskinan
Pemerintah
Suhu Laut Naik, Kemampuan Padang Lamun Menyimpan Karbon Alami Merosot
Suhu Laut Naik, Kemampuan Padang Lamun Menyimpan Karbon Alami Merosot
Pemerintah
Studi Ungkap 25 Persen Emisi Karbon Sektor Pelayaran Dunia dari Kapal di Sungai
Studi Ungkap 25 Persen Emisi Karbon Sektor Pelayaran Dunia dari Kapal di Sungai
Pemerintah
Dampak Karhutla Tak Cukup Dihitung dari Luas Lahan dan Emisi Karbon
Dampak Karhutla Tak Cukup Dihitung dari Luas Lahan dan Emisi Karbon
LSM/Figur
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau