Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Suhu Laut Alor Tiba-Tiba Turun Drastis hingga Ikan-ikan Pingsan, BRIN Ungkap Penyebabnya

Kompas.com, 31 Oktober 2025, 15:29 WIB
Zintan Prihatini,
Yunanto Wiji Utomo

Tim Redaksi

JAKARTA, KOMPAS.com - Perairan Selat Mulut Kumbang, Alor Kecil, Nusa Tenggara Timur mengalami penurunan suhu 28 derajat celsius secara tiba-tiba dengan suhu minimum mencapai 12 derajat celsius. Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menjelaskan fenomena itu disebut extreme upwelling event (EUE).

Peneliti Ahli Madya Pusat Riset Sistem Biota BRIN, Achmad Sahri, mengatakan EUE adalah naiknya massa air laut yang sangat dingin dari lapisan dalam menuju permukaan secara tiba-tiba.

“Biasanya penurunan suhu akibat upwelling di daerah tropis hanya sekitar dua derajat celcius, tetapi di Alor kami mencatat penurunan hingga 10 derajat hanya dalam waktu singkat sekitar satu jam,” ungkap Sahri dalam keterangannya, Jumat (30/10/2025).

Baca juga: Ancaman Abadi Sampah Plastik, Bertahan di Permukaan Laut Lebih dari 100 Tahun

Guru Besar di Departemen Oseanografi Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro, Anindya Wirasatriya, yang memimpin penelitian menyebutkan EUE terjadi bersamaan dengan pasang purnama. Lalu memicu pergerakan massa air secara vertikal dengan kecepatan sekitar 0,012 meter per detik.

"Selain suhu yang anjlok, salinitas air laut juga meningkat dari 30 practical salinity unit (PSU) menjadi 36 PSU. Menunjukkan bahwa air yang naik berasal dari lapisan laut yang lebih dalam, di mana suhu lebih rendah dan kadar garam lebih tinggi,” jelas Anindya.

Extreme upwelling event setidaknya berlangsung selama satu hingga tiga hari, dan dapat terjadi dua kali dalam sehari mengikuti pasang surut laut. Inilah yang menjadikannya fenomena langka namun dapat berdampak besar pada ekosistem laut setempat.

Fenomena EUE di Sekat Mulut Kumbang kejadian pertama yang tercatat di dunia, dan kini menjadi fokus penelitian para ahli oseanografi dari Universitas Diponegoro dan BRIN. Sebab, belum ada laporan kejadian serupa di perairan tropis lainnya.

Baca juga: Bayi Dugong Terlihat di Perairan Alor, Konservasi Berbasis Masyarakat Jadi Kunci

Menurut Anindya, besarnya perubahan suhu menunjukkan adanya proses oseanografi dan topografi lokal yang khas.

“EUE ini unik karena belum pernah dilaporkan di wilayah tropis lainnya. Artinya, dinamika dan topografi lokal Selat Mulut Kumbang memiliki karakteristik khusus yang memicu fenomena langka ini,” ungkap dia.

Penelitian menunjukkan, EUE dipicu oleh interaksi kompleks antara arus pasang surut, arus laut dalam, dan bentuk dasar laut yang sempit serta curam. Ketika pasang naik, arus membawa massa air dingin dari kedalaman ke arah utara melalui saluran bawah laut, sementara arus hangat indonesian throughflow (ITF) bergerak ke selatan.

"Pertemuan dua arus berlawanan ini menciptakan turbulensi kuat yang mendorong air dingin naik ke permukaan," ucap Anindya.

Adapun EUE hanya terjadi pada periode tertentu, antara Agustus-November karena dipengaruhi sistem monsun tahunan terhadap dinamika arus dan suhu perairan. Pasang surut, arus laut dalam, topografi yang sempit dan curam, serta pengaruh monsun menjadikan Selat Mulut Kumbang lokasi ideal terjadinya fenomena oseanografi langka itu.

Dampak ke Ekosistem

Di sisi lain, Sahri mencatat bahwa menurunnta suhu air laut yang ekstrem menyebabkan ikan-ikan tropis mengalami kejutan termal hingga pingsan sehingga mudah ditangkap oleh warga.

"Kondisi tersebut juga menarik perhatian lumba-lumba dan mamalia laut lainnya yang memanfaatkan momen tersebut untuk berburu ikan," tutur dia.

Baca juga: Setelah 20 Tahun, WTO Resmi Larang Subsidi Perikanan Ilegal dan Merusak

Selain itu, EUE di Alor memiliki potensi ekonomi dan wisata yang besar. Kejadian langka ini dapat dikembangkan menjadi daya tarik wisata ilmiah berbasis konservasi, di mana wisatawan dapat menyaksikan fenomena alam tanpa merusak lingkungan.

“Masyarakat dapat mengamati lumba-lumba dari bibir pantai atau tubir, tanpa harus menggunakan perahu yang dapat mengganggu tingkah laku biota tersebut,” jelas Sahri.

Para peneliti berharap hasil riset EUE dapat menjadi dasar pengelolaan sumber daya laut dan ekowisata berkelanjutan di Kabupaten Alor dan sekitarnya.

“Fenomena ini adalah pengingat betapa dinamisnya laut Indonesia. Di balik keindahannya, terdapat sistem alam yang kompleks dan masih menyimpan banyak misteri untuk diungkap,” imbuh Sahri.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau