Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Kompas.com, 6 November 2025, 15:27 WIB
Yakob Arfin T Sasongko,
Sri Noviyanti

Tim Redaksi

KOMPAS.com – Tak banyak yang menyadari bahwa sebagian sampah plastik dari sungai-sungai di Pulau Jawa bisa “berlayar” hingga ribuan kilometer menembus Samudra Hindia, bahkan mencapai pesisir Afrika Selatan.

Fakta tersebut diungkapkan Profesor Riset Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Muhammad Reza Cordova dalam Lokakarya Internasional “Indonesia-Taiwan Collaboration in Scaling Up Marine Plastic Debris Governance in the Indo-Pacific” di Jakarta, Kamis (6/11/2025).

Reza mengatakan, kebocoran sampah plastik dari daratan menuju laut menjadi salah satu tantangan paling serius di Indonesia.

Melalui hasil riset yang dilakukan bersama timnya, ia menggambarkan bagaimana sampah dari sungai seperti Ciliwung, Citarum, dan Cisadane akhirnya terbawa arus hingga perairan lepas.

“Kami menemukan bahwa sebagian plastik dari sungai di Jawa bagian barat dapat bergerak menuju Samudra Hindia, dan bahkan sampai ke perairan Afrika Selatan dalam waktu kurang dari setahun,” ujar Reza, Kamis.

Sebagai informasi, lokakarya tersebut merupakan bagian dari kerja sama Taiwan-Indonesia Center for Humanities (THC) dan Ocean Affairs Council (OAC) Taiwan dalam proyek tata kelola sampah laut di kawasan Indo-Pasifik.

Baca juga: The Habibie Center Gandeng OAC Taiwan Perkuat Tata Kelola Sampah Laut Indo-Pasifik

Acara tersebut melibatkan pembicara dari Indonesia, Jepang, Filipina, dan Taiwan untuk membahas temuan riset serta upaya pengelolaan sampah laut lintas negara.

Reza melanjutkan, penemuan tersebut berasal dari simulasi dan pelacakan berbasis satelit yang dilakukan tim BRIN menggunakan drifter atau pelampung pelacak di muara sungai Cisadane.

Hasilnya menunjukkan, dua dari 11 drifter yang dilepaskan pada 2020 terdeteksi memasuki Samudra Hindia dan terus bergerak ke arah barat.

“Temuan itu membuktikan bahwa sampah yang dibuang di sungai lokal bisa berkontribusi langsung terhadap polusi laut lintas negara,” tambahnya.

Profesor Riset Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Muhammad Reza Cordova dalam Lokakarya Internasional ?Indonesia-Taiwan Collaboration in Scaling Up Marine Plastic Debris Governance in the Indo-Pacific? di Jakarta, Kamis (6/11/2025).KOMPAS.com/Yakob Arfin T Sasongko Profesor Riset Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Muhammad Reza Cordova dalam Lokakarya Internasional ?Indonesia-Taiwan Collaboration in Scaling Up Marine Plastic Debris Governance in the Indo-Pacific? di Jakarta, Kamis (6/11/2025).

Sungai dan pesisir jalur utama kebocoran plastik

Reza menjelaskan bahwa 5,6 juta ton plastik diperkirakan terlepas ke lingkungan setiap tahun di Indonesia.

Dari jumlah tersebut, sekitar 77 persen berasal dari praktik pembakaran terbuka (open burning), sedangkan sebagian besar sisanya disebabkan oleh sampah yang tidak terkelola atau tidak terangkut.

Baca juga: Menteri Lingkungan Hidup: Indonesia Negara Penghasil Sampah Laut Kedua di Dunia

Uncollected waste adalah sumber utama polusi plastik di Indonesia,” kata Reza, mengutip temuan Systemiq (2017).

Penelitiannya menunjukkan bahwa sungai berperan sebagai jalur utama bagi sampah plastik menuju laut.

Sungai-sungai di Jawa, seperti Ciliwung dan Citarum, menjadi contoh bagaimana sampah dari pemukiman padat dapat mengalir hingga ke wilayah pesisir.

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Dianggap Boros Emisi, Perjalanan Udara Presiden FIFA di Piala Dunia Tuai Protes
Dianggap Boros Emisi, Perjalanan Udara Presiden FIFA di Piala Dunia Tuai Protes
Pemerintah
Ekonom IPB: Pembangunan Terlalu Fokus pada Angka, Abaikan Aspek Moral dan Tata Kelola
Ekonom IPB: Pembangunan Terlalu Fokus pada Angka, Abaikan Aspek Moral dan Tata Kelola
Pemerintah
Mayoritas Pemimpin Bisnis Cemas Transisi Iklim Berjalan Kacau
Mayoritas Pemimpin Bisnis Cemas Transisi Iklim Berjalan Kacau
Pemerintah
PBB Desak Raksasa Teknologi Transparan Soal Dampak Lingkungan dari AI
PBB Desak Raksasa Teknologi Transparan Soal Dampak Lingkungan dari AI
Pemerintah
Dari Gang Sempit di Jakarta, Seorang ASN Bangun Ekonomi Sirkular yang Turut Hidupi Warga
Dari Gang Sempit di Jakarta, Seorang ASN Bangun Ekonomi Sirkular yang Turut Hidupi Warga
LSM/Figur
Konsorsium Tiga Media di Asia Tenggara Kerja Sama untuk Perkuat ESG
Konsorsium Tiga Media di Asia Tenggara Kerja Sama untuk Perkuat ESG
Pemerintah
Menilik Upaya BNI dalam Mendorong Pemerataan Pendidikan di Tanah Air
Menilik Upaya BNI dalam Mendorong Pemerataan Pendidikan di Tanah Air
BUMN
Survei KPMG: 4 dari 5 Perusahaan Bingung Ukur Nilai Ekonomi Bisnis Berkelanjutan
Survei KPMG: 4 dari 5 Perusahaan Bingung Ukur Nilai Ekonomi Bisnis Berkelanjutan
Pemerintah
BNPB Catat Banjir-Kekeringan Landa Sejumlah Wilayah, Ribuan Orang Terdampak
BNPB Catat Banjir-Kekeringan Landa Sejumlah Wilayah, Ribuan Orang Terdampak
Pemerintah
Ilusi Lahan Baru di Tengah Deforestasi
Ilusi Lahan Baru di Tengah Deforestasi
Pemerintah
Regulasi ESG di Indonesia Belum Penuhi Aspek yang Dipersyaratkan Pasar Global
Regulasi ESG di Indonesia Belum Penuhi Aspek yang Dipersyaratkan Pasar Global
Pemerintah
Krisis Iklim Rusak Keanekaragaman Hayati Mikroba Sungai
Krisis Iklim Rusak Keanekaragaman Hayati Mikroba Sungai
Pemerintah
BRIN dan YKAN Uji Pembakaran Gambut Terkendali untuk Perbaiki Akurasi Data Emisi Nasional
BRIN dan YKAN Uji Pembakaran Gambut Terkendali untuk Perbaiki Akurasi Data Emisi Nasional
LSM/Figur
Paparan Suhu Panas Ekstrem Global Naik 22 Persen, Apa Dampaknya?
Paparan Suhu Panas Ekstrem Global Naik 22 Persen, Apa Dampaknya?
LSM/Figur
PBB Peringatkan AI Perparah Bias Gender dan Kekerasan di Dunia Maya
PBB Peringatkan AI Perparah Bias Gender dan Kekerasan di Dunia Maya
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau