KOMPAS.com - Krisis iklim dan tekanan lingkungan di perkotaan dan kawasan pertanian dengan penggunaan pestisida secara terus-menerus dalam jangka panjang, mengancam populasi kupu-kupu.
Sebagai bioindikator kelestarian suatu lingkungan, kupu-kupu sangat sensitif terhadap perubahan suhu dan habitat.
Kupu-kupu tidak akan menghisap nutrisi pada tanah basah di lingkungan yang tercemar polutan atau mekanisme air sampai udara dalam ekosistemnya terganggu. Bahkan, krisis iklim berdampak terhadap seluruh fase metamorfosis kupu-kupu. Khususnya, pada fase telur.
Baca juga: 20 Tahun Terakhir, Kupu-kupu Kian Langka, Tanda Bahaya untuk Kita
Induk kupu-kupu berusaha meletakkan telurnya di tempat tersembunyi untuk menghindari paparan sinar matahari dan menjauhkan dari jangkauan predator.
Misalnya, menaruh telur di bawah permukaan daun, lipatan-lipatan bunga, dan ranting, serta dititipkan di dekat tumbuhan inang.
Namun, saat terjadi kenaikan suhu akibat krisis iklim, telur akan mengalami 'dehidrasi' dan menjadi pemicu gagalnya penetasan.
Menurut penggiat konservasi kupu-kupu dari Yayasan Negeri Kupu-Kupu Lestari (Nektar), Yohannes Agus Sunarko, 'dehidrasi' juga terjadi pada fase larva dan pupa, sehingga kenaikan suhu berdampak nyata terhadap kegagalan kupu-kupu untuk melanjutkan metamorfosis.
Krisis iklim juga berdampak terhadap gangguan sikronisasi pada siklus kehidupan kupu-kupu.
"Ketidaktepatan ini pun masih memungkinkan untuk terjadi karena pihak ketiga, yaitu manusia dan fenomena nature fight back (alam melawan balik) seperti anomali kemunculan ulat dalam jumlah banyak di wilayah perkebunan, pertanian, bahkan hutan atau sekitar rumah kita," ujar Yohannes dalam webinar beberapa hari lalu.
Selain itu, krisis iklim meningkatkan frekuensi bencana hidrometeorologi seperti banjir, longsor, hingga kekeringan, yang mengubah peta biodiversitas. Bencana hidrometeorologi menghancurkan eksosistem yang menjadi habitat untuk kupu-kupu.
Padahal, pemulihan habitat kupu-kupu pasca bencana hidrometeorologi membutuhkan waktu puluhan tahun dan biaya yang sangat mahal.
Krisis iklim juga berdampak terhadap fragmentasi habitat kupu-kupu. Berdasarkan evolusi timbal balik antara kupu-kupu dan tumbuhan inang, terdapat dua kategori hubungan, yaitu, spesialis dan generalis.
Untuk spesies kupu-kupu dengan kategori generalis, bisa memakan berbagai macam tumbuhan inang. Misalnya, kupu-kupu jenis Rapala manea yang dapat beradaptasi dengan lingkungan secara baik karena dapat memakan lebih dari 10 jenis tumbuhan inang.
Kemampuan bertahan hidup kupu-kupu jenis Rapala manea yang bagus memungkinkannya keluar dari fragmentasi habitat akibat krisis iklim. Sedangkan spesies kupu-kupu dengan kategori spesialis, hanya mampu memakan satu jenis tumbuhan inang.
Jika terjadi fragmentasi habitat, kupu-kupu jenis ini sangat rentan terhadap ancaman kepnuhan karena tidak memiliki pilihan untuk memakan tumbuhan lain.
Baca juga: Studi Ungkap, Ruang Hijau di Tepi Jalan Tingkatkan Keragaman Kupu-Kupu
Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya