Artikel ini adalah kolom, seluruh isi dan opini merupakan pandangan pribadi penulis dan bukan cerminan sikap redaksi.
Inovasi pertanian organik rendah karbon memberikan manfaat ganda bagi ekologi dan ekonomi petani. Melalui agroforestri, ekosistem multistrata terbentuk dan menghadirkan keanekaragaman hayati yang lebih kaya, mulai dari satwa penyeimbang hama hingga tanaman sela yang menyuburkan tanah.
Penambahan bahan organik membuat struktur tanah semakin baik, sementara keberagaman tanaman memberi petani banyak sumber panen, dari buah dan kayu dari pohon naungan, sayuran sela, hingga padi dan jagung di antara tegakan kebun.
Diversifikasi ini mengurangi ketergantungan pada satu komoditas, sehingga saat harga berfluktuasi atau cuaca tidak bersahabat, pendapatan keluarga tani tetap lebih stabil. Secara keseluruhan, teknik organik menjadikan lahan lebih tangguh iklim sekaligus lebih menyejahterakan.
Di sisi kebijakan, pemerintah memainkan peran yang krusial dalam mempercepat adopsi praktik organik. Melalui program Climate Friendly Farming (CFF), petani dibekali pelatihan untuk mengurangi input kimia dan beralih ke praktik ramah lingkungan.
Lahan percontohan bebas bakar diperkenalkan untuk menekan emisi dari pembukaan lahan, sementara pengembangan “Desa Organik” mempercepat transformasi komunitas perkebunan menuju budidaya rendah karbon. Pemerintah juga mendistribusikan teknologi seperti mesin kompos, pengolah pupuk organik, dan sistem irigasi hemat air.
Di tingkat riset, Litbang Pertanian dan BRIN dipacu mengembangkan varietas tahan kekeringan, irigasi tetes, dan teknik konservasi tanah yang menjaga produktivitas di musim kering. Perguruan tinggi dan lembaga riset turut memperkuat gerakan ini dengan mengumpulkan praktik baik petani dan menyesuaikannya agar dapat diperluas secara nasional.
Keberhasilan transisi menuju pertanian rendah karbon hanya mungkin tercapai melalui sinergi semua pemangku kepentingan. Pemerintah pusat dan daerah perlu memperkuat komitmen iklim melalui NDC (Nationally Determined Contributions) dan RAD-GRK (Rencana Aksi Daerah Gas Rumah Kaca) yang memasukkan pengembangan pertanian organik sebagai prioritas.
Petani harus diberdayakan sebagai ujung tombak, dengan akses teknologi, pasar, serta kelembagaan yang kuat. Lembaga riset dan universitas menyediakan inovasi ilmiah, sementara sektor swasta dan LSM memperluas dukungan pasar, pendanaan, dan penyebaran teknologi.
Bila kolaborasi multipihak ini berjalan konsisten, pertanian organik tidak hanya menjaga lingkungan dan ketahanan pangan lokal, tetapi juga memperkuat perekonomian nasional dan posisi Indonesia sebagai pemimpin pertanian tropis berkelanjutan. Dengan dukungan yang tepat, model ini berpotensi menjadi pilar utama ketahanan iklim Indonesia.
Baca juga: Perubahan Iklim, Petani Kopi Jambi Perkuat Agroforestri dan Intensifikasi
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya