Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Krisis Nutrisi akibat Iklim: Tanaman Makin Berkalori, Kita Makin Rentan

Kompas.com, 17 November 2025, 17:46 WIB
Monika Novena,
Yunanto Wiji Utomo

Tim Redaksi

Sumber PHYSORG

KOMPAS.com - Peningkatan karbon dioksida (CO2) di atmosfer membuat tanaman pangan menjadi lebih berkalori, kurang bergizi, dan berpotensi lebih beracun.

Jika tidak ada intervensi, hal tersebut dapat menyebabkan malnutrisi, bahwa pada kelompok populasi yang saat ini memiliki cukup makanan.

Demikian hasil temuan dari peneliti Universitas Leiden yang dipublikasikan di Global Change Biology.

Melansir Phys, Jumat (14/11/2025), berdasarkan penelitian tersebut, peningkatan CO2 di udara mengurangi kualitas nutrisi tanaman. Misalnya, tanaman pangan akan mengandung lebih sedikit seng, zat besi, dan protein.

Nutrisi dalam tanaman pangan ini menurun rata-rata 4,4 persen, tetapi beberapa di antaranya menurun hingga 38 persen.

Baca juga: FAO: Ada 6.000 Tanaman Pangan, Mirisnya Kita Tergantung pada 9 Jenis

Pada saat yang sama, jumlah kalori tanaman pangan itu meningkat yang dapat berkontribusi pada obesitas.

Konsentrasi zat berbahaya seperti merkuri dan timbal juga mungkin meningkat, meskipun diperlukan lebih banyak data untuk menyelidiki hal ini.

Dari berbagai tanaman pangan, padi dan gandum menunjukkan penurunan nutrisi penting yang signifikan seiring dengan meningkatkan kadar CO2.

Penurunan nilai gizi ini dapat berdampak signifikan terhadap kesehatan manusia, meski tersedia cukup makanan tetapi dapat berkontribusi pula pada malnutrisi.

Studi ini pun menjadi sebuah peringatan.

"Penelitian kami menekankan bahwa ketahanan pangan juga berarti ketahanan nutrisi. Kita perlu lebih memperhatikan hal itu," ungkap Ilmuwan lingkungan Sterre ter Haar mengomentari hasil penelitiannya.

Dalam studinya, para peneliti menganalisis dan membandingkan data tanaman dari berbagai studi. Dalam studi-studi ini, para peneliti menanam tanaman pada berbagai tingkat CO2.

Meskipun banyak data tersedia, perbedaan konsentrasi CO2 yang digunakan membuat studi-studi tersebut sulit untuk dibandingkan.

Namun, para peneliti Leiden menemukan bahwa efek kadar CO2 yang mereka teliti terhadap pertumbuhan tanaman bersifat linear: jika kadar CO2 berlipat ganda, efeknya terhadap nutrisi juga berlipat ganda.

Baca juga: Masalah Baru, Cara Usang: Resep Orde Baru Dinilai Tak Akan Atasi Krisis Pangan

Hal ini memungkinkan para peneliti untuk melakukan pengukuran dasar yang memungkinkan mereka membandingkan data. Mereka mengamati total 43 tanaman, termasuk padi, kentang, tomat, dan gandum.

Pertanyaannya seberapa realistiskah skenario tanaman pangan ini bakal menjadi lebih berkalori, kurang bergizi, dan lebih beracun?

Ter Haar menjelaskan kadar CO2 untuk pengukuran dasar adalah 350 bagian per juta (ppm) dan peneliti mengamati apa yang terjadi pada 550 ppm.

"Saat ini kita hidup pada 425 ppm, jadi kita sudah setengah jalan dalam model tersebut," katanya.

Hal tersebut menunjukkan bahwa pola makan kita sudah kurang bergizi dibandingkan beberapa dekade yang lalu sehingga mungkin perlu menyesuaikan pola makan kita di masa mendatang.

Para peneliti Leiden berharap studi ini akan menginspirasi penelitian lebih lanjut tentang dampak CO2 tidak hanya pada tanaman lain, tetapi juga tentang apakah perubahan iklim memengaruhi makanan kita dan bagaimana kita dapat membantu tanaman untuk beradaptasi terhadap perubahan iklim.

Baca juga: COP30: Perlindungan Masyarakat Adat, Jawaban Nyata untuk Krisis Iklim

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Karhutla Bakar 637.011 Hektar Lahan, Organisasi Lintas Iman Desak Siklus Tahunan Diputus
Karhutla Bakar 637.011 Hektar Lahan, Organisasi Lintas Iman Desak Siklus Tahunan Diputus
Pemerintah
ASRI Menyapa Surabaya, Dorong Siswa dan Guru Wujudkan Sekolah Berkelanjutan
ASRI Menyapa Surabaya, Dorong Siswa dan Guru Wujudkan Sekolah Berkelanjutan
Swasta
Lonjakan Belanja Militer Perparah Perubahan Iklim dan Keamanan Global
Lonjakan Belanja Militer Perparah Perubahan Iklim dan Keamanan Global
Pemerintah
Pengembangan PLTS Terapung Perlu Mitigasi agar Tak Ganggu Fungsi Badan Air
Pengembangan PLTS Terapung Perlu Mitigasi agar Tak Ganggu Fungsi Badan Air
Pemerintah
Rotan Kian Sulit Didapat, Perajin Anyaman Mahakam Ulu Terpaksa Beralih ke Plastik
Rotan Kian Sulit Didapat, Perajin Anyaman Mahakam Ulu Terpaksa Beralih ke Plastik
LSM/Figur
'Cage Free Eggs', Mengangkat Isu Kesejahteraan di Sebutir Telur
"Cage Free Eggs", Mengangkat Isu Kesejahteraan di Sebutir Telur
LSM/Figur
Pelajar Galang Dana lewat Golf untuk Wujudkan Harapan Anak dengan Penyakit Kritis
Pelajar Galang Dana lewat Golf untuk Wujudkan Harapan Anak dengan Penyakit Kritis
LSM/Figur
Dilema Pemanfaatan Dana Karbon di Pedalaman Kalimantan...
Dilema Pemanfaatan Dana Karbon di Pedalaman Kalimantan...
LSM/Figur
Bank Global Kucurkan Rp 10,69 Kuadriliun ke Perusahaan Terkait Deforestasi
Bank Global Kucurkan Rp 10,69 Kuadriliun ke Perusahaan Terkait Deforestasi
Pemerintah
Menjaga Mangrove Tetap Hidup, Bukan Sekadar Menanam
Menjaga Mangrove Tetap Hidup, Bukan Sekadar Menanam
Pemerintah
LSEG: Pemilik Aset Semakin Integrasikan Keberlanjutan ke Dalam Portofolio
LSEG: Pemilik Aset Semakin Integrasikan Keberlanjutan ke Dalam Portofolio
Pemerintah
Bisakah Pemulihan Populasi Hewan Besar Bantu Atasi Perubahan Iklim?
Bisakah Pemulihan Populasi Hewan Besar Bantu Atasi Perubahan Iklim?
Pemerintah
Dari Rotan, Masyarakat Dayak Merawat Tradisi dan Membuka Jalan Penghidupan
Dari Rotan, Masyarakat Dayak Merawat Tradisi dan Membuka Jalan Penghidupan
LSM/Figur
Pembangunan Proyek Batu Bara Baru Tiga Kali Lebih Cepat dari Penghentiannya
Pembangunan Proyek Batu Bara Baru Tiga Kali Lebih Cepat dari Penghentiannya
LSM/Figur
Ketika Greenpeace Mencuri Panggung di Bundaran HI
Ketika Greenpeace Mencuri Panggung di Bundaran HI
LSM/Figur
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau