Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Jepang Incar Pulau Terpencil Jadi Lokasi Pembuangan Limbah Nuklir

Kompas.com, 5 Maret 2026, 11:11 WIB
Ni Nyoman Wira Widyanti

Penulis

Sumber AFP

KOMPAS.com - Pemerintah Jepang sedang mempertimbangkan sebuah pulau terpencil di Samudera Pasifik sebagai lokasi pembuangan limbah nuklir. Pulau itu berjarak hampir 2.000 kilometer dari ibu kota Tokyo, serta jauh dari permukiman padat.

Pulau yang dimaksud adalah Minamitorishima, yang letaknya di wilayah paling timur Jepang. Luasnya sekitar 1,5 kilometer persegi, tertutup untuk wisatawan, dan tidak berpenghuni.

Baca juga:

Menurut pejabat pemerintah, Jepang ingin melakukan survei awal di Pulau Minamitorishima. Survei ini bertujuan untuk menilai apakah pulau tersebut layak menjadi lokasi fasilitas penyimpanan limbah nuklir permanen, dilansir dari AFP, Rabu (4/3/2026).

Jepang pertimbangkan pulau sebagai lokasi limbah nuklir

Langkah awal berupa survei geologi

Energi nuklir disebut kembali dilirik banyak negara. Namun, limbah bahan bakar bekas tetap menjadi masalah besar karena bisa berbahaya selama ribuan tahun.

Jepang juga menghadapi tantangan yang sama. Negeri Sakura ingin kembali memaksimalkan penggunaan energi nuklir secara aman, kebijakan yang muncul sekitar 15 tahun setelah bencana di Fukushima. 

"(Pulau Minamitorishima memiliki) beberapa wilayah daratan yang belum dieksplorasi dan berpotensi untuk menampung fasilitas," kata Menteri Industri Jepang, Ryosei Akazawa. 

Akazawa juga menyebut pulau berbentuk segitiga yang dikelilingi karang itu memiliki beberapa sifat ilmiah yang menguntungkan.

Baca juga:

Foto yang diambil dari udara tampak PLTN Fukushima Daichi yang sudah rusak di Okuma, Prefektur Fukushima, 24 Agustus 2023. Jiji Press/AFP Foto yang diambil dari udara tampak PLTN Fukushima Daichi yang sudah rusak di Okuma, Prefektur Fukushima, 24 Agustus 2023.

Pemerintah Jepang telah mengajukan permintaan kepada pemerintah kota di Tokyo yang mengelola pulau tersebut. Permintaan itu berisi rencana inspeksi kondisi tanah dan aktivitas vulkanis melalui dokumen geologi.

Langkah ini menjadi tahap pertama dari tiga tahap survei. Tahapan ini diperlukan untuk menentukan lokasi akhir pembuangan limbah nuklir.

Sebelumnya, penyelidikan juga sudah dilakukan di tiga lokasi lain. Lokasi itu berada di dua dari empat pulau utama Jepang, tepatnya dua lokasi berada di Hokkaido dan satu lokasi lainnya berada di Kyushu.

Pulau Minamitorishima disebut sebagai kandidat pertama yang dipilih langsung oleh pemerintah pusat atas inisiatif sendiri.

Pada Januari 2026 lalu, Jepang kembali mengaktifkan pembangkit listrik tenaga nuklir terbesar di dunia, lokasinya di wilayah Niigata. Aktivasi ini menjadi yang pertama sejak tragedi Fukushima pada tahun 2011.

Sebagai perbandingan, Finlandia telah membangun fasilitas penyimpanan geologi dalam pertama di dunia bernama Onkalo. Limbah nuklir di lokasi tersebut akan diisolasi sekitar 400 meter di bawah tanah.

Baca juga:

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Musim Kemarau di Indonesia Diprediksi Lebih Cepat dan Lebih Kering
Musim Kemarau di Indonesia Diprediksi Lebih Cepat dan Lebih Kering
Pemerintah
Pemerintah Sebut Insinerator Bisa Kurangi Sampah hingga 90 Persen, tetapi Biayanya Tinggi
Pemerintah Sebut Insinerator Bisa Kurangi Sampah hingga 90 Persen, tetapi Biayanya Tinggi
Pemerintah
Nuri Kepala Hitam Papua Ditemukan di Kapal, BKSDA Maluku Langsung Bertindak
Nuri Kepala Hitam Papua Ditemukan di Kapal, BKSDA Maluku Langsung Bertindak
Pemerintah
Petugas Masih Berupaya Padamkan 118 Hektar Hutan di Riau Kebakaran
Petugas Masih Berupaya Padamkan 118 Hektar Hutan di Riau Kebakaran
Pemerintah
Jepang Incar Pulau Terpencil Jadi Lokasi Pembuangan Limbah Nuklir
Jepang Incar Pulau Terpencil Jadi Lokasi Pembuangan Limbah Nuklir
Pemerintah
Pembangunan Melampaui Batas Ekologi
Pembangunan Melampaui Batas Ekologi
Pemerintah
Polusi Udara Bisa Ganggu Kesehatan Mental, Depresi hingga Cemas
Polusi Udara Bisa Ganggu Kesehatan Mental, Depresi hingga Cemas
LSM/Figur
Pohon di Kota Serap Lebih Banyak CO2 Dibanding Emisi Kendaraan
Pohon di Kota Serap Lebih Banyak CO2 Dibanding Emisi Kendaraan
LSM/Figur
Tiru Kesuksesan Sawit, Prabowo Minta Kementan Hilirisasi 7 Komoditas Ini
Tiru Kesuksesan Sawit, Prabowo Minta Kementan Hilirisasi 7 Komoditas Ini
Pemerintah
Paving Block Ramah Lingkungan, Manfaatkan Limbah Kerang dan Tambang
Paving Block Ramah Lingkungan, Manfaatkan Limbah Kerang dan Tambang
LSM/Figur
Keberlanjutan dan Hilirisasi Kelapa Sawit Jadi Kunci Lawan Gejolak Harga Global
Keberlanjutan dan Hilirisasi Kelapa Sawit Jadi Kunci Lawan Gejolak Harga Global
LSM/Figur
Gen Z Paling Khawatir Dampak AI, Baby Boomer Justru Percaya Diri
Gen Z Paling Khawatir Dampak AI, Baby Boomer Justru Percaya Diri
LSM/Figur
Salon Bisa Jadi Senjata Rahasia Melawan Krisis Iklim, Kok Bisa?
Salon Bisa Jadi Senjata Rahasia Melawan Krisis Iklim, Kok Bisa?
Pemerintah
Schneider Electric Kurangi 862 Juta Ton Emisi CO2 pada 2021–2025
Schneider Electric Kurangi 862 Juta Ton Emisi CO2 pada 2021–2025
Swasta
Antisipasi Cuaca Ekstrem, Modifikasi Cuaca Digelar di 3 Lokasi
Antisipasi Cuaca Ekstrem, Modifikasi Cuaca Digelar di 3 Lokasi
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau