KOMPAS.com - Iran mengalami kekeringan yang begitu parah sehingga presiden negara itu mengatakan ibu kotanya, Teheran, mungkin harus mendapatkan treatment khusus.
Curah hujan di seluruh Iran 85 persen di bawah rata-rata, dan Teheran hanya menerima 1 milimeter hujan tahun ini.
Sementara itu, waduk-waduk di ibu kota dan di wilayah sekitarnya berada dalam kondisi yang mengkhawatirkan dengan kapasitas air di bawah 5 persen di 32 bendungan. Citra satelit menunjukkan beberapa waduk telah mengering seluruhnya.
Penduduk Teheran dilaporkan telah mengurangi konsumsi air sekitar 10 persen, tetapi itu belum cukup.
Tekanan air telah dikurangi pada malam hari, dan pihak berwenang berencana untuk mendenda rumah tangga dan bisnis yang mengonsumsi air secara berlebihan.
Jika curah hujan tidak membaik pada bulan Desember, 14 juta penduduk Teheran mungkin harus mulai mengungsi.
Baca juga: Konsumsi Air Dunia Melonjak 25 Persen, Bank Dunia Ungkap Bumi Menuju Kekeringan
Melansir New Scientist, Selasa (18/11/2025) para ahli mengatakan krisis iklim telah berkontribusi terhadap kekeringan, yang telah berlangsung selama lima tahun.
Namun, pengelolaan yang buruk adalah penyebab utama dari kekeringan tersebut. Pemerintah telah memperluas pertanian secara besar-besaran di daerah kering, membebani sumber daya air secara berlebihan.
Setengah juta sumur ilegal, banyak di antaranya dibor oleh petani yang putus asa, telah menguras air tanah.
Dalam upaya mendatangkan hujan, pesawat memulai operasi penyemaian awan pada 15 November yang direncanakan berlangsung sepanjang musim hujan tradisional hingga Mei.
Namun, para ahli memperingatkan bahwa teknik ini menantang dan kemungkinan besar tidak akan memberikan dampak signifikan terhadap krisis air.
Penyemaian awan sendiri dikembangkan pada tahun 1940-an oleh para ilmuwan.
Penyemaian awan melibatkan penyebaran partikel yang mendorong tetesan air yang tersuspensi di awan untuk jatuh sebagai hujan.
Baca juga: Laporan WMO: Sumber Air Dunia Terancam, Kekeringan dan Banjir Kian Parah
Meskipun beberapa proyek telah menyemprotkan garam ke awan yang rendah, banyak yang berfokus pada penyebaran bahan kimia, yang paling umum adalah perak iodida, ke awan fase campuran yang lebih tinggi.
Tetesan air cair yang sangat dingin membeku saat bersentuhan dengan senyawa kristal ini, membentuk kristal es yang membesar dan jatuh sebagai salju atau hujan.
Namun, seringkali sulit untuk mengetahui berapa banyak hujan atau salju yang akan terjadi.
“Efeknya sangat sulit ditunjukkan karena variabilitas alami awan yang besar,” kata Andrea Flossmann dari Universitas Clermont Auvergne di Prancis.
Iran sendiri menyatakan telah menyemai awan pada 15 November di cekungan di sekitar Danau Urmia yang selama dua dekade telah mengering menjadi dataran garam.
Menurut peta curah hujan University of California, Irvine, wilayah di sebelah barat danau menerima curah hujan hingga 2,7 sentimeter keesokan paginya.
Namun, untuk penyemaian awan guna mengisi kembali waduk hasilnya masih dipertanyakan. Pasalnya, awan harus mengandung banyak air. Awan seperti itu mungkin sulit ditemukan di Iran yang gersang, di mana tidak banyak badan air besar untuk menguapkan uap air ke udara.
"Penyemaian awan seringkali jauh lebih sulit selama musim kemarau karena atmosfernya sangat kering, dan awan yang ada mungkin tidak memiliki kelembapan yang cukup," kata Karen Howard, seorang ilmuwan di Kantor Akuntabilitas Pemerintah AS.
Baca juga: Akhiri Krisis Air, Vinilon Group dan Solar Chapter Alirkan Air Bersih ke Desa Fafinesu NTT
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya