Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Iran Alami Kekeringan Parah, 14 Juta Warga Teheran Berisiko Direlokasi

Kompas.com, 23 November 2025, 15:00 WIB
Add on Google
Monika Novena,
Yunanto Wiji Utomo

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Iran mengalami kekeringan yang begitu parah sehingga presiden negara itu mengatakan ibu kotanya, Teheran, mungkin harus mendapatkan treatment khusus.

Curah hujan di seluruh Iran 85 persen di bawah rata-rata, dan Teheran hanya menerima 1 milimeter hujan tahun ini.

Sementara itu, waduk-waduk di ibu kota dan di wilayah sekitarnya berada dalam kondisi yang mengkhawatirkan dengan kapasitas air di bawah 5 persen di 32 bendungan. Citra satelit menunjukkan beberapa waduk telah mengering seluruhnya.

Penduduk Teheran dilaporkan telah mengurangi konsumsi air sekitar 10 persen, tetapi itu belum cukup.

Tekanan air telah dikurangi pada malam hari, dan pihak berwenang berencana untuk mendenda rumah tangga dan bisnis yang mengonsumsi air secara berlebihan.

Jika curah hujan tidak membaik pada bulan Desember, 14 juta penduduk Teheran mungkin harus mulai mengungsi.

Baca juga: Konsumsi Air Dunia Melonjak 25 Persen, Bank Dunia Ungkap Bumi Menuju Kekeringan

Melansir New Scientist, Selasa (18/11/2025) para ahli mengatakan krisis iklim telah berkontribusi terhadap kekeringan, yang telah berlangsung selama lima tahun.

Namun, pengelolaan yang buruk adalah penyebab utama dari kekeringan tersebut. Pemerintah telah memperluas pertanian secara besar-besaran di daerah kering, membebani sumber daya air secara berlebihan.

Setengah juta sumur ilegal, banyak di antaranya dibor oleh petani yang putus asa, telah menguras air tanah.

Dalam upaya mendatangkan hujan, pesawat memulai operasi penyemaian awan pada 15 November yang direncanakan berlangsung sepanjang musim hujan tradisional hingga Mei.

Namun, para ahli memperingatkan bahwa teknik ini menantang dan kemungkinan besar tidak akan memberikan dampak signifikan terhadap krisis air.

Penyemaian awan sendiri dikembangkan pada tahun 1940-an oleh para ilmuwan.

Penyemaian awan melibatkan penyebaran partikel yang mendorong tetesan air yang tersuspensi di awan untuk jatuh sebagai hujan.

Baca juga: Laporan WMO: Sumber Air Dunia Terancam, Kekeringan dan Banjir Kian Parah

Meskipun beberapa proyek telah menyemprotkan garam ke awan yang rendah, banyak yang berfokus pada penyebaran bahan kimia, yang paling umum adalah perak iodida, ke awan fase campuran yang lebih tinggi.

Tetesan air cair yang sangat dingin membeku saat bersentuhan dengan senyawa kristal ini, membentuk kristal es yang membesar dan jatuh sebagai salju atau hujan.

Namun, seringkali sulit untuk mengetahui berapa banyak hujan atau salju yang akan terjadi.

“Efeknya sangat sulit ditunjukkan karena variabilitas alami awan yang besar,” kata Andrea Flossmann dari Universitas Clermont Auvergne di Prancis.

Iran sendiri menyatakan telah menyemai awan pada 15 November di cekungan di sekitar Danau Urmia yang selama dua dekade telah mengering menjadi dataran garam.

Menurut peta curah hujan University of California, Irvine, wilayah di sebelah barat danau menerima curah hujan hingga 2,7 sentimeter keesokan paginya.

Namun, untuk penyemaian awan guna mengisi kembali waduk hasilnya masih dipertanyakan. Pasalnya, awan harus mengandung banyak air. Awan seperti itu mungkin sulit ditemukan di Iran yang gersang, di mana tidak banyak badan air besar untuk menguapkan uap air ke udara.

"Penyemaian awan seringkali jauh lebih sulit selama musim kemarau karena atmosfernya sangat kering, dan awan yang ada mungkin tidak memiliki kelembapan yang cukup," kata Karen Howard, seorang ilmuwan di Kantor Akuntabilitas Pemerintah AS.

Baca juga: Akhiri Krisis Air, Vinilon Group dan Solar Chapter Alirkan Air Bersih ke Desa Fafinesu NTT

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Menengok Si Toddler Panda Rio di Taman Safari Bogor, Tonggak Penting Konservasi Satwa Indonesia
Menengok Si Toddler Panda Rio di Taman Safari Bogor, Tonggak Penting Konservasi Satwa Indonesia
Swasta
Survei Deloitte: Gen Z-Milenial Tunda Menikah hingga Beli Rumah karena Finansial
Survei Deloitte: Gen Z-Milenial Tunda Menikah hingga Beli Rumah karena Finansial
LSM/Figur
Dunia Bisnis Belum Siap Hadapi Bahaya Deepfake dan Kecerdasan Buatan
Dunia Bisnis Belum Siap Hadapi Bahaya Deepfake dan Kecerdasan Buatan
Pemerintah
Warga Jakarta Dukung Program Pilah Sampah, tapi Fasilitas dan Sosialisasi Masih Minim
Warga Jakarta Dukung Program Pilah Sampah, tapi Fasilitas dan Sosialisasi Masih Minim
Pemerintah
Hutan Nabire Rusak akibat Tambang Ilegal, Kemenhut Buru Aktor Utama
Hutan Nabire Rusak akibat Tambang Ilegal, Kemenhut Buru Aktor Utama
Pemerintah
Jutaan Orang Hadapi Ancaman Kemiskinan akibat Krisis Energi dan Perdagangan
Jutaan Orang Hadapi Ancaman Kemiskinan akibat Krisis Energi dan Perdagangan
Pemerintah
Kreator Konten Mukbang Korsel Sumbang Rp 600 Juta untuk Rehabilitasi Mangrove di Jakarta
Kreator Konten Mukbang Korsel Sumbang Rp 600 Juta untuk Rehabilitasi Mangrove di Jakarta
LSM/Figur
Perangi Mikroplastik, Taiwan Perketat Pengawasan Darat hingga Laut
Perangi Mikroplastik, Taiwan Perketat Pengawasan Darat hingga Laut
Pemerintah
Tekan Emisi AI, Jepang Fokus Benahi Konsumsi Energi Pusat Data
Tekan Emisi AI, Jepang Fokus Benahi Konsumsi Energi Pusat Data
Pemerintah
Indonesia Dinilai Terlambat Beralih ke Energi Terbarukan
Indonesia Dinilai Terlambat Beralih ke Energi Terbarukan
LSM/Figur
Waspada, Hujan Masih Mengintai Indonesia di Masa Peralihan Musim
Waspada, Hujan Masih Mengintai Indonesia di Masa Peralihan Musim
Pemerintah
13 Perusahaan Global PHK Karyawan karena Kehadiran AI
13 Perusahaan Global PHK Karyawan karena Kehadiran AI
Swasta
Rumitnya Pemulung Urus Administrasi demi Akses Layanan Dasar
Rumitnya Pemulung Urus Administrasi demi Akses Layanan Dasar
LSM/Figur
Percepatan Penggunaan Avtur Berkelanjutan di Eropa Berisiko Bebani Industri
Percepatan Penggunaan Avtur Berkelanjutan di Eropa Berisiko Bebani Industri
Pemerintah
Permintaan Pasir Dunia Naik Drastis, PBB Peringatkan Dampak Lingkungan
Permintaan Pasir Dunia Naik Drastis, PBB Peringatkan Dampak Lingkungan
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau