Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Konsumsi Air Dunia Melonjak 25 Persen, Bank Dunia Ungkap Bumi Menuju Kekeringan

Kompas.com, 18 November 2025, 14:36 WIB
Monika Novena,
Yunanto Wiji Utomo

Tim Redaksi

Sumber PHYSORG

KOMPAS.com - Laporan Global Water Monitoring Report dari Bank Dunia mengungkap pasokan air dunia menurun dengan cepat.

Laporan global berjudul Continental Drying ini didapat setelah para peneliti menganalisis data terperinci yang belum pernah ada sebelumnya.

Para peneliti dari Universitas Twente memberikan kontribusi penting pada bagian yang mengungkapkan berapa banyak air yang kita gunakan, ke mana air tersebut mengalir, dan bagaimana kita dapat menggunakannya dengan lebih bijak.

Melansir Phys, Senin (17/11/2025), data baru ini pun memungkinkan para peneliti untuk mengidentifikasi area di mana air digunakan secara efisien dan di mana air tidak digunakan secara efisien.

Baca juga: BRIN Ciptakan Teknologi Ubah Air Kotor Jadi Layak Minum, Jawab Krisis Air di Daerah

Selain itu, laporan tersebut menekankan bahwa perdagangan global yang produknya intensif air memainkan peran sangat penting dalam turunnya pasokan air dunia.

Produk intensif air sendiri merupakan barang-barang yang membutuhkan sejumlah besar air dalam proses produksinya.

"Penggunaan air telah meningkat sebesar 25 persen dibandingkan dua puluh tahun yang lalu," kata Rick Hogeboom, profesor madya dan salah satu penulis laporan tersebut.

"Peningkatan ini terutama terlihat di daerah-daerah yang sebelumnya kekurangan air dan di mana pengeringan skala besar kini telah terukur," katanya lagi.

Dalam studi ini, peneliti memetakan konsumsi air global dalam resolusi sepuluh kali sepuluh kilometer. Pemantauan resolusi tinggi semacam ini belum pernah diterapkan pada skala global sebelumnya.

Penggunaan air yang berkelanjutan harus seimbang. Hogeboom menganalogikannya dengan rekening bank supaya mudah dipahami.

Baca juga: Di Balik Panja AMDK: Krisis Penyediaan Air Minum dan Isu Lingkungan yang Terabaikan

"Anda bisa menghemat air, tetapi jika terus menariknya lebih banyak daripada yang disetorkan, maka sumber daya air itu pada akhirnya akan kering. Sama seperti saldo rekening bank yang terus berkurang tanpa setoran," katanya.

Menurut para peneliti, sekitar 25 persen dari konsumsi air global mengalir ke ekonomi global.

Ambil contoh saja sweater katun yang dibuat di Pakistan tetapi dijual di negara lain.

"Memproduksinya membutuhkan banyak air, sementara kekurangan air di Pakistan sudah akut. Ini menunjukkan bahwa air bukan hanya sumber daya lokal tetapi juga sumber daya global. Oleh karena itu, solusi juga harus mempertimbangkan di mana kita memproduksi apa, dan apa yang kita impor dan ekspor," terang Hogeboom.

Lebih lanjut, laporan menunjukkan bahwa krisis air global dapat diselesaikan melalui perubahan praktis dalam pertanian. Penghematan satu per tiga di sektor ini akan menghasilkan jumlah air yang sangat besar.

Selain itu penggunaan lahan yang lebih cerdas, sistem irigasi modern serta manajemen yang lebih baik juga memungkinkan dalam penghematan air.

"Kita sekarang memiliki gambaran yang lebih jelas tentang di mana letak kesalahannya dan oleh karena itu kita tahu di mana dapat melakukan intervensi," papar Hogeboom.

Baca juga: Perkuat Ketahanan Lingkungan dan Ekonomi Warga, Bakti BCA Restorasi Mata Air dan Tanam 21.000 Pohon

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau