KOMPAS.com - Google merilis alat baru yang dirancang khusus untuk membantu manajer pabrik mengidentifikasi cara-cara terbaik untuk membuat operasi manufaktur mereka lebih hemat energi.
Menurut Google, alat Energy Assessment barunya ini bertujuan untuk mengatasi tantangan utama dalam mewujudkan penghematan biaya dan pengurangan emisi melalui efisiensi energi, termasuk tingginya biaya konsultan penilaian energi, kesulitan dalam mendapatkan modal untuk proyek efisiensi, dan kurangnya keahlian manajemen energi internal.
"Kami tahu efisiensi energi seharusnya menjadi salah satu hal yang bisa dilakukan untuk memangkas penggunaan dan biaya energi di seluruh rantai pasokan," ungkap Vrushali Gaud, Direktur Global di Google, yang bertanggung jawab atas Strategi & Operasional untuk Netzero, Water, dan Circularity.
Namun menurut Gaud, bagi banyak produsen kenyataannya berbeda karena mereka harus berhadapan dengan berbagai tantangan untuk melakukan efisiensi energi, seperti misalnya keahlian yang terbatas, tim yang kewalahan dan tidak cukup waktu untuk mengevaluasi berbagai pilihan.
“Kami melihat masalahnya. Jadi kami membangun solusinya,” terang Gaud.
Baca juga: IEA: Dunia Menjadi Lebih Hemat Energi, tetapi Belum Cukup Cepat
Menurut Google, seperti dikutip dari ESG Today, Kamis (20/11/2025) platform baru tersebut memungkinkan pengguna menganalisis puluhan peluang penghematan energi di berbagai sistem pabrik seperti kompresor udara, ketel, pendingin.
Tujuannya adalah untuk memberikan rekomendasi spesifik dan terperinci tentang proyek mana yang akan memberikan penghematan biaya dan pengurangan emisi karbon terbesar.
Platform ini juga memungkinkan pengguna untuk mengevaluasi banyak fasilitas pabrik untuk membandingkan hasilnya dan memprioritaskan investasi demi dampak terbesar, serta untuk berkolaborasi dengan tim dan pemasok hulu.
“Perjalanan menuju masa depan yang lebih berkelanjutan adalah perjalanan bersama. Dengan melengkapi mitra kami dengan sumber daya yang tepat, kami dapat mempercepat kemajuan, mengurangi biaya, dan membangun rantai pasok yang lebih tangguh dan berkelanjutan bagi semua orang,” ungkap Alan Deng, Manajer Keterlibatan Pemasok di Google.
Energy Assessment didanai oleh Google, dirancang, dibangun, dan dioperasikan oleh Together Creative, dengan metodologi perhitungan dan set data input yang dikembangkan oleh firma konsultan Jacobs dan Anew Consulting.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya