Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Ansar Ahmad
Pegiat Pendidikan

Tanoto Fellow

Revisi UU Sisdiknas, Jangan Sekadar Ganti Aturan

Kompas.com, 23 Juni 2026, 15:48 WIB

Artikel ini adalah kolom, seluruh isi dan opini merupakan pandangan pribadi penulis dan bukan cerminan sikap redaksi.

Anda bisa menjadi kolumnis !
Kriteria (salah satu): akademisi, pekerja profesional atau praktisi di bidangnya, pengamat atau pemerhati isu-isu strategis, ahli/pakar di bidang tertentu, budayawan/seniman, aktivis organisasi nonpemerintah, tokoh masyarakat, pekerja di institusi pemerintah maupun swasta, mahasiswa S2 dan S3. Cara daftar baca di sini

Tahun 2026 adalah tahun bersejarah bagi pendidikan Indonesia: anggaran pendidikan mencapai Rp 769,1 triliun, tertinggi sepanjang sejarah. Namun angka besar itu belum menjawab persoalan mendasar.

Sekitar 3,9 juta anak masih tidak bersekolah, sementara lebih dari satu juta guru hidup di bawah standar layak, 42 persen di antaranya berpenghasilan kurang dari Rp2 juta per bulan (IDEAS, 2024).

Kini, ada peluang nyata untuk mendorong perubahan mendasar. Setelah lebih dari dua dekade, pemerintah dan DPR tengah membahas Rancangan UU Sistem Pendidikan Nasional (RUU Sisdiknas) yang mengintegrasikan UU Sisdiknas, UU Guru dan Dosen, serta UU Pendidikan Tinggi.

Baca juga: Ekoteologi Didorong jadi Gerakan Pendidikan Nasional

Momentum ini terlalu berharga untuk dilewatkan. Ada tiga hal yang harus menjadi fondasi RUU ini: keselarasan dengan tujuan pendidikan yang sejati, adanya rencana jangka panjang yang terukur, dan ketepatan sasaran penggunaan anggaran.

Mengembangkan Manusia Secara Utuh

Pendidikan bukan soal mencari individu paling pintar. Tujuannya adalah “full development of human personality”, mengembangkan setiap individu menjadi versi terbaiknya, sebagaimana dijamin dalam Pasal 13 Kovenan Internasional tentang Hak-Hak Ekonomi, Sosial, dan Budaya yang telah diratifikasi Indonesia.

Riset peraih Nobel Ekonomi James Heckman menunjukkan bahwa usia 0–5 tahun adalah periode kritis yang membentuk fondasi kognitif dan karakter manusia, yang menjadi landasan bagi kesuksesan di sekolah, karier, dan kehidupan. Sehingga, investasi terbaik untuk mengembangkan manusia adalah investasi pada anak usia dini (Heckman, 2008).

Sayangnya, UU Sisdiknas yang ada saat ini menempatkan pendidikan anak usia dini sekadar sebagai “persiapan masuk SD”, bukan sebagai fondasi perkembangan manusia itu sendiri. RUU Sisdiknas harus mengubah ini, termasuk dengan mewujudkan wajib belajar 13 tahun yang mengintegrasikan satu tahun pra-SD.

Di atas fondasi itu, Indonesia perlu meningkatkan literasi dan numerasi secara serius. Bukan sekadar “calistung” (membaca, menulis, berhitung), melainkan kemampuan memahami makna, menilai informasi, dan memecahkan masalah kompleks.

Baca juga: Melawan Intoleransi lewat Jalan Pendidikan

Posisi Indonesia di peringkat 74 dari 79 negara dalam PISA (2018) dan catatan Bank Dunia bahwa 55 persen orang Indonesia mengalami buta huruf fungsional, adalah sinyal darurat.

RUU Sisdiknas perlu mengatur upaya terstruktur untuk meningkatkan kedua kemampuan dasar ini sebagai jantung dari tujuan pendidikan nasional.

Dari Perubahan ke Keberlanjutan

Dalam dua dekade terakhir, Indonesia telah berganti kurikulum seiring setiap pergantian kepemimpinan: KTSP, Kurikulum 2013, Kurikulum Merdeka, hingga pendekatan pembelajaran mendalam yang terbaru.

Perubahan ini lahir dari niat baik, tetapi tanpa rencana jangka panjang yang mengikat, setiap kebijakan baru berisiko sekadar mengganti, bukan memperbaiki.

Prinsip hak asasi manusia mengenal konsep “pemenuhan secara bertahap” (progressive realization): negara tidak harus membangun sistem pendidikan yang sempurna sekaligus, tetapi wajib menetapkan tahapan yang jelas, nyata, dan tepat sasaran menuju sistem ideal tersebut (CESCR General Comment No. 3, 1990).

RUU Sisdiknas adalah kesempatan untuk mengukuhkan rencana jangka panjang itu secara hukum, agar pembangunan pendidikan tidak berhenti atau berputar-putar setiap kali terjadi pergantian pemerintahan.

Anggaran Pendidikan: Dari Besar ke Tepat Sasaran

Anggaran pendidikan yang besar adalah kekuatan, bukan jaminan. Riset Global Education Evidence Advisory Panel (GEEAP, 2023) mengenai efektivitas biaya-manfaat berbagai intervensi pendidikan di seluruh dunia memberikan temuan yang mengejutkan.

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
BRIN: Alih Fungsi Lahan hingga Overtourism Jadi Ancaman Keanekaragaman Hayati di Jawa
BRIN: Alih Fungsi Lahan hingga Overtourism Jadi Ancaman Keanekaragaman Hayati di Jawa
Pemerintah
Ketrampilan Apa yang Diperlukan Anak Muda di Dunia Kerja?
Ketrampilan Apa yang Diperlukan Anak Muda di Dunia Kerja?
Pemerintah
Tren Aspal Halaman Depan Rumah di Eropa Perparah Dampak Cuaca Panas
Tren Aspal Halaman Depan Rumah di Eropa Perparah Dampak Cuaca Panas
LSM/Figur
Asia-Pasifik Butuh Aksi Bersama Hadapi Krisis Air
Asia-Pasifik Butuh Aksi Bersama Hadapi Krisis Air
Pemerintah
Manisnya Gula Aren di Kaki Gede-Pangrango, yang Lahir dari Tradisi Memahami Karakter Pohon
Manisnya Gula Aren di Kaki Gede-Pangrango, yang Lahir dari Tradisi Memahami Karakter Pohon
LSM/Figur
Weda Bay Nickel Reklamasi 223 Hektare Lahan Pascatambang
Weda Bay Nickel Reklamasi 223 Hektare Lahan Pascatambang
Swasta
PBB Rilis Panduan Resmi Pengembangan Ekonomi Biru Berkelanjutan
PBB Rilis Panduan Resmi Pengembangan Ekonomi Biru Berkelanjutan
Pemerintah
Aturan Emisi Diperketat, Truk Berat di Korsel Wajib Pangkas Polusi
Aturan Emisi Diperketat, Truk Berat di Korsel Wajib Pangkas Polusi
Pemerintah
Daito Class Batch 2 Resmi Dibuka, Unsika dan Mitra Jepang Siapkan Talenta Indonesia Berkarier di Industri Konstruksi Global
Daito Class Batch 2 Resmi Dibuka, Unsika dan Mitra Jepang Siapkan Talenta Indonesia Berkarier di Industri Konstruksi Global
Swasta
Smart-Go, Bank Sampah Digital yang Tumbuh dari Sekolah dan Menjangkau Masyarakat
Smart-Go, Bank Sampah Digital yang Tumbuh dari Sekolah dan Menjangkau Masyarakat
Swasta
Peneliti Kembangkan Cara Ubah Sampah Plastik Campuran Jadi Hidrogen Bersih
Peneliti Kembangkan Cara Ubah Sampah Plastik Campuran Jadi Hidrogen Bersih
LSM/Figur
Perdagangan Karbon Berpotensi Jadi Klaster Kejahatan Baru Sektor Kehutanan
Perdagangan Karbon Berpotensi Jadi Klaster Kejahatan Baru Sektor Kehutanan
LSM/Figur
Sebanyak 41,5 Juta Hektar Tutupan Hutan Berisiko Mengalami Deforestasi
Sebanyak 41,5 Juta Hektar Tutupan Hutan Berisiko Mengalami Deforestasi
LSM/Figur
Studi Ungkap Mikroplastik Cemari Laut Dalam, Capai Kedalaman 2.000 Meter
Studi Ungkap Mikroplastik Cemari Laut Dalam, Capai Kedalaman 2.000 Meter
Pemerintah
Benarkah 'Remote Working' Bisa Kurangi Emisi Karbon?
Benarkah "Remote Working" Bisa Kurangi Emisi Karbon?
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau