KOMPAS.com - Plastik menjadi ancaman mematikan bagi kehidupan laut. Bahkan sejumlah kecil plastik yang berukuran 12 hingga 15 gram saja dapat membunuh burung laut.
Perkiraan tersebut berasal dari analisis baru yang menggabungkan lebih dari 10.000 autopsi hewan untuk memastikan hubungan langsung antara plastik yang tertelan dan kematian satwa liar.
Penelitian ini dipimpin oleh Erin Murphy, seorang ahli ekologi kelautan di Ocean Conservancy (OC) yang mengkhususkan diri dalam bagaimana plastik membahayakan satwa liar.
Studi tersebut berfokus pada makroplastik seperti balon, botol, dan alat tangkap ikan. Hewan sering salah mengira benda-benda ini sebagai mangsa atau menelannya bersama makanan.
Melansir Earth, Sabtu (22/11/2025) untuk setiap bangkai, para peneliti melakukan nekropsi, pemeriksaan internal hewan yang mati yang menunjukkan adanya luka dan benda asing.
Baca juga: Industri Pelayaran Komitmen Atasi Krisis Polusi Plastik di Lautan
Tim tersebut dengan hati-hati membuka sistem pencernaan, menghitung setiap potongan plastik, dan mencatat di mana tepi tajam, belitan, atau penyumbatan sejajar dengan jaringan yang rusak.
Di semua spesies, sekitar satu dari lima hewan memiliki plastik di sistem pencernaannya pada saat kematian.
Sampel mencakup 57 spesies burung laut, ketujuh spesies penyu laut, dan 31 spesies mamalia laut, mulai dari lumba-lumba kecil hingga paus besar.
Persentase plastik tertinggi ditemukan pada penyu laut, diikuti oleh burung laut, dan terendah pada mamalia laut, menunjukkan bahwa paparannya tidak merata.
Cedera biasanya terjadi di saluran pencernaan. Benda-benda besar dapat menyumbat lengkungan sempit, menusuk jaringan halus, atau memelintir bagian usus sedemikian rupa sehingga aliran darah dan pencernaan terhenti.
Di luar studi ini, para ilmuwan telah mencatat konsumsi plastik pada hampir 1.300 spesies laut, termasuk setiap famili burung laut dan mamalia laut, serta semua penyu laut.
Pola bahaya yang konsisten ini menunjukkan bahwa plastik merupakan pemicu stres lingkungan yang luas, alih-alih masalah yang terbatas pada beberapa spesies.
Tim tersebut melihat bahwa tidak semua plastik sama berbahayanya begitu mereka mencapai usus hewan. Pola dalam data menunjukkan bahwa setiap kelompok hewan menghadapi risiko dari jenis plastik berbeda.
Untuk burung laut, hanya enam potong karet yang masing-masing lebih kecil dari kacang polong sudah cukup untuk memberikan peluang kematian sekitar 90 persen.
Sementara penyu laut dewasa berada dalam risiko kematian yang hampir pasti (90 persen) jika mereka menelan beberapa ratus potongan plastik tipis mirip kantong.
Baca juga: Ancaman Abadi Sampah Plastik, Bertahan di Permukaan Laut Lebih dari 100 Tahun
Di antara mamalia laut, tali pancing, jaring, dan tali tambang sangat berbahaya. Dalam model tersebut, menelan kurang dari tiga puluh potong puing semacam ini sudah cukup untuk membuat paus besar sekalipun berisiko tinggi mati.
Hampir separuh dari hewan yang telah memakan plastik merupakan spesies yang masuk daftar IUCN Red List , dengan risiko kepunahan yang tinggi sehingga makin mendekatkan mereka menuju kepunahan.
Menurut Chelsea Rochman, seorang ahli ekologi di University of Toronto (UT), penelitian ini memberikan landasan penting bagi para pengambil keputusan untuk memahami ambang batas risiko.
Rochman dan banyak pihak lainnya berpendapat bahwa menetapkan batasan yang jelas terhadap produksi dan limbah plastik adalah langkah selanjutnya jika temuan ini ditanggapi dengan serius.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya