Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Ahli Sebut Pemotongan Dana Ancam Kesehatan Reproduksi Global

Kompas.com, 24 November 2025, 20:00 WIB
Monika Novena,
Yunanto Wiji Utomo

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Kemajuan dalam penggunaan kontrasepsi modern berada di bawah ancaman serius.

Meskipun ada hasil yang baik, pemotongan bantuan internasional dapat membalikkan kemajuan ini dan secara langsung mengurangi akses terhadap kontrasepsi bagi jutaan perempuan di negara-negara miskin.

Laporan dari Family Planning 2030 menunjukkan kemajuan yang telah diraih dengan susah payah selama satu dekade dalam kesehatan reproduksi dapat hancur setelah Amerika Serikat, yang pernah menanggung 41 persen anggaran keluarga berencana global, sebagian besar menghentikan pendanaannya.

“Kita berada di ambang kemajuan dan kemunduran,” ujar Samukeliso Dube, direktur eksekutif FP2030, dalam konferensi pers di Konferensi Internasional tentang Keluarga Berencana (ICFP) di ibu kota Kolombia, Bogota.

Dube mengatakan lebih dari 80 persen dana pemerintah untuk keluarga berencana berasal dari negara-negara yang telah mengumumkan atau mengusulkan pemotongan signifikan terhadap anggaran bantuan internasional mereka.

Baca juga: MBG: Janji Kesehatan Anak Bangsa yang Terancam oleh Buruknya Tata Kelola

Selain Amerika Serikat, negara-negara tersebut termasuk Belanda, Inggris, Jerman, dan Swedia.

Sekitar 101 juta orang lebih banyak dari negara-negara berpenghasilan rendah dan menengah ke bawah dapat mengakses alat kontrasepsi modern, termasuk implan dan suntik dibandingkan tahun 2012, menurut laporan FP2030.

Laporan tersebut juga menyatakan bahwa hampir 400 juta dari 1,1 miliar perempuan usia reproduksi di negara-negara tersebut menggunakan alat kontrasepsi.

FP2030 menyatakan pula bahwa penggunaan alat kontrasepsi modern pada tahun 2024 saja telah mencegah 148 juta kehamilan yang tidak diinginkan, 30 juta aborsi yang tidak aman, dan 128.000 kematian ibu di seluruh dunia.

Namun, pemotongan dana AS dan negara penyandang lain, telah membuat kelompok-kelompok kesehatan seksual dan reproduksi harus mencari sumber dana baru.

Kelompok riset dan kebijakan yang berbasis di AS, Guttmacher Institute menyebutkan diperlukan 104 miliar dolar AS setiap tahunnya, atau hampir dua kali lipat jumlah yang saat ini dibelanjakan, untuk memenuhi semua kebutuhan kesehatan seksual dan reproduksi di negara-negara berpenghasilan rendah dan menengah.

"Untuk mengisi kesenjangan pendanaan dalam kesehatan dan hak seksual dan reproduksi perlu menjadi tanggung jawab bersama antara pemerintah nasional, pemerintah donor, lembaga filantropi, dan sektor swasta," kata Dr. Elizabeth Sully, direktur riset internasional Guttmacher Institute.

Melansir Eco Business, Senin (24/11/2025) beberapa pakar mengatakan bahwa menyusutnya donasi bantuan menunjukkan kerentanan sistem kesehatan yang bergantung pada donor dan perlunya pendanaan alternatif dan domestik.

Baca juga: Ketergantungan pada Energi Fosil Tingkatkan Risiko dan Biaya Kesehatan di RI

Di kawasan Asia-Pasifik, yang merupakan rumah bagi populasi perempuan usia subur terbesar dan jumlah pengguna kontrasepsi terbesar di dunia, FP2030 menyatakan bahwa pemotongan dana USAID telah menghantam program kesehatan remaja dan pemuda.

Di ICFP, para ahli dari lebih dari 800 organisasi dari sekitar 120 negara pun mencari solusi lokal untuk mengatasi kekurangan pendanaan global dan perubahan iklim politik seputar kesehatan dan hak reproduksi seksual.

Dr. Anu Kumar, kepala Ipas, organisasi internasional yang berfokus pada kesehatan reproduksi dan hak asasi manusia yang berfokus pada akses terhadap kontrasepsi dan aborsi mengatakan pemotongan dana asing telah memicu diskusi tentang bagaimana negara dan organisasi dapat membangun layanan kesehatan berkelanjutan dan mendorong pemerintah untuk memikirkan kembali prioritas anggaran.

"Saya pikir ini akan membutuhkan cara berpikir baru tentang cara membangun kembali arsitektur kesehatan global," ujarnya.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Menanti 100 Tahun Pulihnya Populasi Hiu Paus, Ikan Terbesar Penghuni Nusantara
Menanti 100 Tahun Pulihnya Populasi Hiu Paus, Ikan Terbesar Penghuni Nusantara
Swasta
Belajar Mendengar Tanpa Telinga dari Segelas Kopi
Belajar Mendengar Tanpa Telinga dari Segelas Kopi
Swasta
Respons Laporan ESDM soal Capaian Bauran EBT, IESR: Hanya Bertambah 1,3 GW
Respons Laporan ESDM soal Capaian Bauran EBT, IESR: Hanya Bertambah 1,3 GW
LSM/Figur
Studi: Mayoritas Percaya Perubahan Iklim Hanya Berdampak pada Orang Lain
Studi: Mayoritas Percaya Perubahan Iklim Hanya Berdampak pada Orang Lain
Pemerintah
Studi Temukan Posisi Knalpot Pengaruhi Jumlah Polusi Udara yang Kita Hirup
Studi Temukan Posisi Knalpot Pengaruhi Jumlah Polusi Udara yang Kita Hirup
Pemerintah
Bauran EBT Sektor Listrik Lampaui Target, Kapasitasnya Bertambah 15.630 MW
Bauran EBT Sektor Listrik Lampaui Target, Kapasitasnya Bertambah 15.630 MW
Pemerintah
Kemenhut Bersihkan 1.272 Meter Gelondongan Kayu Pasca Banjir Sumatera
Kemenhut Bersihkan 1.272 Meter Gelondongan Kayu Pasca Banjir Sumatera
Pemerintah
AS Bidik Minyak Venezuela, Importir Terbesar Justru Fokus Transisi Energi
AS Bidik Minyak Venezuela, Importir Terbesar Justru Fokus Transisi Energi
Pemerintah
Kawasan Keanekaragaman Hayati Dunia Terancam, 85 Persen Vegetasi Asli Hilang
Kawasan Keanekaragaman Hayati Dunia Terancam, 85 Persen Vegetasi Asli Hilang
LSM/Figur
Hiper-Regulasi dan Lemahnya Riset Hambat Pengembangan Energi di Indonesia
Hiper-Regulasi dan Lemahnya Riset Hambat Pengembangan Energi di Indonesia
Pemerintah
B50 Dinilai Punya Risiko Ekonomi, IESR Soroti Beban Subsidi
B50 Dinilai Punya Risiko Ekonomi, IESR Soroti Beban Subsidi
LSM/Figur
Studi Ungkap Dampak Pemanasan Global pada Pohon, Tumbuh Lebih Lambat
Studi Ungkap Dampak Pemanasan Global pada Pohon, Tumbuh Lebih Lambat
LSM/Figur
AS Keluar dari UNFCCC, RI Perlu Cari Alternatif Pembiayaan Transisi Energi
AS Keluar dari UNFCCC, RI Perlu Cari Alternatif Pembiayaan Transisi Energi
LSM/Figur
BMKG Prediksi Hujan Lebat Landa Sejumlah Wilayah Sepekan ke Depan
BMKG Prediksi Hujan Lebat Landa Sejumlah Wilayah Sepekan ke Depan
Pemerintah
AS Keluar dari 66 Organisasi Internasional, Pakar Sebut Indonesia Cari Alternatif Dana Transisi Energi
AS Keluar dari 66 Organisasi Internasional, Pakar Sebut Indonesia Cari Alternatif Dana Transisi Energi
LSM/Figur
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp 5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau