Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Upaya Restorasi TN Tesso Nilo 31.000 Hektar, Cukupkah untuk Gajah?

Kompas.com, 1 Desember 2025, 09:32 WIB
Ni Nyoman Wira Widyanti

Penulis

KOMPAS.com - Menteri Kehutanan (Menhut) Raja Juli Antoni menyampaikan, pemulihan habitat di Taman Nasional Tesso Nilo di Kabupaten Pelalawan, Riau, ini akan terus berjalan.

Pada tahap awal, restorasi ditetapkan di area seluas 31.000 hektar, yang nantinya meluas menjadi 80.000 hektar, guna menjaga kehidupan satwa liar, termasuk gajah sumatera (Elephas maximus sumatranus).

Baca juga:

"Proses restorasi Taman Nasional Tesso Nilo terus dilakukan. Kita terus bekerja untuk memastikan Domang dan kawan-kawan rumahnya tidak diganggu dan mereka bisa hidup di alam bebas," kata Menhut Raja Juli, dilansir dari Antara, Senin (1/12/2025).

Adapun Domang adalah gajah kecil di Taman Nasional Tesso Nilo yang menjadi viral di media sosial beberapa waktu lalu. 

"Insyaallah sesegera mungkin sudah dimulai, Pak Wamen (Wakil Menteri Kehutanan Rohmat Marzuki) kemarin sudah tiga minggu yang lalu sudah memulai proses restorasi kawasan Tesso Nilo, rencananya 511 hektar. Kemarin saya juga Insyaallah sudah ada komitmen tujuh ribuan lagi yang akan ditanam," tutur Menhut Raja Juli.

"Insyaallah di 31.000 ini dulu nih yang kita restorasi jadi fokus utama, nanti pelan-pelan bisa ke 80.000-an taman nasional seperti yang ada di SK (Surat Keputusan) terakhir," tambah dia.

Namun, apakah luas area tersebut cukup untuk gajah agar bisa hidup aman dan nyaman?

Baca juga:

Taman Nasional Tesso Nilo menyempit

Anak gajah sumatera, Lela saat bersama induknya, Puja, di PLG Sebanga, Kabupaten Bengkalis, Riau, pada Juli 2025 lalu.KOMPAS.COM/IDON Anak gajah sumatera, Lela saat bersama induknya, Puja, di PLG Sebanga, Kabupaten Bengkalis, Riau, pada Juli 2025 lalu.

Sebagai informasi, dilaporkan oleh Kompas.com, Selasa (1/7/2025), laporan Satgas Penertiban Kawasan Hutan mencatat, luas kawasan hutan Taman Nasional Tesso Nilo mengalami penyempitan.

Pada tahun 2014, luasnya mencapai 81.793 hektar. Namun, saat ini hanya tersisa sekitar 12.561 hektar atau 15 persen saja. 

Hal tersebut menunjukkan, sekitar 69.000 hektar hutan di kawasan tersebut sudah hilang, serta 40.000 hektar di antaranya berubah menjadi perkebunan kelapa sawit. 

Sementara itu, populasi gajah liar yang tersisa di Taman Nasional Tesso Nilo sekitar 150 ekor, dilaporkan oleh Kompas.com, Selasa (25/11/2025).

Meskipun disebut tidak drastis, populasi gajah tetap mengalami penurunan dari tahun 2004 yang berjumlah sekitar 200 ekor.

Terdapat dua kantong gajah sumatera di Taman Nasional Tesso Nilo, tepatnya Tesso Utara yang menjadi lokasi satu kelompok gajah berjumlah sekitar 30 ekor, dan Tesso Tenggara yang menjadi lokasi total 120 ekor gajah yang terbagi dalam tiga sampai empat kelompok.

Penurunan populasi gajah ini, salah satunya disebabkan oleh alih fungsi hutan menjadi perkebunan.

Bicara tentang gajah, terdapat istilah home range atau wilayah jelajah gajah. Luasnya berbeda-beda tergantung kondisi lingkungan di mana satwa tersebut berada, termasuk dari segi ketersediaan air dan pakan. 

Sebagai perkiraan kasar, home range kawanan gajah asia sekitar 100 sampai 1.000 kilometer persegi (sekitar 10.000 sampai 100.000 hektar), menurut studi tentang konflik manusia-gajah (human-elephant conflicts atau HET), dilansir dari PeerJ. 

Home range ini penting untuk gajah, tidak hanya sebagai area mencari makan dan air, tapi juga untuk berinteraksi, mencari pasangan, dan beristirahat. 

Restorasi Taman Nasional Tesso Nilo pada tahap awal sekitar 31.000 hektar memang penting, tapi kemungkinan masih perlu diperluas lagi dan diperlukan riset lebih dalam lagi untuk memastikan keberlanjutan populasi gajah dalam jangka panjang.

Baca juga:

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
'Hutan Bukan Mainan': Menanam Harapan Lintas Generasi di Sedekah Hutan 2026
'Hutan Bukan Mainan': Menanam Harapan Lintas Generasi di Sedekah Hutan 2026
LSM/Figur
Hari Gajah Sedunia 2026: Hilangnya Hutan Jadi Ancaman Terbesar Gajah Sumatra
Hari Gajah Sedunia 2026: Hilangnya Hutan Jadi Ancaman Terbesar Gajah Sumatra
LSM/Figur
Karbon, Hutan Adat, dan Keadilan Tertunda
Karbon, Hutan Adat, dan Keadilan Tertunda
Pemerintah
Berdayakan 50.000 Warga, Armawati Ubah Sampah Jadi Peluang Ekonomi
Berdayakan 50.000 Warga, Armawati Ubah Sampah Jadi Peluang Ekonomi
Swasta
Reformasi Subsidi Energi, Jalan Menuju Perlindungan yang Lebih Adil
Reformasi Subsidi Energi, Jalan Menuju Perlindungan yang Lebih Adil
LSM/Figur
Dampak Kekeringan, Perancis Batasi Pemakaian Air di 70 Persen Wilayahnya
Dampak Kekeringan, Perancis Batasi Pemakaian Air di 70 Persen Wilayahnya
Pemerintah
Integrasi Keberlanjutan, Praktik Baik Bangunan Hijau Sektor FMCG dan Farmasi
Integrasi Keberlanjutan, Praktik Baik Bangunan Hijau Sektor FMCG dan Farmasi
Swasta
Kisah Nurdini Prihastiti Membuka Ruang Berkarya bagi Penyandang Disabilitas
Kisah Nurdini Prihastiti Membuka Ruang Berkarya bagi Penyandang Disabilitas
LSM/Figur
Coca-Cola Sediakan Drop Box Botol PET di 20 Gerai M Mart
Coca-Cola Sediakan Drop Box Botol PET di 20 Gerai M Mart
Swasta
WHO Rilis Kerangka Kerja Keberlanjutan untuk Dekarbonisasi Sektor Farmasi
WHO Rilis Kerangka Kerja Keberlanjutan untuk Dekarbonisasi Sektor Farmasi
Pemerintah
Pemuda Desa Sumbersari Ubah Sampah Pasar Menjadi Kompos Bernilai Ekonomi
Pemuda Desa Sumbersari Ubah Sampah Pasar Menjadi Kompos Bernilai Ekonomi
LSM/Figur
Kemenhut Petakan 6,28 Juta Hektare Perhutanan Sosial untuk Perdagangan Karbon
Kemenhut Petakan 6,28 Juta Hektare Perhutanan Sosial untuk Perdagangan Karbon
Pemerintah
Teknologi Fermentasi ITB Pangkas Waktu Pengolahan Kakao dari 14 Hari Jadi 2 Hari
Teknologi Fermentasi ITB Pangkas Waktu Pengolahan Kakao dari 14 Hari Jadi 2 Hari
LSM/Figur
875 Bibit Ditanam Serentak di Kawasan Konservasi NTT, Ada Mangrove hingga Nangka
875 Bibit Ditanam Serentak di Kawasan Konservasi NTT, Ada Mangrove hingga Nangka
Pemerintah
Perusahaan Dinilai Belum Maksimal Siapkan Pekerja Hadapi Disrupsi AI
Perusahaan Dinilai Belum Maksimal Siapkan Pekerja Hadapi Disrupsi AI
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau